REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi bahan baku siomai di Jakarta kembali ramai menjadi perbincangan. Padahal, ikan sapu-sapu itu mengandung residu logam nerat yang tinggi, sehingga berbahaya untuk dikonsumsi.
Republika mencoba menanyakan isu itu ke sejumlah pedagang siomai di kawasan Jakarta Pusat. Namun, para pedagan itu mengaku tidak menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku makanan yang dijajakannya.
- MUI Tolak Penguburan Ikan Sapu-Sapu Hidup-Hidup, Lebih Baik Dijadikan Pakan Ternak dan Pupuk
- Dikritik MUI, Pemprov Jakarta: Sulit Memastikan Seluruh Ikan Sapu-Sapu Mati Sebelum Dikubur
- MUI Kritik Penangkapan Ikan Sapu-Sapu Pemprov Jakarta, Penguburannya Dinilai Menyalahi 2 Prinsip
Salah satu pedagang siomai, Aden (21 tahun), mengungkapkan bahwa makanan yang dijajakannya sama sekali tidak mengandung ikan sapu-sapu. Menurut dia, bahan baku siomai yang dibuatnya adalah ikan tenggiri, ikan tongkol, penyedap rasa, bawang putih, dan lada.
"Kalau saya, pakai ikan tenggiri campur sama tongkol," kata dia ketika ditemui Republika, Senin (20/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}Menurut dia, sulit untuk pedagang yang biasa mangkal di pinggir jalan untuk menggunakan ikan tenggiri sebagai bahan baku membuat siomai. Pasalnya, harga ikan tenggiri cukup mahal. Alhasil, para pedagang siomai rata-rata mencampurnya dengan ikan tongkol agar harga jualnya bisa lebih terjangkau.
"Biasanya kalau tenggiri dijualnya Rp25 ribu ke atas. Kalau yang tenggiri campuran tongkol biasanya Rp10-20 ribu," kata dia.
Meski begitu, ia tidak menutup mata soal masih adanya pedagang siomai yang menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan utamanya. Hal itu dikarenakan harga ikan sapu-sapu jauh lebih murah.
"Kayaknya kalau di daerah yang lain ada. Cuma kalau di daerah sini belum kelihatan. Kelihatan kok kalau sapu-sapu biasanya item, siomainya kelihatan rada item," ujar Aden.
Ia menambahkan, rasa siomai dari ikan sapu-sapu juga berbeda dibandingkan biasanya. Menurut dia, rasa siomai itu akan terasa lebih amis dan alot.
Aden mengungkapkan, biasanya ada jalur tersendiri untuk para pedagang itu membeli ikan sapu-sapu. Pasalnya, ikan itu biasanya tidak dijual dengan bebas di pasaran.
Meski begitu, ia memastikan, siomai yang dijajakannya itu aman untuk dikonsumsi karena tidak menggunakan ikan sapu-sapu. Bahkan, siomai yang dijualnya juga sudah pernah dites oleh dinas terkait keamanannya.
"Sudah pernah diuji juga sama kesehatan dulu sebelum puasa, distempel siomai aman," kata pedagang yang sudah berjualan selama dua tahun itu.
Ia pun tidak terlalu khawatir dengan adanya isu siomai dari ikan sapu-sapu. Pasalnya, ia merasa tidak pernah membuat siomai dari ikan sapu-sapu.
"Dibilang khawatir enggak juga, ya karena jujur juga bikin kitanya," kata dia.
A post shared by Republika Online (@republikaonline)




