FAJAR, MAKASSAR — Sejak 2012 hingga kini, Kota Makassar masih dihadapkan pada persoalan kejahatan jalanan, khususnya aksi negatif geng motor yang banyak melibatkan generasi muda. Fenomena ini tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga berdampak pada menurunnya rasa aman masyarakat dalam memanfaatkan ruang publik. Dalam jangka panjang, situasi tersebut membentuk trauma kolektif yang melekat pada warga dan kota itu sendiri.
Di tengah stigma tersebut, terdapat pula sisi lain dari komunitas geng motor yang bergerak secara positif. Sejumlah kelompok justru menunjukkan peran sosial melalui praktik solidaritas, kebersamaan, dan saling mendukung dalam kehidupan berkomunitas.
Berangkat dari realitas itu, program “Trauma Kota” hadir sebagai ruang temu antara seni, warga, dan pemerintah. Kegiatan ini diwujudkan melalui rangkaian pameran foto, seni performans, diskusi publik, serta lokakarya yang digagas oleh Ahmad Amri Aliyyi. Program ini dilaksanakan di lima wilayah di Kota Makassar yang kerap terdampak fenomena geng motor, yakni Kecamatan Rappocini, Mariso, Ujung Pandang, Mamajang, dan Manggala.
Ahmad Amri Aliyyi menjelaskan bahwa “Trauma Kota” bertujuan memulihkan rasa aman warga di ruang publik, sekaligus membuka ruang dialog dan refleksi melalui pendekatan seni. Selain itu, program ini juga mendorong keterlibatan bersama antara masyarakat dan pemerintah dalam menciptakan ruang kota yang lebih aman dan ramah.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Februari 2026 melalui berbagai proses kreatif, termasuk lokakarya performans yang difasilitasi oleh Shinta Febriany, proses pengambilan foto oleh Ahmad Amri Aliyyi, serta kurasi karya oleh Arman Dewarti. Dalam lokakarya tersebut, para peserta mengembangkan gagasan yang berangkat dari pengalaman personal, keresahan, hingga pengamatan mereka terhadap fenomena geng motor di Makassar.
Para peserta juga melakukan riset langsung dengan warga untuk menggali pengalaman serta pandangan terkait persoalan ini. Hasil riset kemudian dielaborasi secara kolektif untuk memahami bagaimana aksi kekerasan geng motor membentuk trauma sosial di tengah masyarakat. Proses ini turut diperkaya dengan pendekatan performans yang kolaboratif, interdisipliner, partisipatoris, dan bersifat happening.
Dari rangkaian tersebut, lahir lima karya seni performans yang dipresentasikan oleh Ahmad Amri Aliyyi, Sukarno Hatta, Nurul Inayah bersama Dwi Lestari Johan, Nirwana Aprianty, serta Dwi Saputra Mario.
Manajer produksi, Widya Handayani, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian program berlangsung mulai 21 April hingga 13 Mei 2026 di lima titik lokasi di Makassar. Selain pameran dan performans, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi publik yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari aparat kepolisian, pemerintah kecamatan, Dinas Kebudayaan, para seniman, hingga korban kekerasan geng motor.
Sejumlah lokasi yang menjadi ruang pelaksanaan kegiatan antara lain Kantor Kelurahan Ballaparang di Kecamatan Rappocini, Sanang Space, Museum Kota Makassar, Mal Ratu Indah, serta Gori Artisan Building. Setiap lokasi menghadirkan pameran foto, pertunjukan performans, dan forum diskusi publik dengan jadwal yang telah disesuaikan.
Program “Trauma Kota” didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana, LPDP, Pemerintah Kota Makassar, serta berbagai institusi dan komunitas seni. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat upaya pemulihan ruang sosial kota melalui pendekatan budaya. (*/)





