Bukan Sapu-sapu melainkan Aligator, Ikan Invasif yang Bikin Masalah di Perairan Sumsel

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

PALEMBANG, KOMPAS — Berbeda dengan di Jakarta, ikan sapu-sapu belum menjadi masalah yang mengganggu di perairan sungai Sumatera Selatan. Ikan invasif yang mulai mengganggu keseimbangan ekosistem setempat justru aligator, nila, mujair, dan lele.

Karena sifatnya yang cepat beradaptasi dan berkembang biak, serta rakus makanan, ikan-ikan itu menjadi ancaman serius yang bisa menghabisi populasi spesies asli perairan Sumsel. Namun, ketidaktahuan masyarakat dan nilai ekonomisnya membuat ikan nila, mujair, dan lele dianggap bermanfaat dan terus distok ulang.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020, ikan invasif adalah ikan pendatang yang bisa merusak ekosistem ikan lokal atau ikan asli dan membahayakan ataupun merugikan masyarakat. Jenis ikan invasif sangat banyak, salah satunya sapu-sapu. Ada pula, aligator, nila, mujair, dan lele.

Ikan sapu-sapu diperkirakan ada di perairan sungai Sumsel, tetapi tidak diketahui spesifik lokasinya. Itu disebabkan ikan sapu-sapu belum menjadi masalah krusial di Sumsel.

Baca JugaMelawan Sapu-sapu di Ciliwung, Perang yang Dimulai Terlambat

”Kalau di Jakarta, ikan sapu-sapu menjadi masalah krusial dan viral akhir-akhir ini. Hal itu disebabkan ikan sapu-sapu mendominasi perairan sungai di sana berkat kemampuannya bertahan hidup di air dengan kualitas yang paling buruk. Yang jadi masalah, ikan itu ditangkap dan dimakan warga. Padahal, ikan itu berbahaya untuk dikonsumsi,” ujar Robiyanto.

Di Sumsel, ikan invasif yang sering dikeluhkan masyarakat adalah ikan aligator gar. Robiyanto menuturkan, baik ikan sapu-sapu maupun aligator muncul di perairan umum karena dilepas warga. Hal itu berawal dari ikan didatangkan dari luar untuk dipelihara, seperti ikan sapu-sapu untuk membersihkan akuarium dan aligator menjadi ikan hias.

Ikan-ikan itu kerap dilepas ke perairan umum, terutama sungai. Dengan kemampuan adaptasi dan berkembang biak yang cepat, serta rakus makanan, ikan itu menjelma menjadi sumber masalah. "Ikan aligator banyak dikeluhkan warga karena tergolong mengancam oleh sifatnya yang agresif, seperti piranha," kata Robiyanto.

Pihaknya pernah menangkap, menyita, dan memusnahkan ikan aligator. Mulai dari yang didapat di Sungai Ogan di Baturaja, Ogan Komering Ulu hingga di tempat-tempat penjualan ikan hias. "Tapi, di Sungai Musi di Palembang, kami belum dapat info mengenai keberadaan ikan tersebut," tuturnya.

Baca JugaAligator Gar, Monster bagi Ekosistem Lokal
Pembunuh dari dalam

Ikan invasif yang bermasalah untuk ekosistem ikan asli Sumsel belum tentu dianggap sebagai masalah oleh warga. Sejumlah jenis ikan seperti nila, mujair, dan lele dianggap bermanfaat karena bisa dikonsumsi dan bernilai gizi. "Karena bernilai ekonomi itu pula, ikan-ikan tersebut banyak dibudidayakan hingga distok ulang dengan cara penebaran benih di perairan umum (restocking)," ujarnya. Faktanya, lanjut Robiyanto, ikan-ikan itu tergolong invasif.

Ikan-ikan tersebut menjadi "pembunuh dari dalam" untuk ikan-ikan lokal. Itu dikarenakan sifat mereka yang sama dengan ikan invasif pada umumnya, yakni cepat beradaptasi dan berkembang biak, serta rakus makanan.

