Asap tipis mengepul dari tungku kayu bercampur udara dingin dini hari di sebuah dapur sederhana milik pasangan lanjut usia bernama Mbah Tari dan Mbah Muh di Desa Drono, Kecamatan Ngawen, Klaten. Diantara sebagian besar warga masih terlelap, justru kobaran api kecil menjadi penanda bahwa aktivitas di rumah itu baru dimulai. Bahkan sebelum ayam berkokok, api itu sudah bergema menuntun langkah pasangan lanjut usia itu.
Tungku sebagai saksi, seorang pria dengan pelan mengaduk bubur dalam panci besar. Ia adalah Mbah Muh, suami Mbah Tari, yang sejak dini hari sudah sibuk menyiapkan bubur lethok kuliner tradisional khas Klaten yang telah menjadi sumber penghidupan keluarga mereka selama puluhan tahun. Bagi pasangan ini, pagi tidak pernah dimulai setelah matahari terbit. Setiap hari, aktivitas mereka dimulai sejak pukul tiga dini hari. Sementara banyak orang masih menikmati kehangatan selimut, Mbah Muh dan Mbah Tari sudah memulai aktivitas di dapur kecil mereka.
Usaha bubur lethok bukanlah usaha baru bagi mereka. Warung sederhana yang dikenal dengan nama Lethok Mbah Tari ini telah berdiri sejak tahun 1991. Artinya, sudah lebih dari tiga dekade pasangan ini setia menghidangkan bubur lethok kepada para pelanggan yang datang dari berbagai daerah setempat.
Mbah Tari sendiri sebenarnya bukanlah generasi pertama dari usaha ini. Usaha tersebut adalah warisan keluarga dari sang ibu. Dari generasi ke generasi, resep dan cara memasak bubur lethok itu terus dijaga hingga saat ini, termasuk penggunaan tungku tradisional yang masih mereka gunakan setiap hari.
Di dapur sederhana itu, Mbah Muh berperan penting dalam proses memasak. Sejak pagi buta ia telah mulai mencuci beras, menyiapkan bahan, hingga memasak bubur di atas tungku kayu bakar. Api yang berkobar lembut dari kayu bakar menghadirkan aroma khas yang jarang ditemui pada proses memasak modern. Di sisi lain, Mbah Tari turut menyiapkan berbagai pendamping yang akan disajikan bersama bubur lethok. Usianya yang kini telah mencapai sekitar 57 tahun, semangat kerjanya masih tampak jelas. Namun pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih besar, sang suami lah yang mengambil alih.
“Biasane jam telu uwis tangi, mulai ngumbah beras, terus tak masak. Mbah tari sek nyiapke ijon-ijon karo bumbune” lirih lembut pria paruh baya sambil mengaduk panci bubur.
Keduanya bekerja berdampingan, saling melengkapi satu sama lain. Jika Mbah Muh fokus memasak bubur hingga matang, Mbah Tari akan menyiapkan dagangan lain dan perlengkapan lainnya untuk berjualan di warung kecil yang berada di depan rumah mereka.
Menjelang pukul setengah enam pagi, bubur yang dimasak sejak dini hari akhirnya siap untuk disajikan. Panci besar yang sebelumnya diisi oleh beras, kini berubah menjadi bubur lembut yang gurih nan hangat.
Tak lama kemudian, warung kecil depan rumah pun mulai dibuka. Pelanggan berdatangan satu per satu, yang mana mereka adalah mayoritas warga sekitar yang sudah menjadi pelanggan setia selama bertahun-tahun. Mereka datang bukan hanya untuk sarapan, tetapi juga untuk menikmati rasa khas bubur lethok yang sulit ditemukan di tempat lain.
Akan tetapi, terdapat satu hal yang menjadikan warung ini berbeda dari kebanyakan tempat makan lainnya. Warung bubur lethok milik Mbah Tari hanya buka dalam waktu yang sangat singkat. Mereka mulai berjualan sekitar pukul 05.30 pagi dan biasanya sudah tutup sekitar pukul 06.30 pagi. Hanya dalam waktu satu jam, bubur sudah habis terjual. Kemudian, aktivitas di warung kembali sepi, dan pasangan ini pun bisa beristirahat setelah bekerja sejak ayam masih terlelap.
Bagi sebagian orang, usaha kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun di balik seporsi bubur lethok yang hangat, tersimpan cerita panjang tentang kerja keras, ketekunan, kesetiaan, dan kebersamaan.
Lebih dari tiga puluh tahun menjalankan usaha yang sama tentu bukan hal mudah. Perubahan jaman, munculnya berbagai jenis makanan modern, hingga tantangan ekonomi tidak serta-merta membuat pasangan ini meninggalkan usaha yang telah menjadi bagian dari hidup mereka. Justru dari dapur sederhana itulah, mereka terus menjaga tradisi kuliner lokal sekaligus mempertahankan sumber penghidupan keluarga.
Cerita tentang Mbah Tari dan suaminya bukan sekadar kisah tentang makanan tradisional. Lebih dari itu, kisah ini menggambarkan bagaimana sebuah usaha kecil bisa bertahan karena adanya kerja sama, kepercayaan, dan ketangguhan dua orang yang saling mendukung. Di tengah kesunyian pagi sebelum matahari terbit, pasangan ini sudah memulai harinya dengan kerja keras. Dari tungku sederhana di dapur rumah mereka, semangkuk bubur lethok bukan hanya menjadi hidangan sarapan, tetapi juga menjadi simbol perjuangan yang terus mereka jalani setiap hari.
Di balik hangatnya bubur lethok yang dinikmati setiap pagi, tersimpan kisah tentang ketekunan yang dimulai sebelum fajar menyingsing.





