Peta geopolitik yang semakin memanas telah mendorong peningkatan fragmentasi ekonomi dunia. Negara-negara yang dulu berupaya membuka keran kerja sama internasional kini banyak beralih menuju kebijakan yang lebih bersifat proteksionisme. Indonesia sebagai negara dengan politik luar negeri bebas-aktif memiliki kebebasan berlayar di arus yang lebih tenang, yaitu dengan membangun soliditas regional dan sinergi kebijakan ekonomi global.
Kebijakan ekonomi moneter juga tidak terlepas dari pengaruh eksternal. Transmisi kebijakan moneter dipengaruhi sentimen global, stabilitas keuangan yang erat dengan arus modal lintas negara.
Melalui keikutsertaan pada International Monetary Fund (IMF)—World Bank (WB) Spring Meetings 2026, ASEAN Finance Ministers' and Central Bank Governors' Meeting, serta perluasan QRIS antarnegara dengan Korea—Bank Indonesia turut memastikan ketahanan ekonomi dari faktor eksternal sekaligus membuka jalur pertumbuhan yang lebih inklusif.
IMF–WB Spring Meetings 2026: Menjaga Kredibilitas, Perkuat OptimismeIMF-WB Spring Meetings merupakan pertemuan high-level yang diikuti oleh pemangku kebijakan, baik di tingkat bank sentral maupun pemerintah—dilakukan secara rutin tahunan—untuk membahas isu strategis terkait pertumbuhan ekonomi, stabilitas keuangan, dan pengurangan tingkat kemiskinan. Dalam kegiatan ini, Bank Indonesia hadir bersama pemerintah untuk menekankan kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter yang telah sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini.
Pada pertemuan tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa bauran kebijakan yang diambil saat ini berada pada arah yang tepat, dengan fokus pada stabilitas dan ketahanan eksternal melalui kebijakan suku bunga, intervensi nilai tukar, dan penguatan likuiditas domestik.
IMF menanggapi secara positif atas kebijakan yang telah ditempuh oleh Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Direktur IMF Kristalina Georgieva, “Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia mampu mengelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan secara optimal".
Dalam salah satu rangkaian kegiatan, didapat respons positif dari World Bank dan S&P Global rating yang menunjukkan peningkatan optimisme terhadap disiplin fiskal dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
ASEAN Finance Ministers' and Central Bank Governors' Meeting ke-13: Menyatukan Irama RegionalPenguatan ketahanan eksternal tidak berhenti pada koordinasi dengan pemangku kepentingan global saja. Bank Indonesia dan pemerintah juga hadir pada ASEAN Finance Ministers' and Central Bank Governors' Meeting ke-13 untuk memperkuat soliditas regional.
Highlight pertemuan ini adalah resiliensi pertumbuhan ekonomi regional Asia Tenggara di tengah gejolak geopolitik dunia, didukung oleh permintaan domestik dan investasi yang terjaga.
Meski demikian, pemangku kebijakan tetap sigap dan siap untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan serta memperkuat kerja sama dengan mitra strategis, guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Di antaranya yang telah disepakati pada acara ini adalah Finance Sectoral Plan 2026–2030 sebagai acuan menuju ASEAN Community Vision 2045.
Perluasan QRIS dengan Korea Selatan: ketika Pembayaran Menjadi Diplomasi EkonomiJika kerja sama global dan regional memperkuat pondasi, perluasan QRIS antarnegara dengan Korea Selatan adalah contoh nyata kerja sama yang dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. Perluasan QRIS antarnegara dengan Korea Selatan akan memungkinkan transaksi pembayaran secara langsung melalui aplikasi tanpa perlu menukar valuta asing (valas).
Perluasan QRIS antarnegara dengan Korea Selatan menunjukkan hubungan yang baik antar-kedua negara. Tentunya ada hubungan mutualisme yang berusaha dijalin melalui kerja sama ini. Pada acara launching, Deputi Gubernur Bank Indonesia dan Korea Selatan menekankan besarnya dampak positif yang muncul dengan adanya integrasi sistem pembayaran ini, di antaranya penguatan UMKM, peningkatan pariwisata, hingga membuka peluang baru bagi dunia usaha.
Menjahit Tiga Poros: Global–Regional–MasyarakatUpaya Bank Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional telah tepat di tengah gejolak geopolitik global saat ini. Kehadiran pada IMF–WB Spring Meetings 2026, ASEAN FM-CBG Meeting, dan kerja sama QRIS dengan Korea Selatan sejatinya merupakan satu strategi yang utuh.
Pertama dari aspek Global (IMF–WB), Bank Indonesia bersama pemerintah berupaya untuk menjaga kredibilitas, meningkatkan optimisme investor asing, sehingga bersama memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengambil kebijakan.
Kedua, dari aspek regional (ASEAN), Bank Indonesia bersama pemerintah berupaya menyatukan irama bersama negara-negara regional untuk memperkuat stabilitas kawasan dan mempercepat integrasi ekonomi yang berkelanjutan. Ketiga dari aspek masyarakat (QRIS antarnegara), Bank Indonesia menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat dan UMKM, sekaligus memperdalam ekosistem digital.
Dari atas ke bawah, dari ruang rapat global hingga kasir UMKM, semuanya terkait dalam satu benang merah: ketahanan dan pertumbuhan. Ketahanan tanpa pertumbuhan akan stagnan. Pertumbuhan tanpa ketahanan akan rapuh. Dan kerja sama internasional yang tepat membuat keduanya bisa berjalan beriringan.