Mereka menghabisi stok makanan untuk ikan asli dan tak jarang memakan telur serta anak ikan asli. Akibatnya, secara berlahan, populasi ikan asli terus berkurang. "Ikan invasif tidak selalu memangsa ikan besar atau dewasa lain. Mereka juga bisa merusak ekosistem dengan menghabisi stok makanan yang ada hingga memakan telur dan anak ikan asli. Itu yang memicu ikan asli semakin langka," tutur Robiyanto.

Untuk mengendalikan peredaran ikan-ikan tersebut, Robiyanto menerangkan, pihaknya gencar mensosialisasikan warga, kelompok masyarakat, dan pihak-pihak instansi mengenai status dan ancaman ikan invasif. Mereka pun terus mendorong masyarakat dan pemerintah daerah mengutamakan budidaya dan restocking ikan asli, seperti tembakang dan sembilang.

Baca JugaIkan Nila Jadi Andalan Usaha Budidaya

Namun, tambahnya, ancaman yang lebih berbahaya untuk ekosistem ikan asli di Sumsel justru berasal dari kerusakan lingkungan itu sendiri. Kondisi kerusakannya kini semakin kronis. Kerusakan itu dipicu oleh limbah sampah rumah tangga, industri, hingga cemaran kapal-kapal yang melintas, terutama kapal tongkang batubara.

Banyak ikan asli yang sudah jarang muncul hingga hilang sama sekali, seperti ikan belida yang nyaris punah.

Selain itu, ancaman muncul dari teknik penangkapan yang merusak, seperti menggunakan strum atau menyetrum ikan dan meracun. Cara itu bisa mematikan telur, anak ikan, hingga ikan dewasa dalam waktu singkat secara serentak. Situasi itu diperburuk oleh penangkapan berskala masif secara terus menerus.

"Sekalipun mampu memulihkan diri sendiri karena berarus deras dari kawasan hulu hingga hilir di laut atau bersifat perairan terbuka, ekosistem Sungai Musi tetap tidak mampu menanggung beban kerusakan lingkungan yang masif tersebut. Terbukti, banyak ikan asli yang sudah jarang muncul hingga hilang sama sekali, seperti ikan belida yang nyaris punah," ujar Robiyanto.

Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas PGRI Palembang Indah Anggraini Yusanti sependapat bahwa keberadaan ikan invasif jenis sapu-sapu belum terlalu krusial di Sumsel. Setidaknya, dari laporan warga penghobi mancing dan nelayan, mereka masih sangat jarang mendapatkan ikan sapu-sapu.

Sebaliknya, yang menjadi masalah datang dari ikan invasif lainnya yang sudah dianggap ikan lokal. Selain nila, mujair, dan lele, ikan invasif yang dianggap bermanfaat adalah patin introduksi dari Thailand. Ikan itu banyak dibudidayakan dan dilakukan restocking sehingga populasinya di perairan sungai Sumsel semakin merajalela.

Baca JugaIkan Patin Perkasa Indonesia Siap ”Melawan” Vietnam

"Banyak yang mengira ikan patin itu sebagai ikan lokal Sumsel, khususnya di Sungai Musi di Palembang. Padahal, patin itu juga ikan pendatang. Sekarang, ikan itu banyak dan mudah didapatkan pemancing maupun nelayan karena restocking rutin dilakukan oleh warga, kelompok masyarakat, ataupun sejumlah instansi," kata Indah.

Di samping itu, Indah mengaminkan bahwa ancaman lebih berbahaya untuk keberlanjutan ekosistem perairan sungai Sumsel berasal dari kerusakan lingkungan. Salah satunya dari maraknya ahli fungsi rawa atau penimbunan rawa untuk dijadikan permukiman, perkantoran, tempat niaga, dan sarana infrastruktur. Rawa yang terus berkurang menyebabkan ikan asli kehilangan tempat pemijahan.

Ikan rawa

Padahal, ikan asli Sumsel mayoritas ikan rawa. Siklus hidup mereka dari rawa kembali ke rawa. Mereka akan selalu melakukan pemijahan ataupun bertelur dan menetas di rawa sebelum bermigrasi ke sungai.

Kalau rawa hilang, ikan-ikan itu akan kehilangan tempat untuk berkembang biak. Masalahnya, peran rawa tidak bisa digantikan oleh danau retensi ataupun sungai. Dengan kata lain, hilangnya rawa berarti memusnahkan keberadaan ikan-ikan tersebut.

