jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB Perkeni), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM menegaskan pencegahan diabetes di Indonesia harus dimulai sejak dini melalui pembangunan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko.
Langkah krusial yang perlu diambil yakni melakukan skrining rutin guna mendeteksi kondisi kesehatan sejak awal sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat.
BACA JUGA: Peringati Hari Diabetes Nasional, dr. Kelvin Candiago Perkenalkan Protokol 3R
"Dengan intervensi yang tepat, risiko komplikasi dapat diminimalkan secara signifikan," ujar Yunir di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Yunir juga menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara pemerintah, industri kesehatan, akademisi, tenaga kesehatan, hingga masyarakat luas..
BACA JUGA: Kasus Diabetes Naik, Pembiayaan BPJS Gagal Ginjal Melonjak Lebih dari 400%
"Edukasi berkelanjutan akan menjadi fondasi utama dalam pengendalian diabetes di Indonesia,” imbuhnya.
Tantangan ini menjadi semakin mendesak mengingat Indonesia kini menempati posisi kelima dunia dengan jumlah penyandang diabetes mencapai 20,4 juta orang pada tahun 2024.
BACA JUGA: 5 Manfaat Daun Sirih, Bantu Kontrol Diabetes
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi diabetes berada di angka 10,9 persen, namun hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan kenaikan prevalensi menjadi 11,7 persen pada penduduk usia di atas 15 tahun.
Angka prevalensi terbaru tersebut mengindikasikan terdapat sekitar 30 juta penderita diabetes di Indonesia.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan kondisi miris, karena baru sekitar 10 hingga 15 juta pasien yang telah terdiagnosis secara medis.
Tren ini diperburuk pergeseran usia penderita, di mana diabetes mulai menyerang kelompok usia produktif hingga anak-anak akibat perubahan gaya hidup dan pola makan yang tidak seimbang.
Merespons kondisi tersebut, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) menyatakan komitmennya untuk mendukung penanganan diabetes melalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulialie meyakini solusi menyeluruh tidak boleh hanya berfokus pada terapi pengobatan, tetapi juga harus menyentuh aspek edukasi dan pencegahan sebagai pilar utama.
Langkah strategis Kalbe ini juga diselaraskan dengan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit tidak menular.
Melalui visi ini, Kalbe berupaya membangun ekosistem kesehatan yang kuat untuk menjawab beban penyakit kronis yang terus meningkat di tengah masyarakat Indonesia.
"Penanganan diabetes tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat. Untuk itu, Kami terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” kata Mulialie.
Salah satu wujud nyata dukungan tersebut dilakukan melalui program Kalbe Diabetes Total Solution.
Program ini dirancang sebagai pendekatan hulu ke hilir, mencakup pencegahan, deteksi dini melalui skrining, penyediaan terapi dan nutrisi, hingga edukasi berkelanjutan yang saling terhubung dalam satu ekosistem kesehatan.
Melalui penerapan solusi total ini, Mulialie optimis pihaknya dapat memberikan kontribusi nyata dalam menekan angka prevalensi dan meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes secara nasional.
"Kami percaya bahwa pendekatan yang terintegrasi ini akan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat,“ ujar Mulialie. (mcr31/jpnn)
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah




