Shen Zhou
Setelah militer AS melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran melalui “Operasi Epic Fury”, mereka kembali memanfaatkan keunggulan laut untuk memberlakukan blokade terhadap Iran. Langkah ini tidak hanya “menyumbat” kapal-kapal Iran di mulut Teluk Oman, tetapi juga secara efektif memutus jalur bantuan militer laut dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke Iran.
Angkatan Laut PKT yang mengklaim telah memiliki kemampuan operasi jarak jauh ternyata tidak mampu berbuat banyak. Di tengah kembali terlihatnya kesenjangan kekuatan militer AS–Tiongkok, PKT kini lebih khawatir bahwa mereka sendiri bisa menjadi target blokade berikutnya oleh militer AS.
Kondisi geografis unik dalam blokade lautPada 12 April, Komando Pusat AS mengumumkan bahwa mulai pukul 10 pagi waktu AS Timur tanggal 13 April, semua kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran akan diblokade, namun tidak akan mengganggu kapal lain yang melintasi Selat Hormuz.
Militer AS menarik garis blokade di sisi barat pintu keluar Teluk Oman. Ujung utara berada di perbatasan pesisir Iran dan Pakistan, sementara ujung selatan berada di sebuah tanjung di Oman. Kapal perusak AS berjaga di luar garis ini, dan setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar Iran akan dicegat.
Selat Hormuz yang menjadi perhatian dunia terletak di sisi timur Teluk Oman. Iran selama ini mengancam kapal-kapal yang melintas di sana, sementara negara lain tampaknya tidak memiliki banyak cara untuk menanggapi. Iran mungkin merasa memiliki keunggulan strategis geografis, namun dengan adanya blokade laut oleh AS, Iran justru kembali berada dalam posisi strategis yang lemah.
Teluk Arab (atau Teluk Persia) merupakan “jalan buntu” seperti dasar botol. Kapal-kapal minyak yang menuju atau keluar dari Irak, Kuwait, wilayah timur Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan bagian utara Oman semuanya harus melewati Selat Hormuz, memberi Iran daya tawar untuk menekan negara lain. Namun Iran sendiri juga berada di dalam “botol” tersebut. Pintu keluar melalui Teluk Oman kini diblokade oleh AS, sehingga jalur laut Iran praktis terputus.
Di sebelah utara Iran terdapat Laut Kaspia, yang sebenarnya adalah danau besar tertutup. Karena kadar garamnya tinggi, ia disebut laut, tetapi tidak terhubung dengan samudra. Rusia dapat memberikan bantuan ke Iran melalui jalur ini. Namun Rusia saat ini terjebak dalam perang Ukraina, kekurangan persediaan rudal, bahkan produksi sendiri tidak mencukupi. Diperkirakan hanya mampu menyediakan sedikit drone. Rusia mungkin masih bisa memberi rudal pertahanan udara portabel, tetapi hal itu tidak cukup untuk memulihkan kemampuan balasan Iran dengan cepat.
Iran tidak berani membalas dengan mudahUntuk mendorong negosiasi, AS sempat menghentikan serangan militer terhadap Iran. Namun setelah perundingan gagal, militer AS segera memberlakukan blokade laut.
Kapal perusak AS kini berada di depan “pintu rumah” Iran, tetapi Iran yang biasanya lantang kini tidak menunjukkan reaksi apa pun. Iran sebenarnya masih memiliki sisa rudal anti-kapal yang bisa digunakan untuk menyerang kapal perang AS, setidaknya sebagai aksi simbolis. Iran juga masih memiliki sejumlah kecil rudal darat-ke-darat dan drone untuk menyerang kembali pangkalan AS di Timur Tengah. Namun Iran tidak berani bertindak gegabah.
Di bawah serangan udara AS, Iran telah kehilangan sebagian besar kapasitas produksi militernya. Jika sisa rudal dan drone digunakan, maka kemampuan balasan terakhir pun bisa hilang. Iran juga memiliki kapal cepat bersenjata yang dapat digunakan untuk serangan bunuh diri, tetapi belum terlihat adanya pengerahan.
Bahkan jika Iran melancarkan serangan balasan terakhir, dampaknya kemungkinan sangat kecil bagi AS. Namun jika serangan itu menyebabkan korban di pihak AS, dapat dipastikan balasan AS akan jauh lebih keras, menghancurkan hampir seluruh fasilitas militer Iran. Hal paling berbahaya, tokoh-tokoh yang saat ini memegang atau mencoba merebut kekuasaan di Iran kemungkinan kembali menjadi target eliminasi.
Para pemimpin sementara Iran tampaknya tidak bisa mengandalkan bantuan luar. Demi keselamatan mereka sendiri, pilihan paling rasional adalah tidak mengambil risiko dengan membalas AS.
Pada 16 April, Komando Pusat AS mengeluarkan pemberitahuan pelayaran baru yang mempertahankan hak untuk menginspeksi kapal Iran, kapal yang terkena sanksi, serta kapal yang diduga membawa barang terlarang. Barang tersebut mencakup senjata, amunisi, bahan peledak, peralatan militer, serta minyak mentah, bahan nuklir, logam, dan mesin.
Militer AS bahkan akan melakukan inspeksi di luar wilayah tanggung jawab Komando Pusat, termasuk di Samudra Pasifik. Artinya, setiap kapal yang mencoba mengirim bantuan militer ke Iran melalui laut berpotensi dicegat oleh AS—ini terutama ditujukan kepada PKT. Presiden AS Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan bahwa PKT telah menjamin tidak akan mengirim senjata ke Iran, namun militer AS tidak sepenuhnya mempercayainya dan tetap bersiap melakukan pencegatan.
PKT kemungkinan akan mencoba mengirim bantuan secara diam-diam melalui jalur darat. Transportasi kereta kemungkinan sulit dilakukan, sehingga hanya bisa melalui kendaraan darat dengan kapasitas terbatas, membuat pengiriman peralatan berat menjadi sulit.
Rute paling mudah adalah melalui Pakistan. Namun Pakistan saat ini sedang berperan sebagai mediator dalam perundingan AS–Iran dan melihat peluang untuk mempererat hubungan dengan AS, sehingga kemungkinan tidak ingin terlibat dalam pengiriman bantuan militer ke Iran. Jalur melalui negara-negara Asia Tengah akan jauh lebih sulit, sehingga bantuan yang dapat diberikan kepada Iran pun sangat terbatas.
Pada 16 April 2026, Marinir AS melakukan pelatihan pengangkutan barang menggunakan helikopter di dek kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7). (Komando Pusat AS) Angkatan Laut dan Udara PKT tidak berani ikut campurTransportasi laut merupakan cara utama PKT untuk membantu Iran, namun kini telah diputus oleh militer AS. Setelah tiga kapal induk diluncurkan, Angkatan Laut PKT berulang kali mengklaim memiliki kemampuan operasi laut jauh, tetapi menghadapi ketegangan di Timur Tengah, mereka hampir tanpa ragu memilih mundur.
Kapal induk PKT memang beberapa kali berlayar melewati Rantai Pulau Pertama, bahkan hingga Rantai Pulau Kedua, tetapi belum pernah memasuki Samudra Hindia, apalagi mencapai Laut Arab. Terlepas dari kemampuan tempur sebenarnya, masalah logistik saja sudah menjadi tantangan besar.
PKT memiliki pangkalan militer di Djibouti, Afrika, dan secara rutin mengirim armada kecil untuk rotasi. Formasi tipikal biasanya terdiri dari 1 kapal perusak tipe 052D, 1 fregat tipe 054A, dan 1 kapal logistik. Jika mengirim 2 kapal perusak, kemungkinan 1 kapal logistik tidak cukup. Jika menggunakan armada kapal induk, mungkin dibutuhkan lebih dari 2 kapal logistik atau kapal logistik harus bolak-balik dengan pengawalan kapal perusak.
Dari sisi bahan bakar saja, PKT sudah kesulitan menopang armada besar ke Timur Tengah. Persediaan amunisi, makanan, dan layanan medis juga berpotensi tidak mencukupi. Jika kapal perang PKT sering mengalami gangguan teknis saat operasi, lalu hanya muncul sebentar dan mundur, itu justru akan mempermalukan mereka.
Angkatan Laut PKT juga tidak memiliki pengalaman tempur nyata dengan kapal besar, bahkan metode pelatihannya diragukan, dan waktu pelayaran tiap tahun terbatas—sehingga begitu masuk ke potensi medan tempur, kelemahan akan mudah terlihat.
Menghadapi blokade laut AS yang sangat dominan, PKT tidak berani mengambil risiko. Militer AS memiliki keunggulan laut sekaligus udara di Timur Tengah, sementara Angkatan Laut PKT tidak mendapat dukungan udara, sehingga posisinya makin lemah.
Angkatan Udara PKT juga sering mengklaim telah memasuki era kekuatan udara strategis, tetapi kemampuan proyeksi sebenarnya sangat terbatas. Pergi ke Timur Tengah hanyalah angan-angan. Pesawat angkut Y-20 secara teori bisa mencapai Iran, tetapi PKT tidak berani memberikan bantuan militer secara langsung dalam situasi ini.
PKT selama ini berupaya membangun pangkalan militer di berbagai belahan dunia untuk menyaingi militer AS. Namun situasi Iran kembali menunjukkan bahwa menjadi sekutu PKT tidaklah dapat diandalkan. Banyak negara kemungkinan melihat bahwa militer PKT tidak dapat diandalkan pada saat kritis; siapa pun yang masih ingin bekerja sama dengannya dianggap tidak bijak.
Peran besar kapal perusak kelas BurkeDalam operasi blokade laut kali ini, militer AS menempatkan kapal perusak kelas Burke di garis depan sebagai kekuatan utama, didukung oleh kapal induk USS Abraham Lincoln di belakang, serta banyak pesawat tempur berbasis darat.
Pada 11 April, dengan resmi beroperasinya kapal perusak kelas Burke USS Harvey C. Barnum Jr. (DDG-124), jumlah kapal aktif kelas ini mencapai 75 unit, dengan 9 sedang dibangun dan 16 telah dipesan.
Kapal pertama kelas ini, USS Arleigh Burke (DDG-51), masih aktif sejak mulai bertugas pada 1991, kini telah beroperasi selama 35 tahun. Sistem peluncur vertikal 90 selnya dapat membawa rudal pertahanan udara Standard-1, Standard-2, Standard-3, dan Sparrow, juga dapat membawa rudal jelajah Tomahawk untuk serangan darat, serta roket anti-kapal selam, dan dilengkapi 1 helikopter. Pada tahun 2024, kapal perusak Arleigh Burke dan Carney membantu Israel mencegat setidaknya 6 rudal balistik Iran.
Kapal terbaru, USS Harvey C. Barnum Jr. (DDG-124), memiliki 96 sel peluncur vertikal, dengan peralatan lebih canggih, serta mampu membawa 2 helikopter. Kapal kelas Burke merupakan platform tempur serba guna, dengan kemampuan pertahanan udara, anti-kapal selam, serangan darat, dan anti-kapal. Kapal ini dapat beroperasi mandiri maupun dalam operasi gabungan melalui sistem Aegis. Kemampuan ini membuatnya cocok untuk berbagai misi, dan penempatan di dekat Iran menunjukkan kepercayaan tinggi militer AS terhadap performanya.
Helikopter SH-60 Seahawk yang dibawa kapal ini dapat dipersenjatai dengan rudal Hellfire dan roket berpemandu presisi, menjadikannya alat efektif untuk blokade jarak dekat dan serangan laut.
Kapal perusak kelas Burke dianggap mewakili standar tertinggi dunia. Jepang dan Korea Selatan mengembangkan kapal perang mereka dengan mengacu pada desain ini. Kapal perusak Tipe 055 dan 052D milik PKT juga menirunya, sehingga media resmi PKT hanya berani menyebut Tipe 055 “mencapai” standar dunia, tetapi tidak berani mengatakan hal yang sama untuk 052D. Meski PKT terus membangun banyak kapal perusak, mereka tampaknya menyadari kesenjangan dengan militer AS masih besar.
