Duduk Perkara Banjir Berwarna Merah di Surakarta, Apa Penyebabnya?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Sejumlah video menunjukkan genangan air berwarna merah di tengah permukiman viral di media sosial. Belakangan diketahui peristiwa itu terjadi di Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada pekan lalu. Bagaimana duduk perkaranya?

Genangan air berwarna merah itu pertama kali diketahui warga di RW 006 Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Rabu (15/4/2026) pagi. Peristiwa itu terjadi saat banjir datang pada Selasa (14/4/2026) malam hingga Rabu siang.

Lurah Joyotakan Bambang Kristianto mengatakan, warga RW 006 awalnya panik mengetahui banjir di wilayah mereka berwarna merah. Masyarakat khawatir warna merah itu berasal dari zat kimia berbahaya atau limbah.

Hal itu lantas dilaporkan ke pihak kelurahan. Kemudian, petugas kelurahan bersama pihak-pihak terkait mengecek ke lokasi.

Sesampainya di lokasi, penyisiran pun dilakukan. Dalam kegiatan itu, petugas menemukan warna merah di air banjir tersebut keluar dari sebuah bungkusan plastik di sekitar pintu air.

“Waktu kami bertanya ke warga, ternyata bungkusan plastik itu terjatuh dari sebuah mobil yang beberapa hari sebelumnya melintas di wilayah itu. Karena takut mengganggu, warga mengambil bungkusan itu kemudian meletakkannya di pinggir jalan,” kata Bambang saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Baca JugaBanjir Rendam Tiga Daerah di Solo Raya, Ribuan Orang Mengungsi

Saat banjir melanda, bungkusan plastik yang awalnya tidak diketahui isinya itu pun terbawa air sampai di sekitar pintu air. Kemudian, keluar warna merah dari plastik tersebut.

Warga menduga, bungkusan plastik itu berisi tinta sablon. Dugaan itu muncul karena plastik terjatuh dari mobil, yang diduga milik salah satu perusahaan sablon di sekitar wilayah itu.

Pada Rabu siang, banjir di Joyotakan berangsur surut. Air merah yang sebelumnya menggenang di wilayah RW 006 juga surut. Bambang menyebut, banjir berwarna merah itu hanya menggenang di satu titik, tidak sampai menyebar ke wilayah lain.

Menurut Bambang, setelah kejadian tersebut, pengecekan terhadap sampel air tidak dilakukan. Hal itu karena sumber warna merah itu sudah diketahui, yaitu berasal dari sebuah plastik yang diduga berisi tinta sablon.

Baca JugaBanjir di Solo Raya Surut, Ribuan Pengungsi Kembali ke Rumah

Di samping itu, kata Bambang, masyarakat setempat juga tidak mengeluhkan dampak apapun dari adanya air banjir berwarna merah itu.

“Sementara ini, warga belum ada keluhan gatal atau apapun setelah terkena air itu. Mereka yang sempat khawatir sudah tenang setelah tahu kalau merahnya itu dari pewarna di plastik itu, bukan buangan limbah dari pabrik atau buangan perusahaan,” ucapnya.

Bambang menyebut, kejadian menghebohkan seperti banjir berwarna merah baru kali ini terjadi di wilayahnya. Ia mengimbau masyarakat melapor ke pihak kelurahan apabila mengetahui atau menemukan adanya benda-benda mencurigakan, seperti bungkusan plastik.

Dengan begitu, benda itu bisa segera diambil dan dibuang ke tempat yang seharusnya supaya tidak meresahkan masyarakat.

Baca JugaBebersih Pascabanjir yang Mengejutkan Warga Solo Raya

Sementara ini, warga belum ada keluhan gatal atau apapun setelah terkena air itu

Sebelumnya, sejumlah daerah di wilayah Solo Raya, Jateng, banjir akibat luapan sungai dan anak sungai Bengawan Solo pada Selasa. Beberapa daerah yang sempat dilanda banjir antara lain Kota Surakarta, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Klaten.

Di Surakarta, banjir merendam 12 kelurahan di 4 kecamatan, yakni Laweyan, Pasar Kliwon, Serengan, dan Jebres, sejak Selasa malam. Kondisi itu membuat ratusan rumah yang dihuni 988 keluarga terdampak.

Ratusan warga pun sempat mengungsi ke sejumlah titik karena banjir dengan ketinggian 20-50 sentimeter merendam permukiman mereka.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta Ari Dwi Daryatmo mengatakan, banjir dipicu luapan anak sungai dan sungai Bengawan Solo. Peningkatan debit air di sungai-sungai itu terjadi karena hujan lebat turun di sejumlah wilayah di Solo Raya.

”Banjir yang dampaknya cukup signifikan seperti ini baru kali ini terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Keterangan dari warga, dulu pernah ada banjir seperti ini, sekitar 20 tahun lalu,” kata Ari.

Namun, pada Kamis (16/4/2026), banjir yang menggenangi beberapa wilayah Solo Raya itu telah surut. Masyarakat yang sempat mengungsi pun telah kembali ke rumah.

”Banjir sudah surut semua. Seluruh warga yang sempat mengungsi juga sudah kembali ke rumah masing-masing,” kata Ari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PSI Banten Tancap Gas Perkuat Struktur Hingga Akar Rumput, Andra Soni Beri Pujian
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Formasi Berani Marcos Reina saat Persik Tekuk Persita di BRI Super League: Lini Pertahanan Full Lokal, Sektor Lain Diisi 7 Impor
• 3 jam lalubola.com
thumb
Harga BBM Pertamax Dikabarkan bakal Naik, Ini Penjelasan Pertamina
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Pertamax Turbo Naik, Konsumen Berpotensi Pindah ke BBM Bersubsidi, Bahlil: Apa Gak Malu?
• 38 menit lalurepublika.co.id
thumb
Warga Jabar Siap-Siap, Dedi Mulyadi Bakal Bangun 24 Sekolah Lagi, Begini Rencana Besarnya
• 13 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.