Negara Tetangga RI Kena Gelombang PHK Massal, Sektor Manufaktur dan Ritel Paling Terdampak

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda mulai berdampak pada pasar tenaga kerja di berbagai negara, termasuk ke negara tetangga RI, Malaysia. Ketidakpastian geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga penyesuaian strategi bisnis, membuat banyak perusahaan memilih langkah efisiensi.

Salah satu dampak paling nyata terlihat dari meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada awal tahun ini. Sektor manufaktur, perdagangan, hingga logistik menjadi yang paling rentan karena sangat bergantung pada permintaan global.

Baca Juga :
Raksasa E-Commerce Tutup Kantor, Ratusan Karyawan Kena PHK Massal
RI dan Malaysia Kompak Buka Opsi Potong Gaji Menteri demi Efisiensi Anggaran

Melansir dari VN Express, jumlah pekerja yang terkena PHK di Malaysia melonjak 47 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 menjadi 24.100 orang. Data tersebut diungkap dalam laporan Hong Leong Investment Bank yang mengacu pada data dari Social Security Organisation (SOCSO). 

Pada periode yang sama tahun lalu, jumlah PHK tercatat sekitar 16.500 kasus. PHK tertinggi terjadi pada Januari 2026 dengan sekitar 10.700 kasus. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 7.500 pada Februari dan 5.900 pada Maret.

Meski tren mulai melandai menjelang akhir kuartal, total PHK tetap jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sektor manufaktur menjadi segmen paling rentan karena sangat bergantung pada perdagangan global dan permintaan eksternal. 

Selain itu, pemangkasan tenaga kerja juga banyak terjadi di sektor grosir dan ritel serta industri yang berkaitan dengan logistik. Kondisi ini menunjukkan bahwa restrukturisasi ekonomi tidak hanya terjadi pada satu sektor, tetapi mulai meluas ke berbagai lini bisnis.

Hong Leong Investment Bank menyebut gelombang PHK ini sebagian dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang memaksa perusahaan menyesuaikan strategi operasional mereka.

Lingkungan bisnis yang semakin tidak stabil membuat banyak perusahaan harus melakukan efisiensi, termasuk memangkas jumlah tenaga kerja.

Analis juga menilai pusat ekonomi utama seperti Kuala Lumpur dan Selangor menjadi wilayah pertama yang merasakan dampak restrukturisasi korporasi. Sementara itu, negara bagian lain seperti Penang dan Johor juga menghadapi risiko peningkatan PHK karena ketergantungan mereka terhadap industri berbasis ekspor, khususnya sektor elektronik yang sangat sensitif terhadap fluktuasi permintaan teknologi global.

Meski angka PHK meningkat tajam, pasar tenaga kerja Malaysia dinilai masih cukup stabil. Tingkat pengangguran tercatat tetap berada di level 2,9 persen selama empat bulan berturut-turut.

Baca Juga :
Bismillah Malaysia! Aldi Taher Gandeng Label Besar Garap Proyek di Asia Tenggara
AI Makin Dominan, Meta Dikabarkan Akan PHK 8.000 Karyawan Tahun Ini
LPEI Gelontorkan Rp13,7 Triliun untuk Dorong Ekspor RI, Jawa Timur Serap 25 Persen

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Konsisten Kawal Isu Energi Hijau, Eddy Soeparno Raih KWP Award 2026
• 7 jam laludetik.com
thumb
Real Sociedad juara Piala Raja setelah kalahkan Atletico Madrid
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Ketum TP PKK Kunjungi NTT, Dorong Perlindungan Perempuan & Anak dari Kekerasan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Bima Sakti Dukung TVRI sebagai Pemegang Hak Siar Piala Dunia 2026
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
5 Zodiak yang Paling Beruntung soal Cinta Minggu Ini 20-26 April 2026, Taurus Hubungan Makin Stabil
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.