Karena kemampuan tempur kapal induk PKT belum sepenuhnya matang, kapal perusak tetap menjadi platform utama untuk anti-kapal, masih dipengaruhi konsep kapal perang era Soviet. Sementara itu, strategi perang laut AS berpusat pada kapal induk, dengan kapal perusak fokus pada pertahanan udara, anti-kapal selam, dan serangan awal ke darat, bukan untuk misi anti-kapal jarak jauh.
Kapal perusak PKT dinilai memiliki kemampuan pertahanan udara yang kurang dan kemampuan anti-kapal selam yang paling lemah. Kapal Tipe 055 yang lebih besar mencoba menggabungkan semua fungsi, sementara Tipe 052D yang lebih kecil hanya mampu memenuhi sebagian kebutuhan tersebut secara terbatas.
Pada 23 Maret 2026, kapal perusak kelas Arleigh Burke Angkatan Laut AS, USS Mustin (DDG-89), tiba di Pangkalan Angkatan Laut Yokosuka, Jepang. (Angkatan Laut AS) PKT juga takut diblokadeSebelum memblokade Iran, militer AS sebenarnya juga telah menerapkan blokade terhadap Venezuela dan Kuba. PKT tidak berani, dan juga tidak memiliki kemampuan, untuk mengganggu operasi blokade militer AS tersebut. Kini, PKT justru harus mengkhawatirkan bahwa suatu hari mereka sendiri bisa menghadapi blokade serupa.
Iran menggunakan Selat Hormuz untuk mengancam dunia, membuat kapal tanker minyak enggan melintas, dan hal ini berdampak besar bagi PKT. Blokade laut AS terhadap Iran pada dasarnya juga memutus jalur impor minyak PKT dari Iran. Melalui operasi nyata, militer AS menunjukkan bahwa mereka sepenuhnya mampu memutus jalur pasokan minyak PKT dari Timur Tengah. Karena itu, selama krisis Iran kali ini, PKT tampak lebih cemas dibanding pihak lain.
Dalam beberapa tahun terakhir, PKT berulang kali menggelar latihan militer di sekitar Taiwan, mengklaim sebagai simulasi “blokade Taiwan”. Mereka menunjukkan kemampuan untuk memblokade Selat Taiwan, tetapi belum tentu mampu memblokade wilayah laut di timur dan selatan Taiwan. Setidaknya, kapal yang dikawal militer AS kemungkinan tidak berani mereka ganggu.
Sebaliknya, jika PKT menyerang Taiwan atau mencoba memblokadenya, militer AS kemungkinan akan melakukan blokade balasan terhadap PKT. AS tidak hanya dapat dengan cepat memutus jalur impor minyak PKT dari Timur Tengah melalui Laut Arab, Samudra Hindia, dan Selat Malaka, tetapi juga dapat memutus jalur perdagangan PKT ke dan dari Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Militer AS juga mampu memblokade Selat Tsushima antara Jepang dan Korea Selatan, Selat Miyako, Selat Bashi antara Filipina dan Taiwan, serta sejumlah selat sempit antara Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Dengan demikian, jalur pelayaran PKT hampir dapat sepenuhnya diputus, dan sulit untuk diatasi. AS dapat memanfaatkan “Rantai Pulau Pertama” sebagai penghalang alami untuk memperoleh keunggulan geografis dan strategis yang besar.
Armada Ketujuh AS memang telah lama dikerahkan di Pasifik Barat. Dengan tambahan kekuatan yang memadai, mereka dapat mewujudkan blokade laut menyeluruh terhadap PKT. Dalam kondisi seperti itu, mesin perang PKT akan sulit beroperasi, dan para pemimpin tinggi PKT kemungkinan, seperti rezim Iran, demi mempertahankan kekuasaan dan keselamatan diri, terpaksa tunduk kepada AS dan sekutunya.
Keunggulan laut dan udara yang ditunjukkan AS terhadap Iran tidak hanya menekan rezim Iran, tetapi juga sekaligus memberi tekanan besar terhadap rezim PKT.
Tulisan ini hanya mewakili pandangan dan pernyataan penulis.
(Dikutip dari Epoch Times / Penanggung jawab redaksi: Sheng Rui)





