Perayaan selesai, tak ada yang tersisa selain sepi dan nama kami yang pelan-pelan dilupakan, seperti lakon punakawan yang kembali ke bilik belakang setelah wayang diturunkan dari kelir.
Rompi Juru Pantau itu masih tergantung di balik pintu gubuk yang masih saya sewa sejak laga penentuan nakhoda kepemimpinan di negeri Antarupa dimulai. Warnanya sudah mulai luntur, benang-benang jahitannya mengendur di bagian bahu, dan bekas keringat yang mengering membentuk peta samar di bagian punggung.
Kadang saya berlama-lama memandanginya, seperti melihat artefak dari perang yang tak pernah diakui. Rompi itu dulu terasa berat, karena setiap kali memakainya, saya merasa sedang mengenakan baju zirah yang ditenun dari curiga dan ribuan pasang mata yang menuntut.
Dulu, tiga bulan sebelum hari pencoblosan, warung kopi di sudut pasar Kademangan Swarna ini selalu riuh oleh bisik-bisik yang mendadak putus begitu kaki saya melangkah masuk. "Sang Juru Pantau datang," mereka berdesis. Meja-meja membeku. Saya memesan kopi hitam tanpa gula, dan mata mereka mengikuti gerakan saya, seperti Semar yang mendadak muncul di tengah pesta para Kurawa: dihormati, tapi tidak diinginkan kehadirannya.
Sekarang? Saya duduk di warung yang sama, dan tak seorang pun menoleh. Kopi saya masih hitam, tanpa pemanis, tapi rasanya lebih getir dari biasanya. Mungkin karena kali ini saya meminumnya bukan sebagai pengawas yang ditakuti, melainkan sebagai tontonan yang sudah kedaluwarsa.
Yang Tak Tertulis dalam Surat TugasNama saya Arga, Juru Pantau Pemilihan (Jupamil) tingkat Kademangan. Singkatan yang terdengar gagah di koran ibu kota, tapi di keriuhan akar rumput, singkatan itu hanyalah nama lain dari kesunyian: menjadi orang yang jam tidurnya berkurang, tidak memihak, dan tidak punya teman.
Surat tugas kami tebal, lengkap dengan stempel basah dari Dewan Pantau Pemilu Agung di pusat. Namun, ada satu hal yang tak pernah tertulis di sana: bahwa menjadi pengawas adalah menjadi tokoh dalam lakon yang tak dirancang untuk menang. Ia seperti Bisma di atas ranjang panah; dihormati oleh kedua pihak yang bertikai, tetapi tak satu pun yang benar-benar menginginkannya tetap hidup dan bicara.
Tugas saya sederhana secara teori: menjaga netralitas dan mencegah suap. Dalam praktiknya? Saya adalah orang yang harus berdiri di antara ambisi calon Adipati dan rakyat yang perutnya keroncongan. Saya harus berkata, "Maaf, ini pelanggaran," sementara di belakang saya, anggota Mandala Agung justru sedang bersantap malam dengan para perancang kemenangan di perjamuan mewah.
Saya ingat satu malam, seminggu sebelum hari pemilihan. Seorang Panitera Pemilihan di Kademangan—jabatan yang mengurusi penghitungan suara—menelepon dengan suara parau "Kang Arga, tolonglah, jangan terlalu kaku. Petinggi sudah memberi lampu hijau untuk Calon A."
"Petinggi siapa?" tanya saya. Ia tak menjawab. Hanya ada helaan napas panjang, sesunyi suara wayang yang patah di tangan dalang yang mabuk.
Bayang-Bayang di Balik LayarKonflik sebenarnya tidak terjadi di Balai Pemungutan Suara atau di gudang logistik. Ia terjadi di dalam kepala saya, setiap kali saya melihat rompi berdebu itu.
"Apakah kejujuran ini ada harganya?"
Pertanyaan itu muncul saat saya melihat Kang Darman, tim sukses paling vokal, membagikan paket di gang sempit. Itu bukan pelanggaran teknis, dalihnya. Itu "bantuan kemanusiaan." Tak ada gambar calon, hanya beras, minyak, dan secarik kertas: Dari Calon yang Peduli.
Saya tahu itu suap yang bersalin rupa. Namun saat saya mendekat, warga di gang itu menatap saya dengan pandangan yang menusuk: “Kamu mau menyita beras ini dari kami?”
