DI TENGAH hiruk-pikuk kota metropolitan Jakarta, ada pemandangan yang sekilas tampak menggembirakan: berton-ton ikan sapu-sapu ditangkap dari sungai-sungainya.
Angkanya tidak kecil—dalam satu operasi, puluhan ribu ekor ikan berhasil ditangkap dalam sehari. Angkanya besar, skalanya masif, dan dalam banyak pemberitaan, operasi ini dibaca sebagai keberhasilan.
Bahkan, ada insentif ekonomi yang mendorong partisipasi luas. Sekilas, ini tampak sebagai kabar baik: masalah seolah teratasi dan keseimbangan ekosistem dipulihkan.
Namun, di balik keberhasilan itu, tersimpan ironi yang tidak sederhana. Penangkapan ikan sapu-sapu tidak lahir dari ruang hampa.
Ia tumbuh dari kondisi yang dibiarkan berlarut: kualitas air menurun, pengelolaan sungai yang lemah, dan keseimbangan ekologis yang tidak dijaga.
Baca juga: Bagaimana Nasib SPPG Dalam Penyesuaian Program MBG?
Dalam situasi seperti ini, ledakan populasinya bukan sebab utama, melainkan tanda bahwa relasi manusia dengan alam telah lama terganggu.
Secara ilmiah, ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan bertahan yang tinggi, bahkan di perairan tercemar.
Ketika banyak ikan lokal tidak mampu hidup dalam kondisi lingkungan yang memburuk, justru spesies ini tetap berkembang dan mendominasi.
Di titik ini, kehadirannya tidak sekadar menjadi “hama”, tetapi penanda bahwa kualitas ekosistem telah melemah dan buruk.
Karena itu, operasi penangkapan besar-besaran lebih tepat dibaca sebagai respons atas keadaan yang terlambat disadari. Ia memang diperlukan, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa persoalan mendasar belum tersentuh.
Ironi menjadi semakin jelas ketika tindakan ini dibingkai sebagai capaian. Alam diperlakukan sebagai objek yang bisa ditertibkan: ketika dianggap mengganggu, ia diambil, dikumpulkan, lalu dimusnahkan.
Ikan sapu-sapu hadir sebagai “masalah” yang harus dihapus, bukan sebagai penanda bahwa ada sistem yang perlu diperbaiki.
Di sinilah persoalan etis muncul. Cara pandang seperti itu memperlihatkan kuatnya etika antroposentrisme—manusia ditempatkan sebagai pusat, sementara makhluk lain dinilai terutama dari kegunaannya.
Ketika tidak lagi memberi manfaat, ia disingkirkan. Pendekatan ini mendorong jalan pintas: menghilangkan gejala tanpa menyentuh akar persoalan.
Padahal, dari sudut pandang ekosentrisme, yang perlu dilihat adalah keseluruhan sistem. Ikan sapu-sapu memang invasif, tetapi kemampuannya mendominasi tidak terjadi tanpa sebab.
Baca juga: Erika di ITB dan Kultur Erotis





