Seorang astronot NASA dari misi Artemis II yang sebelumnya tidak terlalu percaya pada Tuhan, setelah berhasil mendarat, langsung meminta untuk bertemu pendeta militer. Saat melihat salib di kerah sang pendeta, ia tak kuasa menahan air mata. Pengalaman unik ini pun menarik perhatian luas.
EtIndonesia. Saat konferensi pers pada 16 April tentang berbagi pengalaman penerbangan mengelilingi bulan, komandan Reid Wiseman menceritakan sebuah kejadian kecil setelah pendaratan.
Wiseman mengatakan, setelah para astronot kembali ke kapal Angkatan Laut, ia segera meminta agar pendeta militer di kapal menemui mereka.
“Saya bukan orang yang beragama, tetapi menurut saya, tidak ada cara lain untuk menjelaskan perasaan yang kami alami selama penerbangan di luar angkasa,” ujar Wiseman.
Ia menambahkan, sebelumnya ia tidak mengenal pendeta tersebut. Namun ketika pendeta masuk, begitu melihat salib di kerahnya, ia langsung menangis. astronot lain, Victor Glover, menambahkan bahwa perasaannya saat bertemu pendeta sama persis dengan Wiseman—perbedaannya hanya ia memang memiliki keyakinan agama.
Pemandangan yang mereka saksikan di luar angkasa membuat bahkan para astronot yang terlatih secara ilmiah pun menyadari bahwa manusia masih memiliki banyak keterbatasan dalam memahami alam semesta yang luas.
Wiseman menggambarkan, saat pesawat mengorbit bulan dan Matahari sepenuhnya tertutup oleh bulan, keempat astronot merasakan guncangan batin yang luar biasa. Ia sempat berkata kepada Glover: “Saya rasa tingkat perkembangan manusia belum cukup untuk memahami semua yang ada di depan kita. Ini sungguh menakjubkan.”
Dalam konferensi tersebut, astronot Kanada Jeremy Hansen juga menceritakan bagaimana ia melihat kedalaman Galaksi Bima Sakti dari jendela pesawat Orion. Saat itu, ia merasakan betapa rapuh dan kecilnya manusia.
Foto Galaksi Bima Sakti yang diambil oleh para astronot Artemis II menunjukkan bahwa Bumi berada di salah satu lengan spiral galaksi, sekitar setengah jarak dari pusatnya, dengan diameter lebih dari 100.000 tahun cahaya. (NASA)
Setelah kembali, para astronot masih menjalani berbagai pemeriksaan medis, pengujian, dan laporan ilmiah, sehingga belum sempat sepenuhnya merenungkan pengalaman luar biasa ini. Namun Wiseman mengakui bahwa perjalanan tersebut telah membawa perubahan dalam dirinya. Glover juga mengatakan bahwa ia akan membagikan refleksi ini di masa mendatang.
Dalam sejarah, ada pula astronot lain yang mengalami perubahan pandangan setelah misi ke bulan. Edgar Mitchell, astronot misi Apollo 14, yang menjadi orang keenam berjalan di bulan pada tahun 1971, mengaku merasakan keterhubungan mendalam dengan alam semesta saat melihat Bumi dari luar angkasa.
Setelah pensiun dari NASA, ia mendedikasikan hidupnya untuk meneliti “kesadaran” dan fenomena supranatural.
Di masa tuanya, Mitchell menyatakan bahwa cara manusia memahami alam semesta tidak seharusnya terbatas pada materi dan energi seperti dalam fisika Newton, tetapi juga harus mencakup “kesadaran” sebagai salah satu sifat dasar alam semesta.
Ia juga mengatakan: “Selama ratusan tahun, sains dan agama berada dalam posisi berlawanan. Kini kita mencoba memasukkan dua aspek realitas—keberadaan materi dan kecerdasan (atau kesadaran)—ke dalam satu kerangka pemahaman. Tubuh dan pikiran, atau materi dan kesadaran, berada pada tingkat realitas yang sama.”
Laporan oleh Jin Jing / Editor: Lin Qing




