PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) mencatat penurunan kerugian sepanjang tahun lalu dengan rugi bersih Rp366 miliar.
IDXChannel - PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) mencatat penurunan kerugian sepanjang tahun lalu. Pemilik lisensi KFC Indonesia dan Taco Bell itu membukukan rugi bersih sebesar Rp366 miliar, turun 54 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp797 miliar.
Dalam laporan keuangan yang dikutip Senin (20/4/2026), KFC mencatat pendapatan yang stagnan pada tahun lalu sebesar Rp4,88 triliun. Segmen makanan dan minuman mendominasi pendapatan sebesar Rp4,87 triliun atau 99,8 persen dari total pendapatan.
Perseroan juga memperoleh komisi atas penjualan konsinyasi terkait CD dan musik digital Rp16,9 miliar, turun dibandingkan 2024 sebesar Rp19,6 miliar. Kemudian ada juga pendapatan dari jasa layanan antar sebesar Rp2,25 miliar, tumbuh 18 persen.
Meski pendapatan tak berubah, KFC berhasil menekan beban pokok pendapatan sebesar 1,8 persen menjadi Rp1,99 triliun. Hal ini mendorong laba kotor naik tipis 1,6 persen menjadi Rp2,89 triliun.
Selain itu, perseroan juga gencar melakukan efisiensi operasional seperti beban penjualan dan distribusi (-4 persen) serta beban umum dan administrasi (-4 persen). Berkurangnya beban itu juga sejalan dengan jumlah gerai yang turun dari 715 menjadi 690 gerai.
Penurunan signifikan terjadi pada pos beban operasi lain sebesar 70 persen menjadi 83 miliar dan menghasilkan pendapatan operasi lain sebesar Rp156 miliar, naik 149 persen. Perbaikan tersebut terkait dengan penurunan kerugian kredit ekspektasi piutang.
Alhasil, rugi operasional turun tajam hingga 60 persen menjadi Rp312 miliar. Rugi tahun berjalan secara konsolidasi juga ikut turun menjadi Rp369 miliar dengan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp366 miliar.
Perbaikan pada laporan laba rugi juga tercermin dari arus kas yang membaik, sehingga posisi kas dan setara kas naik 126 persen menjadi Rp147 miliar.
Arus kas bersih dari aktivitas operasi naik 37 persen menjadi Rp204 miliar. Sementara, utang perseroan secara neto meningkat sebesar Rp959 miliar. Kenaikan utang ini membuat kas naik dan belanja modal meningkat tajam hampir empat kali lipat menjadi Rp812 miliar.
(Rahmat Fiansyah)





