Kita Bisa Berhenti Mewariskan Anemia Defisiensi Besi

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ada penyakit yang datang karena zaman berubah, ada pula yang justru bertahan karena kita terlalu lama menganggapnya biasa. Anemia defisiensi besi berada pada kategori yang kedua.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, kondisi ini sebenarnya sudah dikenal dan bahkan didiagnosis secara primitif oleh orang tua kita sejak zaman dahulu. Dalam naskah-naskah kuno, muncul istilah seperti ‘anak gadis pucat’, ‘penyakit kurang darah’, hingga ‘lemah pucat’.

Di masa awal kemerdekaan pun, anemia sudah dicatat sebagai penyakit yang ‘diderita banyak orang’. Artinya sederhana, tapi dalam: bahwa ini bukan masalah baru, bukan fenomena modern, melainkan kondisi yang telah hidup bersama bangsa ini lintas generasi.

Namun, yang sering terlupakan adalah bagaimana kita memaknai anemia itu sendiri. Selama ini, kondisi anemia defisiensi besi sering dipersepsikan sebagai kondisi ringan, sekadar lemas, pusing, atau wajah pucat. Padahal, ilmu pengetahuan hari ini menunjukkan sesuatu yang jauh lebih serius.

Dalam buku Anemia, Krisis yang Terabaikan karya Kristin Samah, dijelaskan bahwa anemia defisiensi besi bukan hanya soal kurang darah, melainkan juga soal suatu kondisi medis yang memengaruhi cara anak berpikir, belajar, dan merespons dunia. Kondisi ini juga berhubungan dengan penurunan konsentrasi, kemampuan memahami pelajaran, hingga risiko performa akademik yang lebih rendah.

Penelitian terkini dari Indonesia Health Development Center (IHDC) pada anak-anak sekolah dasar di Jakarta bahkan membuktikan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki working memory score atau skor memori kerja yang jelek, sehingga tidak bisa berkonsentrasi dengan baik di sekolah. Berbagai studi global juga menunjukkan dampaknya bisa menjalar ke kesehatan mental, meningkatkan risiko kelelahan kronis, kecemasan, hingga depresi.

Ketika kondisi ini terjadi di Indonesia dalam skala besar—bahkan menjangkau sekitar satu dari tiga anak balita, remaja putri, dan ibu hamil—yang terdampak bukan hanya individu, melainkan juga tentunya masa depan bangsa ini.

Produktivitas menurun, kapasitas kerja melemah, bahkan secara makroekonomi, kehilangan akibat anemia bisa mencapai beberapa persen dari produk domestik bruto. Malahan, mungkin yang lebih berbahaya lagi, bisa terjadi penurunan daya inovasi suatu generasi—sesuatu yang tidak langsung terlihat, tetapi menentukan arah sebuah bangsa.

Namun, di balik gambaran yang tampak berat ini, ada satu hal yang patut disadari: kita mungkin sedang berada pada momentum terbaik dalam sejarah untuk mengubah keadaan ini. Untuk pertama kalinya, kita memiliki pemahaman ilmiah yang lebih utuh, kesadaran publik yang semakin meningkat, dan yang terpenting, peluang intervensi dalam skala besar yang nyata.

Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, sering dilihat sebagai kebijakan sosial, sebuah upaya untuk memastikan anak tidak lapar. Namun jika dilihat lebih dalam, potensinya jauh melampaui itu. Program ini bisa menjadi titik balik bahwa ini tidak lagi sekadar memberi makan, tetapi juga sebuah inovasi untuk memberi gizi, terutama sumber pangan kaya zat besi—sebagai semangat investasi untuk memupuk kemampuan berpikir generasi masa depan.

Teknologi pangan saat ini pun semakin progresif. Anemia defisiensi zat besi sangat bisa dicegah dengan teknologi fortifikasi, misalnya, salah satunya dengan susu pertumbuhan yang diperkaya dengan zat besi dan vitamin C, karena ternyata ilmu gizi juga membuktikan bahwa zat besi butuh kendaraan vitamin C untuk berikatan dengan oksigen dan digunakan oleh otak dalam proses kognisi.

Tentu saja, potensi ini tidak akan terwujud jika pendekatannya tetap sama seperti sebelumnya. Jika fokus hanya pada kuantitas dan rasa kenyang, kita hanya akan mengulang pola lama, yaitu cukup energi, tetapi miskin kualitas. Namun jika kualitas nutrisi menjadi prioritas, jika zat besi, vitamin C, protein, dan lemak esensial benar-benar diasup anak-anak kita, dampaknya bisa sangat besar dan terasa dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Di situasi ini, makna dari anemia defisiensi besi perlu diresapi secara berbeda, bukan sekadar penyakit yang harus ditangani, melainkan juga sebuah penanda. Penanda bahwa ada sesuatu yang selama ini belum optimal dalam cara kita membangun manusia. Dan sekaligus, penanda bahwa ada peluang besar yang bisa dimanfaatkan jika kita berani melihatnya lebih dalam.

Karena jika sebuah masalah sudah ada sejak sebelum kemerdekaan dan masih bertahan hingga hari ini, menyelesaikannya bukan hanya soal intervensi kesehatan. Ini adalah soal keberanian untuk memutus rantai sejarah yang terlalu lama dibiarkan. Bahkan yang lebih mendasar adalah bahwa ini merupakan pilihan untuk tidak lagi mewariskan kondisi yang sama kepada generasi berikutnya.

Generasi sebelum kita telah mencatat bahwa anemia adalah penyakit yang banyak diderita. Generasi hari ini memiliki kesempatan yang berbeda: tidak hanya mencatat, tetapi juga menyelesaikan. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kita memiliki semua yang dibutuhkan untuk melakukannya, yaitu pengetahuan, kesadaran, dan sarana.

Jika momentum ini benar-benar dimanfaatkan, suatu hari nanti, istilah “kurang darah” tidak lagi menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Bukan karena kita melupakan istilah itu, melainkan karena kita berhasil membuatnya tidak lagi relevan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Paus Leo XIV Kecam Penguasa Perang Perusak Dunia
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
11.014 Nama Dicoret dari Daftar Penerima PKH-BPNT pada April 2026, Ini Penjelasan Mensos
• 16 jam laluliputan6.com
thumb
Dulunya Bermain di Indonesia dan Jadi Mualaf, Pemain Asing ini Sekarang di Italia
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
BMKG Imbau Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Sumatera Utara hingga 22 April
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Ribuan Warga Padati Final MTQ Sulsel di Lapangan Pallantikang Maros, Pengunjung Sebut Serasa Ajang Nasional!
• 22 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.