Bisnis.com, JAKARTA — Harga kopi global mulai menunjukkan tren pelemahan seiring meredanya gangguan pasokan akibat faktor geopolitik, sekaligus memunculkan kembali risiko kelebihan suplai yang berpotensi menekan harga dalam jangka menengah.
Dilansir Barchart, harga kopi arabika kontrak Mei tercatat turun 2,41% pada Jumat, sementara robusta melemah 2,48%. Koreksi ini terjadi setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan distribusi global dan menurunkan premi risiko pada harga komoditas.
Pergerakan tersebut menegaskan bahwa faktor geopolitik masih menjadi pendorong volatilitas jangka pendek. Namun, tekanan yang lebih fundamental kini berasal dari sisi pasokan global yang mulai longgar.
Ekspektasi panen besar dari Brasil menjadi faktor utama yang menekan harga. Proyeksi Marex Group memperkirakan produksi kopi Brasil musim 2026/2027 mencapai 75,9 juta karung, sementara StoneX memperkirakan 75,3 juta karung, keduanya mengindikasikan rekor baru produksi.
Kondisi ini mendorong proyeksi surplus kopi global 2026 mencapai 10 juta karung, melonjak signifikan dari 1,8 juta karung pada 2025 dan menjadi yang terbesar dalam enam tahun terakhir.
Dari sisi lain, Vietnam sebagai produsen robusta terbesar dunia turut memperkuat tekanan suplai. Ekspor kopi Vietnam periode Januari—Maret 2026 meningkat 14% secara tahunan menjadi 585.000 ton, dengan produksi 2025/2026 diproyeksikan mencapai 1,76 juta ton, tertinggi dalam empat tahun.
Lonjakan produksi dari dua negara tersebut memperkuat tren pelemahan harga, terutama di tengah pertumbuhan konsumsi global yang mulai melambat.
Ketua Kompartemen Industri Hilir Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Moelyono Soesilo menilai tren penurunan harga masih akan berlanjut.
“Harga kopi trennya akan menurun karena terjadi oversupply atau surplus produksi kopi dunia di tahun 2026/2027,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (19/4/2026).
Dia menjelaskan, meskipun konsumsi global masih tumbuh, lajunya cenderung melambat akibat harga yang sempat tinggi serta kondisi ekonomi global yang belum stabil. Perubahan ini mendorong pergeseran pola konsumsi, terutama di negara maju.
Kondisi tersebut mendorong perubahan pola konsumsi, terutama di negara maju. Data Asosiasi Kopi Nasional AS menunjukkan 85% konsumsi kopi dilakukan di rumah, tertinggi sejak 2012, mencerminkan penurunan konsumsi di luar rumah yang biasanya memiliki margin lebih tinggi.
Selain itu, segmen konsumen menengah ke bawah mulai beralih ke minuman alternatif akibat harga kopi yang relatif mahal sebelumnya.
Meski demikian, tekanan harga tidak sepenuhnya bersifat linear. Sejumlah faktor masih berpotensi menahan penurunan lebih dalam.
Dari sisi pasokan jangka pendek, ekspor kopi Brasil justru mengalami kontraksi. Data Cecafe menunjukkan ekspor kopi hijau Brasil pada Maret turun, sementara laporan Kementerian Perdagangan Brasil mencatat penurunan hingga 31% secara tahunan.
Faktor cuaca juga menjadi variabel penting. Curah hujan di wilayah Minas Gerais, sentra produksi arabika Brasil, hanya mencapai sekitar 20% dari rata-rata historis. Kondisi ini berpotensi menekan produktivitas dan menahan pelemahan harga lebih lanjut.
Di sisi lain, pasar robusta masih mendapat dukungan dari ketatnya persediaan. Stok robusta ICE tercatat berada di level terendah dalam lebih dari satu tahun, mencerminkan ketidakseimbangan pasokan jangka pendek.
Penguatan Dolar AS Turut Tekan Harga KopiTekanan tambahan datang dari faktor makro, khususnya penguatan dolar AS yang mendorong aksi jual di pasar berjangka dan mengurangi daya tarik komoditas bagi investor global.
Sejumlah analis memperkirakan harga kopi masih memiliki ruang penurunan. Namun, struktur permintaan yang relatif stabil membuat risiko penurunan ekstrem dinilai terbatas dibandingkan komoditas lain.
Bagi Indonesia, dinamika ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Dari sisi pasar, ekspor masih bertumpu pada negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Mesir, dan India.
Namun, dari sisi daya saing, Indonesia masih tertinggal dalam volume produksi dibanding Brasil dan Vietnam, tetapi tetap kompetitif dari sisi harga.
“Secara volume masih jauh tertinggal, tetapi untuk harga masih bisa bersaing,” kata Moelyono.
Dengan demikian, penurunan harga kopi saat ini tidak hanya mencerminkan normalisasi pasca-geopolitik, tetapi juga menandai pergeseran siklus pasar menuju fase surplus.
Tanpa gangguan signifikan dari faktor cuaca atau logistik, tekanan harga berpotensi berlanjut meski tidak dalam skala ekstrem.





