Peluang Harga Emas Lanjut Menguat saat AS-Iran Masih Tarik Ulur Posisi

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas diproyeksikan melanjutkan penguatan pada pekan depan seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, melanjutkan tren penguatan dalam empat pekan sebelumnya.

Survei Kitco News menunjukkan mayoritas analis dan investor kembali bullish setelah empat pekan reli berturut-turut. Sebanyak 80% analis Wall Street memperkirakan harga emas naik, sementara 70% investor ritel juga melihat tren serupa.

Optimisme ini muncul seiring dengan harapan meredanya konflik antara Iran dan AS, yang mengurangi tekanan pasar sekaligus membuka ruang pemulihan harga logam mulia dari fase koreksi sebelumnya.

Presiden dan COO Asset Strategies International Rich Checkan mengatakan pergerakan emas belakangan sangat dipengaruhi dinamika geopolitik.

“Belakangan ini, emas dan perak diuntungkan oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah, naik saat ada gencatan senjata dan turun saat terjadi konflik terbuka. Selama gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran serta antara Israel dan Lebanon bertahan, emas dan perak seharusnya terus pulih dari koreksi sebelumnya,” jelasnya seperti dikutip Kitco, Minggu (19/4/2026).

Namun, pandangan berbeda datang dari sebagian analis yang melihat potensi tekanan teknikal dalam jangka pendek.

Baca Juga

  • Harga Buyback Emas Antam Hari Ini Minggu, 19 April 2026 & Besaran Pajaknya
  • Mudah, Begini Cara Beli Tabungan Emas di Aplikasi TRING!
  • Ramalan Nasib Pergerakan Harga Emas Pekan Terakhir April 2026

Senior market analyst Barchart.com Darin Newsom menilai harga emas mulai mendekati area resisten penting di rata-rata pergerakan 50 hari sekitar US$4.938, yang belum ditembus sejak pertengahan Maret.

“Indikator momentum lain, stochastic harian, menunjukkan emas kontrak Juni berada dalam kondisi jenuh beli dengan pembacaan mendekati atau di atas 90%,” ujarnya.

Meski demikian, dia mengakui indikator teknikal saat ini kurang memberikan kepastian arah pasar yang jelas.

Dari sisi fundamental, pasar mulai mengantisipasi normalisasi setelah pembukaan kembali jalur perdagangan energi, termasuk Selat Hormuz, yang sebelumnya sempat terganggu.

Senior commodities broker RJO Futures Daniel Pavilonis menilai volatilitas tinggi selama konflik telah mengurangi partisipasi spekulatif di pasar berjangka.

“Ketika ada pergerakan harga menguat dan melemah hingga US$15, kondisi tersebut membuat banyak pelaku pasar keluar dan pada akhirnya hanya menyisakan hedger atau trader dengan leverage rendah yang masih mengambil posisi,” ungkap Pavilonis.

Menurutnya, kurva harga energi yang mulai menyempit hingga pertengahan 2027 mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap stabilisasi kondisi global.

Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menjadi sinyal penting perubahan sentimen.

“Saya pikir sinyal terbesar ada pada yield obligasi 10 tahun. Yield sempat naik dan sekarang turun,” lanjutnya.

Dia menambahkan, pasar saat ini memasuki fase risk-on, di mana investor mulai kembali ke saham, sehingga emas untuk sementara berada di posisi sekunder.

“Saya pikir emas saat ini bukan lagi yang paling diminati untuk posisi beli; fokus utama sekarang ada pada saham,” jelasnya.

Meski demikian, potensi aliran dana kembali ke emas tetap terbuka, terutama jika momentum di pasar saham berlanjut.

Head of currency strategy Forexlive Adam Button melihat emas justru berpotensi menjadi pemenang dalam jangka menengah.

Menurutnya, selama konflik berlangsung, tekanan terhadap emas berasal dari aksi deleveraging dan penjualan oleh negara berkembang untuk menjaga stabilitas mata uang.

“Negara berkembang yang memiliki cadangan emas dan impor minyak besar menghadapi risiko mata uang, sehingga mereka menjual emas untuk melindungi mata uang tersebut,” jelas Button.

Namun, risiko tersebut mulai mereda seiring turunnya harga energi.

Button menilai pengalaman konflik justru akan mendorong negara berkembang meningkatkan cadangan emas ke depan sebagai instrumen lindung nilai.

Dia memperkirakan harga emas berpotensi kembali menuju level psikologis US$5.000 dalam waktu dekat.

Sementara itu, analis FxPro Alex Kuptsikevich mengingatkan potensi koreksi jangka pendek di tengah melambatnya momentum kenaikan.

“Pasar sekarang perlu berhati-hati karena ada potensi reaksi ‘beli saat rumor, jual saat fakta’,” ujarnya.

Dia menilai pergerakan di atas US$4.900 akan membuka peluang kenaikan lanjutan, tetapi kegagalan menembus level tersebut dapat mengonfirmasi pembalikan tren.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Penemuan Kerangka Manusia di Sukoharjo, Berawal saat Ada Remaja Berburu Biawak
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Mau Kasur Harga Spesial? Merapat ke Transmart, Mumpung Banyak Diskon
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menteri Transmigrasi Serahkan Ijazah Almarhum Wisudawan Patriot di ITS
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Pengalaman Tiga Penyandang Tuli Saat Beribadah di Makkah
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Uang Hasil Endorse Diam-diam Dipakai Arya Khan untuk Bangun Rumah, Pinkan Mambo Merasa Dibohongi Sampai Minta Cerai
• 1 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.