Pemerintah Indonesia melakukan ekspor perdana beras premium sebanyak 2.280 ton atau senilai Rp 38 miliar ke Arab Saudi. Ekspor itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 215 ribu jemaah haji Indonesia. Ke depan, potensi pasar diperkirakan terus meningkat, mencakup jemaah umrah dan warga Indonesia di Arab Saudi (mukimin) yang jumlahnya mencapai sekitar 2 juta orang per tahun.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian ini menjadi bukti kekuatan produksi dan stok beras nasional.
“Ini adalah ekspor perdana ke Saudi Arabia. Ini momentum yang baik karena produksi kita meningkat. Ini yang kita ekspor. Kita juga sudah menjajaki beberapa negara seperti Saudi Arabia, Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina,” ujar Amran
Selain ekspor, pemerintah juga menunjukkan komitmen kemanusiaan melalui penyaluran bantuan beras ke Palestina.
“Atas arahan Bapak Presiden Republik Indonesia, beliau memberikan perintah pada kami untuk memberi bantuan pada saudara kita di Palestina 10.000 ton beras,” ungkap Amran.
Dari sisi produksi, kinerja nasional menunjukkan tren positif. Produksi beras nasional pada 2025 meningkat sebesar 4,07 juta ton atau 13,29 persen, didukung oleh peningkatan luas panen dan berbagai kebijakan penguatan sektor pertanian.
Amran mengungkapkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga April 2026 mencapai sekitar 4,7 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah, dan terus bergerak menuju 5 juta ton. Capaian ini menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.
“Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh lagi bergantung pada sumber dari luar negeri. Dalam krisis global, tidak ada negara yang akan rela melepas pangannya ke luar negeri. Ini adalah hukum sejarah," kata Amran.
Ketahanan pangan nasional tidak hanya ditopang oleh stok pemerintah, tetapi juga oleh ketersediaan beras di masyarakat dan potensi produksi yang masih akan berlangsung hingga akhir tahun. Di pasar domestik dan sektor HoReCa (Hotel, Restoran, dan Katering), ketersediaan beras tercatat mencapai 12 juta ton.
Selain itu, kata Amran, potensi standing crop diproyeksikan terus memberikan kontribusi produksi hingga akhir tahun. Kombinasi tersebut memastikan pasokan nasional tetap aman dan mencukupi kebutuhan hingga 11 bulan kedepan.
Kondisi ini turut tercermin dari meningkatnya kesejahteraan petani, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,35, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Sementara itu, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Amran menekankan dengan produksi yang melampaui kebutuhan domestik bulanan yang berada pada kisaran 2,5 sampai 2,6 juta ton, Indonesia memiliki ruang untuk memperluas ekspor sekaligus berkontribusi dalam misi kemanusiaan internasional secara berkelanjutan.





