Ikan Sapu-sapu Penanda Rapuhnya Ekosistem

kompas.com
13 jam lalu
Cover Berita

DI TENGAH hiruk-pikuk kota metropolitan Jakarta, ada pemandangan yang sekilas tampak menggembirakan: berton-ton ikan sapu-sapu ditangkap dari sungai-sungainya.

Angkanya tidak kecil—dalam satu operasi, puluhan ribu ekor ikan berhasil ditangkap dalam sehari. Angkanya besar, skalanya masif, dan dalam banyak pemberitaan, operasi ini dibaca sebagai keberhasilan.

Bahkan, ada insentif ekonomi yang mendorong partisipasi luas. Sekilas, ini tampak sebagai kabar baik: masalah seolah teratasi dan keseimbangan ekosistem dipulihkan.

Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan ironi yang tidak sederhana. Penangkapan ikan sapu-sapu tidak lahir dari ruang hampa.

Ia tumbuh dari kondisi yang dibiarkan berlarut: kualitas air menurun, pengelolaan sungai yang lemah, dan keseimbangan ekologis yang tidak dijaga.

Baca juga: Bagaimana Nasib SPPG Dalam Penyesuaian Program MBG?

Dalam situasi seperti ini, ledakan populasinya bukan sebab utama, melainkan tanda bahwa relasi manusia dengan alam telah lama terganggu.

Secara ilmiah, ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan bertahan yang tinggi, bahkan di perairan tercemar.

Ketika banyak ikan lokal tidak mampu hidup dalam kondisi lingkungan yang memburuk, justru spesies ini tetap berkembang dan mendominasi.

Di titik ini, kehadirannya tidak sekadar menjadi “hama”, tetapi penanda bahwa kualitas ekosistem telah melemah dan buruk.

Karena itu, operasi penangkapan besar-besaran lebih tepat dibaca sebagai respons atas keadaan yang terlambat disadari. Ia memang diperlukan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa persoalan mendasar belum tersentuh.

Ironi menjadi semakin jelas ketika tindakan ini dibingkai sebagai capaian. Alam diperlakukan sebagai objek yang bisa ditertibkan: ketika dianggap mengganggu, ia diambil, dikumpulkan, lalu dimusnahkan.

Ikan sapu-sapu hadir sebagai “masalah” yang harus dihapus, bukan sebagai penanda bahwa ada sistem yang perlu diperbaiki.

Di sinilah persoalan etis muncul. Cara pandang seperti itu memperlihatkan kuatnya etika antroposentrisme—manusia ditempatkan sebagai pusat, sementara makhluk lain dinilai terutama dari kegunaannya.

Ketika tidak lagi memberi manfaat, ia disingkirkan. Pendekatan ini mendorong jalan pintas: menghilangkan gejala tanpa menyentuh akar persoalan.

Padahal, dari sudut pandang ekosentrisme, yang perlu dilihat adalah keseluruhan sistem. Ikan sapu-sapu memang invasif, tetapi kemampuannya mendominasi tidak terjadi tanpa sebab.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Erika di ITB dan Kultur Erotis


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menbud: Bandung Spirit sebagai kompas moral di tengah dinamika global
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Pemprov DKI Izinkan Impor Daging dari Australia
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
MU Kalahkan Chelsea di Stamford Bridge, Matheus Cunha Jadi Pahlawan
• 13 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 19 April Naik Jadi Rp2,526 Juta, Buyback Rp2,55 Juta
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Klub Jepang hadapi klub Timteng dalam semifinal Liga Champions Asia 
• 14 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.