FAJAR, GIANYAR –Ambisi besar yang diusung Malut United di musim Super League 2025/2026 sejauh ini belum berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Klub yang berani berinvestasi besar dengan mendatangkan pemain-pemain berlabel juara—termasuk dari Persib Bandung dan PSM Makassar—justru tampil inkonsisten dan kini harus menerima kenyataan pahit: babak belur di tengah ketatnya persaingan liga.
Kekalahan telak 1-4 dari Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta menjadi potret paling jelas dari masalah yang sedang dihadapi tim berjuluk Laskar Kie Raha tersebut. Bukan hanya soal skor, tetapi juga bagaimana jalannya pertandingan memperlihatkan rapuhnya mental dan konsistensi permainan mereka.
Sejak awal laga, Malut United sebenarnya menunjukkan tanda-tanda positif. Mereka tampil berani dan mampu memberikan tekanan kepada tuan rumah. Bahkan, dalam dua menit pertama, penetrasi cepat yang dilakukan Taufik Rustam sempat membuka peluang penalti. Namun, harapan itu pupus setelah wasit meninjau VAR dan memutuskan tidak ada pelanggaran.
Sepanjang babak pertama, efektivitas menjadi keunggulan Malut United. Dari dua percobaan tembakan, keduanya tepat sasaran. Upaya tersebut membuahkan hasil ketika Ciro Alves sukses mencetak gol pada menit ke-32, memanfaatkan assist matang dari Taufik Rustam. Gol ini sempat memberi harapan bahwa Malut United mampu mencuri poin dari kandang lawan.
Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Bali United merespons dengan cepat dan menyamakan kedudukan melalui eksekusi penalti Teppei Yachida pada menit ke-40. Momentum pun mulai bergeser.
Memasuki babak kedua, Malut United tetap berusaha menjaga intensitas serangan. Mereka bahkan mencatat lima percobaan tembakan hingga menit ke-61. Akan tetapi, alih-alih menambah gol, justru gawang mereka kembali kebobolan.
Gol kedua Bali United yang dicetak Joao Ferrari pada menit ke-63 menjadi titik balik pertandingan. Gol tersebut lahir dari situasi bola mati yang dipicu oleh keputusan kontroversial wasit. Wbeymar Angulo dianggap melakukan pelanggaran, meskipun kubu Malut United menilai perebutan bola berlangsung bersih.
Keputusan ini memicu protes keras dari para pemain. Situasi tersebut tampaknya berdampak besar terhadap fokus permainan mereka. Pelatih Malut United, Hendri Susilo, secara terbuka mengakui bahwa timnya kehilangan ritme setelah insiden tersebut.
“Berbagai kondisi yang terjadi akibat keputusan wasit membuat kami kehilangan sentuhan,” ujar Hendri Susilo usai pertandingan.
Setelah gol kedua tersebut, Bali United semakin percaya diri. Mereka memanfaatkan momentum dengan sangat efektif. Dua gol tambahan masing-masing dicetak oleh Boris Kopitovic pada menit ke-67 dan Thijmen Goppel pada menit ke-77. Skor pun melebar menjadi 4-1, sekaligus menutup peluang Malut United untuk bangkit.
Meski tertinggal jauh, Malut United tetap berusaha memberikan perlawanan. Mereka mencatatkan total sembilan tembakan dengan empat di antaranya tepat sasaran. Bahkan, di penghujung laga, mereka kembali memiliki peluang penalti setelah bola diduga mengenai tangan pemain Bali United di dalam kotak terlarang. Namun sekali lagi, setelah tinjauan VAR, wasit memutuskan tidak ada pelanggaran.
Keputusan tersebut semakin mempertegas rasa frustrasi di kubu Malut United. Hendri Susilo tidak menutupi kekecewaannya dan bahkan menyebut timnya menjadi korban dari ketidakadilan.
“Pertandingan yang berkelas, tapi kami menjadi korban ketidakadilan malam ini,” cetus pelatih berusia 60 tahun tersebut.
Namun jika ditarik lebih dalam, persoalan Malut United tidak bisa semata-mata disederhanakan pada faktor kepemimpinan wasit. Ada masalah yang lebih fundamental, yakni ketidakmampuan menjaga konsistensi permainan selama 90 menit. Mereka mampu tampil baik dalam fase tertentu, tetapi mudah kehilangan fokus ketika menghadapi tekanan atau situasi kontroversial.
Investasi besar yang telah dikeluarkan untuk membangun skuad bertabur pemain berpengalaman sejatinya diharapkan mampu memberikan stabilitas. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa membangun tim solid tidak cukup hanya dengan mengumpulkan nama besar. Dibutuhkan keseimbangan taktik, chemistry antar pemain, serta mentalitas yang kuat.
Kekalahan ini menjadi pengingat keras bagi Malut United bahwa perjalanan di Super League tidak bisa hanya mengandalkan reputasi. Tanpa perbaikan menyeluruh, baik dari sisi teknis maupun mental, mereka berisiko terus terpuruk meski memiliki materi pemain yang mentereng.
Musim masih berjalan, tetapi waktu untuk berbenah semakin sempit. Jika tidak segera menemukan solusi, ambisi besar yang dibangun dengan investasi tinggi bisa berakhir menjadi kekecewaan panjang.





