Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak semua pihak menghentikan polemik terkait potongan pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK). MUI mengajak semua pihak menjaga persatuan.
"MUI meyakini bahwa sebagai tokoh bangsa yang memiliki jasa besar dalam sejarah perdamaian Indonesia, pernyataan Bapak Jusuf Kalla perlu dipahami dalam konteks sejarah yang utuh dan komprehensif, bukan sebagai upaya menghidupkan sentimen negatif. Kami memandang pentingnya pelurusan konteks agar masyarakat tidak terjebak pada interpretasi yang menyimpang dari maksud aslinya," ujar Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Zainut Tauhid Sa'adi, dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (20/4/2026).
Dia mengatakan sejarah perjalanan bangsa seharusnya diletakkan sebagai sumber kearifan. Dia menyebut semua pihak harus mengambil hikmah dari setiap peristiwa masa lalu.
"Dalam menjaga suasana kebangsaan yang kondusif, MUI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa mengedepankan diksi yang menyejukkan dan mempersatukan. Kedewasaan kita dalam berbangsa tercermin dari kemampuan kita mengubah setiap dinamika menjadi energi positif yang memperkokoh persatuan nasional, sehingga setiap tutur kata yang muncul di ruang publik menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian.
(haf/dhn)