Malam itu saya tak bisa tidur. Bayangan ibu-ibu yang memeluk karung beras seperti memeluk harapan terus menghantui. Mereka tidak peduli dari mana asal nasi itu; mereka hanya peduli besok ada yang bisa dimakan. Dan saya? Saya merasa seperti Gatotkaca yang kehilangan kesaktian karena tali pusarnya sendiri terikat oleh realitas yang pahit.
Di Balairung KekuasaanDua bulan setelah pelantikan Adipati baru, saya berdiri di depan balai pemerintahan yang megah. Pilar-pilarnya menjulang tinggi, catnya mengilap, dan potret Sang Adipati tersenyum lebar di pintu masuk. Saya datang bukan untuk mengawasi, melainkan sebagai pemohon.
Di tas rajut saya, terselip tumpukan surat permohonan kerja. Orang-orang yang dulu meminta saya "melonggarkan pengawasan" kini punya kedudukan: asisten khusus, pengurus program kemakmuran, hingga dewan pengawas tambang. Sementara saya? Saya masih memakai sepatu usang yang sama saat berkeliling memantau gerak mereka dari titik kampanye satu ke titik kampanye lainnya.
Di ruang tunggu, saya bertemu Kang Darman. Ia mengenakan seragam resmi dengan pin berkilau. Dulu, ia menunduk saat saya datang. Sekarang? Saya yang harus melempar senyum lebih dulu.
"Arga! Apa kabar?" suaranya renyah penuh kemenangan. "Syukurlah, kerja kita dulu dihargai Sang Adipati."
Kerja kita. Kata itu menghantam ulu hati saya. Apa yang ia kerjakan selain menebar amplop di kegelapan malam? Sementara saya menghabiskan energi menulis laporan pelanggaran yang hanya berakhir menjadi pembungkus gorengan di meja birokrasi.
"Ada perlu apa, Arga?" tanya Kang Darman, kini dengan nada otoritas yang dulu tak ia miliki.
Saya membuka mulut, tapi yang keluar hanya hening. Surat di tas saya terasa seberat gunung. Bagaimana mungkin saya mengubah rompi pengawas menjadi amplop lamaran? Dulu saya mencatat dosa-dosa mereka; sekarang saya harus memohon pada mereka.
Di Bawah Pohon BeringinSaya tidak jadi menyerahkan surat itu.
Pulang, melepas sepatu, dan kembali menatap rompi yang tergantung. Di luar, hujan turun seperti simfoni sendu. Saya berjalan menuju pohon beringin tua dekat kantor Kademangan, saksi bisu pemilihan kemarin. Tak ada lagi spanduk atau kerumunan. Hanya akar gantung yang menyentuh bahu, seperti tangan tua yang menenangkan.
Di sana, terbesit tanya: Apa sebenarnya yang saya awasi?
Ya, mengawasi mereka yang kini berkuasa, yang duduk di kursi empuk, sementara saya duduk di akar beringin yang lembab. Namun, siapa yang melihat saya? Siapa yang memastikan bahwa kelurusan hati ini memiliki tempat di Swarnadwipa?
Tidak ada.
Aturan di negeri ini seperti Kakrasana; ia sakti mandraguna, tapi selalu datang terlambat. Ia muncul saat perang usai untuk memberi wejangan yang tak lagi berguna. Kami ada, kami bekerja, lalu kami menjadi catatan kaki yang mudah dihapus sejarah.
Kidung Sunyi Sang CantrikMalam ini, rompi itu saya lipat dan disimpan dalam lemari kayu. Tidak untuk melupakan, tetapi untuk merawat kewarasan. Tersadar, bahwa dalam lakon besar Antarupa, saya hanyalah cantrik yang menyapu lantai padepokan. Namanya tak pernah dicatat dalam kidung kemenangan, tetapi tanpa kehadirannya, sesaji takkan pernah tersaji.
Dunia mungkin memilih untuk abai, menganggap laporan dan pantauan kami hanyalah arsip sejarah yang usang. Meski begitu, kami tetap menghitung setiap detak kejujuran yang pernah dipertaruhkan. Saya pulang bukan sebagai pemenang, pun bukan sebagai pecundang. Saya pulang sebagai Juru Pantau yang telah menuntaskan tugasnya.
Kopi di cangkir telah dingin, tapi pahitnya tetap jujur. Di luar, panggung baru sedang disiapkan, dan saya melangkah pergi. Sebab cerita ini memang tak pernah benar-benar selesai; ia hanya sedang berganti wajah.