"Ikan-ikan itu harus melakukan pemijahan di perairan tenang yang ada di rawa. Kalau di sungai, mereka tidak bisa melakukan pemijahan karena ada arus dan keadaan lingkungan sekitar yang bising," tutur Indah.

Baca JugaPengurukan Sungai dan Rawa Pemicu Banjir Berulang di Palembang

Semua faktor kerusakan lingkungan itu yang menyebabkan populasi ikan asli Sumsel terus menyusut, dari kurang lebih 100 jenis hingga awal 2000-an menjadi hanya sekitar 30 jenis saat ini. Ikan-ikan yang dahulu mudah didapat pun semakin sulit ditemui, seperti betok, tembakang, sepat, juaro, sembilang, dan baung. Kalau pun masih ada, ikan-ikan itu hanya bisa ditemui di perairan sungai yang relatif masih baik dan hanya di waktu-waktu tertentu saja.

"Masyarakat harus terus diberi pemahaman untuk tidak melepas atau restocking ikan-ikan invasif ke perairan umum demi menjaga populasi ikan asli yang masih ada. Selain itu, semua pemangku kepentingan terkait harus terus mendorong pengembangan teknologi budidaya ikan asli dan mempertahankan rawa yang masih tersisa demi menjaga keberlanjutan ekosistem ikan asli," ujar Indah.

Pengalaman pemancing

Warga penghobi mancing asal Kecamatan Ilir Barat Satu Palembang, Yaser Cambai (50) turut sepakat bahwa ikan invasif jenis sapu-sapu masih jarang di perairan sungai Sumsel, tak terkecuali di Palembang. Sebab, Yaser yang sudah mengemari mancing 35 tahun terakhir jarang menemui dan mendapatkan ikan tersebut.

Kendati demikian, Yaser memastikan bahwa ikan asli Sumsel memang sudah mulai susah ditemui. Setidaknya, 35 tahun silam, dia masih mudah mendapatkan ikan asli di sepanjang Sungai Musi di Palembang. Kini, ikan asli hanya bisa didapat di beberapa titik lokasi saja, seperti di sekitar Pasar 16 Iliar Palembang dan Dermaga Bekang Palembang.

Selebihnya, Yaser harus berburu ikan asli ke daerah-daerah lain di pelosok Sumsel yang perairan sungai ataupun rawanya masih baik, meliputi di Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Ogan Komering Ilir. "Kalau di daerah-daerah itu, kita masih mudah mendapatkan ikan asli tapi tentunya tidak sebanyak puluhan tahun lalu," kata Yaser.

Sepengetahuan dan kesaksian Yaser, ikan asli semakin sulit didapat karena sungai mulai tercemar. Ancaman kerusakan paling parah berasal dari aktivitas penangkapan ikan menggunakan strum dan racun yang kian marak di Palembang dan sekitarnya.

Cara itu mengakibatkan telur, anak ikan, hingga ikan dewasa segala jenis mati dalam waktu singkat secara bersamaan. Akhirnya, tidak ada waktu untuk ikan-ikan itu melanjutkan siklus hidup, khususnya untuk telur menetas dan anak ikan tumbuh besar.

"Ikan-ikan asli, seperti lumajang, seluang, sampai udang, itu sebenarnya masih ada. Tapi, mencarinya yang susah. Mereka cuma muncul di waktu-waktu tertentu dan di tempat-tempat yang belum tercemar, terlebih dari aktivitas menyetrum dan meracun," ungkap Yaser.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Sampaikan Belasungkawa atas Gugurnya Tentara UNIFIL Prancis di Lebanon
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Komnas HAM Kecam Operasi TNI di Distrik Kembru Papua Tengah Tewaskan 12 Warga
• 16 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Lirik Lagu Ibu Kita Kartini Lengkap dengan Sejarah serta Maknanya
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Presiden RI Ini Curhat Gajinya Tak Cukup, Harus Minjam ke Ajudan
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
[FULL] Pernyataan dr Tifa soal Rismon Terima SP3 Kasus Ijazah Jokowi hingga Gelar Doktor
• 13 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.