Penulis: Zulfikar Marikar
TVRINews, Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong penguatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) melalui penyelenggaraan BUMD Leaders Forum di Candi Bentar Ancol beberapa waktu lalu. Langkah ini dinilai sebagai strategi penting dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah sekaligus mendorong kolaborasi lintas entitas usaha milik pemerintah.
Pemerhati Kebijakan Jakarta, Zulfikar Marikar mengapresiasi penyelenggaraan forum tersebut. Ia menilai langkah Kepala Badan Pembinaan BUMD (BP BUMD) DKI Jakarta dalam menginisiasi BUMD Leaders Forum, sebagai terobosan penting untuk memperkuat koordinasi dan arah kebijakan antar-BUMD. Menurutnya, forum ini menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah daerah dalam membangun ekosistem BUMD yang lebih terintegrasi dan adaptif terhadap tantangan zaman.
Ia menyatakan forum tersebut diharapkan mampu menjadi wadah untuk saling memperkuat kordinasi dan kolaborasi antar-BUMD.
“Di tengah tekanan global seperti ketidakpastian geopolitik dan ancaman perubahan iklim, termasuk El Niño, konsolidasi antar-BUMD menjadi kebutuhan mendesak,” ujar Zulfikar dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, Minggu, 19 April 2026.
Dalam forum tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga menegaskan pentingnya peningkatan peran BUMD agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Arahan ini dinilai sebagai target strategis yang harus ditindaklanjuti oleh jajaran direksi dan komisaris BUMD di Jakarta.
Secara struktur, BUMD di DKI Jakarta memiliki kapasitas yang signifikan. Total aset tercatat melampaui Rp 173,6 T triliun hasil audit tahun 2023, dengan kontribusi dividen ke APBD pada tahun 2025 mencapai Rp 746 Milyar. Dengan kapasitas tersebut, BUMD tidak lagi sekadar pelengkap fiskal, melainkan berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi daerah.
Di sektor perbankan, kemampuan pembiayaan yang mencapai puluhan triliun rupiah membuka peluang percepatan pembangunan tanpa ketergantungan penuh pada APBD yang berada di kisaran Rp 80 triliun per tahun. Dalam konteks ini, skema pembiayaan kreatif (creative financing) dan sinergi penjaminan dinilai relevan untuk mendorong fleksibilitas pendanaan proyek strategis.
Pada kesempatan yang sama, Bank Jakarta menandatangani fasilitas kredit dengan tiga BUMD, yaitu PT Transjakarta, PT Perumda Dharma Jaya, dan juga Food Station Cipinang dengan total kredit sebesar Rp1,2 triliun, tentunya ini hal positif, ujar Zulfikar.
Peran BUMD juga terlihat signifikan dalam menjaga stabilitas sektor pangan. Inflasi Jakarta yang relatif terkendali di kisaran 2,5–3,5 persen dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari intervensi distribusi dan pengendalian pasokan oleh BUMD pangan.
Ke depan, potensi gangguan produksi akibat El Niño yang dapat menekan output hingga 5–10 persen menuntut penguatan koordinasi lintas BUMD guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Di sektor layanan dasar, tantangan juga terlihat pada penyediaan air bersih. Dengan cakupan layanan perpipaan yang berada di kisaran 80 persen ditahun 2026 dari target 100 persen pada 2030, kebutuhan pembiayaan serta percepatan proyek menjadi semakin mendesak. Kondisi ini menjadi ujian nyata bagi sinergi pembiayaan, pengelolaan aset, dan tata kelola perusahaan.
Selain itu, optimalisasi aset BUMD yang berada di lokasi strategis di Jakarta membuka peluang penciptaan sumber pendapatan baru. Pengembangan kawasan mixed-use, transit oriented development (TOD), serta fasilitas publik berbasis komersial dinilai berpotensi menghasilkan nilai ekonomi hingga puluhan triliun rupiah. Langkah ini tidak hanya meningkatkan tingkat pengembalian aset, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi sektor konstruksi, jasa, dan tenaga kerja.
Zulfikar menekankan, agenda pasca forum perlu difokuskan pada tiga hal utama. Pertama, penetapan indikator kinerja yang terukur untuk setiap bentuk sinergi, mencakup efisiensi, profitabilitas, dan kontribusi terhadap ekonomi daerah. Kedua, penguatan prinsip tata kelola perusahaan yang baik melalui transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme. Ketiga, integrasi manajemen risiko terhadap dinamika global dan perubahan iklim ke dalam strategi bisnis BUMD.
“BUMD Leaders Forum dapat menjadi titik balik transformasi BUMD Jakarta, dari entitas sektoral menjadi ekosistem ekonomi yang terintegrasi. Namun tanpa disiplin implementasi dan reformasi struktural, forum ini berisiko menjadi sekadar ruang konsolidasi tanpa dampak jangka panjang,” kata dia.
Ia menambahkan, Jakarta tidak kekurangan potensi. Tantangan ke depan adalah memastikan potensi tersebut benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews





