FAJAR, MAKASSAR — Kondisi PSM Makassar di musim BRI Super League 2025/2026 menjadi sorotan tajam, terutama setelah rentetan hasil yang jauh dari ekspektasi. Tim berjuluk Pasukan Ramang itu kini justru berkutat di papan bawah klasemen, situasi yang memicu keprihatinan banyak pihak, termasuk legenda mereka sendiri, Luciano Leandro.
Sebagai sosok yang pernah membawa kejayaan bagi PSM, Luciano melihat ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya dalam tubuh tim. Ia menilai secara kualitas, skuad PSM sebenarnya tidak pantas berada di posisi yang mengkhawatirkan seperti saat ini. Bahkan, menurutnya, materi pemain yang dimiliki cukup untuk bersaing di papan atas, bukan sekadar bertahan dari ancaman degradasi.
“PSM bukan tim lemah. Namun tim ini bekerja tanpa ada keseimbangan. secara menyerang mereka punya kualitas . bisa banyak peluang. punya pemain bahaya,” ujar Luciano.
Pandangan tersebut menggambarkan adanya ketimpangan dalam permainan PSM. Di satu sisi, mereka mampu menciptakan peluang dan menunjukkan daya gedor yang cukup berbahaya. Namun di sisi lain, kelemahan mendasar justru muncul saat transisi bertahan. Luciano menyoroti aspek ini sebagai titik krusial yang membuat tim sulit meraih hasil maksimal.
“Tapi kehilangan bola mereka tidak bisa bertahan dengan baik. pemain kehilangan fokus,” lanjutnya.
Masalah kehilangan fokus ini menjadi benang merah dari berbagai hasil negatif yang dialami PSM sepanjang musim. Dalam sepak bola modern, keseimbangan antara menyerang dan bertahan merupakan kunci utama. Ketika satu aspek tidak berjalan optimal, maka dampaknya akan terasa langsung pada hasil akhir pertandingan.
Hal tersebut kembali terlihat saat PSM Makassar harus menelan kekalahan 1-2 dari Borneo FC Samarinda pada pekan ke-28. Pertandingan yang berlangsung di Stadion BJ Habibie itu menjadi pukulan telak bagi tim, bukan hanya karena hasilnya, tetapi juga karena semakin menegaskan posisi mereka di papan bawah klasemen.
Dengan kekalahan tersebut, PSM tertahan di peringkat ke-13 dengan koleksi 28 poin. Posisi ini tentu jauh dari harapan publik Makassar yang terbiasa melihat tim kebanggaan mereka bersaing di papan atas.
Asisten pelatih Ahmad Amiruddin mencoba memberikan penjelasan atas hasil minor tersebut. Ia tidak menampik kekecewaan, namun tetap memberikan apresiasi terhadap semangat juang para pemain yang tidak menyerah hingga akhir pertandingan.
“Saya apresiasi dengan spirit pemain (PSM Makassar). Bisa dilihat dari awal dan kekurangan pemain, mereka masih mau fight untuk minimal menghindari kekalahan, tapi takdir berkata lain,” jelas Ahmad Amiruddin dalam konferensi pers usai laga.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa secara mental, para pemain sebenarnya masih memiliki keinginan kuat untuk bangkit. Namun, dalam sepak bola, semangat saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan organisasi permainan yang solid dan minim kesalahan.
Salah satu faktor yang turut memengaruhi jalannya pertandingan adalah kondisi tim yang tidak ideal. PSM harus bermain dengan 10 pemain di penghujung laga setelah Syahrul Lasinari menerima kartu kuning kedua pada menit ke-85. Situasi ini tentu semakin menyulitkan tim dalam upaya mengejar ketertinggalan.
Selain itu, cedera yang dialami Dusan Lagator juga menjadi pukulan tersendiri. Bek andalan tersebut harus ditarik keluar pada menit ke-31, memaksa tim melakukan perubahan strategi lebih cepat dari yang direncanakan.
“Dari awal dia (Dusan Lagator) coba bantu tim dengan injeksi karena memang ada cedera,” beber Ahmad Amiruddin.
Kehilangan pemain kunci di lini belakang jelas berdampak pada stabilitas pertahanan PSM. Dalam kondisi seperti ini, koordinasi antar pemain menjadi semakin krusial. Sayangnya, justru di sinilah kelemahan PSM kembali terlihat—kurangnya fokus dan organisasi saat bertahan, seperti yang disoroti Luciano sebelumnya.
Jika ditarik lebih luas, kondisi PSM saat ini bukan hanya soal hasil pertandingan semata, tetapi juga mencerminkan persoalan struktural dalam permainan tim. Ketidakseimbangan antara lini depan dan belakang, ditambah dengan inkonsistensi performa, membuat mereka kesulitan keluar dari tekanan.
Ancaman degradasi yang kini membayangi bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan realitas yang harus segera dihadapi dengan serius. Setiap pertandingan ke depan akan menjadi penentuan nasib bagi Pasukan Ramang.
Di tengah situasi ini, evaluasi menyeluruh menjadi kebutuhan mendesak. Tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga mental dan strategi. PSM memiliki kualitas individu yang mumpuni, sebagaimana diakui oleh Luciano, namun tanpa sistem permainan yang solid dan keseimbangan tim, potensi tersebut sulit diterjemahkan menjadi hasil positif.
Musim masih menyisakan pertandingan, dan peluang untuk bangkit tetap ada. Namun waktu tidak banyak. Jika permasalahan mendasar tidak segera diperbaiki, maka PSM Makassar berisiko mengalami salah satu musim terburuk dalam sejarah mereka.
Kini, harapan publik Makassar bertumpu pada kemampuan tim untuk berbenah dengan cepat—mengembalikan fokus, memperbaiki koordinasi, dan menemukan kembali keseimbangan permainan. Karena pada akhirnya, nama besar PSM Makassar menuntut lebih dari sekadar bertahan di kasta tertinggi; mereka dituntut untuk kembali bersaing di level yang seharusnya.





