MAKASSAR, KOMPAS - Harga elpiji kemasan tabung 12 kilogram di Makassar, Sulawesi Selatan diecer hingga Rp 250.000 per tabung. Hal ini merupakan imbas kenaikan harga elpiji oleh Pertamina. Penjual dan pembeli mengeluhkan kenaikan harga yang dinilai drastis.
Sejumlah pedagang elpiji di wilayah Kota Makassar menjual gas kemasan tabung 12 kilogram dengan harga tinggi. Di wilayah Pasar Toddopuli, misalnya, seorang pedagang menjual gas dengan harga eceran hingga Rp 250.000 per tabung. Kenaikan harganya mencapai Rp 30.000 per tabung.
“Dari pangkalan juga naik, jadi kami terpaksa naikkan (harga). Kami jual di harga Rp 250.000 per tabung, padahal sebelumnya Rp 220.000,” kata Winda (40), salah seorang pedagang, Senin (20/4/2026).
Kenaikan harga gas elpiji non-subsidi, kata Winda, mulai terjadi sejak akhir pekan ketiga April 2026. Pengelola pangkalan memberitahukan adanya penyesuaian harga. Akhirnya, harga jual di tingkat pengecer juga berubah.
Kenaikan harga juga terjadi pada elpiji kemasan 5,5 kilogram. Saat ini, satu tabung dijual Rp 120.000 atau naik Rp 15.000 dari harga sebelumnya. “Pembeli pada protes, dikira kami yang menaikkan, tetapi (kenaikan) itu dari sananya harga sudah naik,” keluhnya.
Kenaikan harga elpiji nonsubsidi terjadi secara merata. Nurul (52), pedagang lainnya menuturkan, dirinya menjual satu tabung gas ukuran 12 kg seharga Rp 145.000. Ia mengambil selisih Rp 15.000 untuk gaji karyawan, untung, dan biaya pengantaran.
Kenaikan itu dinilai cukup tinggi, yaitu Rp 30.000, dibandingkan harga sebelumnya. Sementara itu, gas ukuran 5,5 kg saat ini dijual Rp 115.000, naik dari harga sebelumnya, yakni Rp 97.000. Ia mendapat pemberitahuan kenaikan harga dari pihak pangkalan pada akhir pekan ketiga April 2026.
“Mau tidak mau harus naik karena memang dari harga di pangkalan yang naik. Katanya se-Indonesia memang naik. Jadi kalau ada pembeli yang protes kami sampaikan hal yang sama,” tambahnya.
Sejumlah pedagang dan pengguna elpiji nonsubsidi pun mengeluhkan kenaikan harga yang dinilai cukup drastis. Mereka harus memutar otak agar tetap bisa membeli elpiji untuk penggunaan sehari-hari.
Zakiah (53), seorang ibu rumah tangga, kaget dengan kenaikan harga gas yang menurut dia luar biasa. Ia memang pengguna Bright Gas untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak mau memakai gas subsidi. Namun, kenaikan ini membuatnya cukup khawatir. ”Biasanya naik itu Rp 5.000 sampai Rp 10.000, ini tiba-tiba sampai Rp 30.000. Masalahnya, nanti yang lain ikut naik juga,” keluhnya.
Sementara itu, Senior Supervisor Communication Relation Sulawesi Pertamina Patra Niaga Okky Aditya Wibowo menuturkan, pihaknya memastikan ketersediaan LPG non-subsidi, termasuk Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg, tetap terjaga dengan baik di tengah dinamika harga energi global. Penyesuaian harga yang dilakukan merupakan bagian dari evaluasi berkala guna menjaga keberlanjutan pasokan dan layanan energi pada masyarakat.
Saat ini, harga Bright Gas 5,5 kg mengalami penyesuaian dari sekitar Rp 90.000 menjadi Rp 111.000 per tabung atau sekitar 18,8 persen. Sementara itu, harga Bright Gas ukuran 12 kg naik dari Rp 192.000 menjadi Rp 230.000 per tabung atau sekitar 18,7 persen.
“Harga elpiji non-subsidi ditetapkan di tingkat agen resmi dan dapat bervariasi di tingkat penyalur seiring dengan perbedaan biaya distribusi dan kondisi wilayah. Meski demikian, Pertamina terus berupaya menjaga stabilitas distribusi agar produk tetap mudah diakses oleh masyarakat,” ujarnya.
Di tengah dinamika global, kata dia, Pertamina secara konsisten melakukan monitoring stok di seluruh rantai distribusi serta memperkuat koordinasi dengan agen dan pangkalan. Harapannya, kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi dengan baik.





