Liputan6.com, Jakarta - Upaya misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 untuk menembus blokade Gaza, Palestina, tidak hanya dilakukan lewat jalur laut maupun darat. Upaya diplomasi lewat jalur politik juga dilakukan melalui Konferensi Global Sumud Parlemen.
Pada Minggu, 19 April 2026, enam perwakilan delegasi Indonesia yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) bertolak ke Brussel, Belgia, yang menjadi lokasi penyelenggaraan konferensi tersebut.
Advertisement
Delegasi yang berangkat antara lain General Manager Dompet Dhuafa Arif Rahmadi Haryono, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim, akademisi sekaligus pakar hukum tata negara Feri Amsari, Prof Heru Susetyo dari Universitas Indonesia, serta Gustika Hatta yang merupakan cucu proklamator.
Anggota Dewan Pengarah GPCI, Irvan Nugraha yang turut melepas keberangkatan menjelaskan misi Global Sumud Flotilla dijalankan melalui berbagai jalur yang saling terhubung.
"Jadi secara umum memang Sumud Flotilla ini ada berbagai macam jalur. Jadi ada jalur laut yang kemarin kita sudah ada Teh Maimon Herawati dan juga Chiki Fawzi. Lalu ada jalur darat yang nanti insyaallah akan diberangkatkan dalam waktu dekat. Dan ini adalah jalur, mungkin kami bisa menyebutnya jalur politik ya," kata Irvan kepada wartawan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Irvan menegaskan, upaya untuk menembus blokade Gaza memang harus didukung melalui berbagai macam upaya, termasuk lewat tekanan politik.
"Nah ini bagian dari kami melihat ini harus melihatnya dari satu kesatuan satu bagian dari Sumud Flotilla itu sendiri," katanya.




