BMKG memprediksi bahwa wilayah Jabodetabek akan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada hari ini. Wilayah yang diprediksi paling rawan menerima hujan lebat meliputi Tangerang Selatan, Jakarta Utara, serta Kota Bogor.
Di wilayah lainnya seperti Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kepulauan Seribu, Kota dan Kabupaten Bekasi, serta Depok, curah hujan juga diperkirakan akan terjadi dengan intensitas sedang.
Suhu udara di Jakarta hari ini berkisar antara 24 hingga 32 derajat Celsius dengan kelembapan relatif mencapai 60-96 persen.
Sementara itu, wilayah penyangga Ibu Kota seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mengalami suhu antara 21 hingga 33 derajat Celsius, dengan kelembapan juga tinggi berkisar 55-96 persen. Kondisi ini menunjukkan potensi cuaca yang mendukung terbentuknya awan hujan di kawasan tersebut.
Potensi Dampak dan Waspada Bencana HidrometeorologiHujan lebat yang diprediksi oleh BMKG berpotensi menimbulkan sejumlah dampak hidrometeorologi di wilayah Jabodetabek. Risiko yang harus diwaspadai antara lain munculnya genangan air di beberapa daerah, luapan sungai yang dapat menyebabkan banjir, serta tanah longsor di daerah yang rawan.
Kota Bogor dan sekitarnya khususnya sangat perlu mendapat perhatian lebih karena intensitas hujan yang diperkirakan mencapai kategori sangat lebat.
BMKG mengingatkan bahwa masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor harus meningkatkan kewaspadaan, karena perubahan cuaca yang terjadi bisa berlangsung secara tiba-tiba.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat sangat penting agar dapat meminimalkan dampak buruk yang mungkin timbul, terutama mengingat adanya potensi gangguan pada aktivitas sehari-hari.
Baca Juga:BMKG: Musim Hujan Akan Selesai, Digantikan Musim Kemarau pada Bulan April 2026
Fenomena hujan yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh berbagai dinamika atmosfer yang kompleks. BMKG menjelaskan bahwa gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), menjadi faktor utama yang meningkatkan aktivitas pembentukan awan hujan di wilayah Jabodetabek.
Selain itu, sedang berlangsung peralihan monsun dari Monsun Asia menuju Monsun Australia yang menyebabkan perubahan pola angin dan konvergensi di sejumlah kawasan. Kondisi ini juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan terutama di sekitar pusat sirkulasi angin serta daerah yang terdampak pola angin tersebut.
BMKG memprediksi bahwa musim kemarau di wilayah Jakarta dan sekitarnya baru akan dimulai pada Mei mendatang. Masa peralihan antara musim hujan ke musim kemarau ini menjadi penyebab seringnya terjadinya hujan dengan intensitas bervariasi dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga:BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Awal di Sebagian Wilayah Indonesia





