Toyota-CATL Produksi Baterai Sel di Indonesia, Pertama di Asia

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan, kerja sama dengan CATL memperkuat kedalaman industri kendaraan listrik bukan cuma dalam negeri, tetapi lingkup kawasan.

“Saat ini seperti itu di Asia,” kata Nandi dalam sesi doorstop usai seremoni kolaborasi Toyota Indonesia-CATL di Tangerang, Senin (20/4).

Pernyataan itu merujuk pada investasi sebesar Rp 1,3 triliun, yang dikucurkan untuk fasilitas produksi baterai, hasil kolaborasi TMMIN dengan CATL. Berbeda dengan kebanyakan proyek sejenis, fasilitas ini tidak berhenti di level perakitan, melainkan memproduksi sel hingga modul.

“Pertama di Asia, produksi baterai dari sel sampai modul, bukan sekadar packing,” kata Nandi.

Langkah ini menjadi penting karena sel baterai merupakan komponen utama dalam kendaraan elektrifikasi, baik hybrid maupun mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). Dengan kemampuan memproduksi dari hulu, Indonesia mulai masuk ke level yang selama ini didominasi oleh segelintir negara.

Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, produksi baterai tersebut juga disiapkan untuk mendukung pasar ekspor. Selama ini, TMMIN dikenal sebagai salah satu basis produksi global Toyota yang menyuplai berbagai negara.

"Pertama untuk mobil kita, kan ada yang dipakai lokal dan ekspor, berarti otomatis diekspor secara CBU (ekspor utuh), ke depan kami juga akan ekspor untuk baterai pack dan juga modulnya," terang Nandi.

Produksi tahap awal dijadwalkan mulai berjalan pada semester kedua tahun ini. Meski belum merinci model kendaraan yang akan menggunakan baterai tersebut, Nandi memastikan bahwa fasilitas ini akan mendukung berbagai teknologi elektrifikasi.

Menurutnya, perbedaan antara hybrid dan BEV pada dasarnya hanya terletak pada jumlah sel dan skala produksi. Dengan kemampuan memproduksi dari sel hingga modul, fleksibilitas untuk mengikuti kebutuhan pasar menjadi lebih besar.

“Kalau kita sudah bisa membuat dari sel sampai modul, tentu kita juga bisa untuk BEV. Semua kembali ke volume, asal skala market-nya mencukupi. Jadi seperti hybrid pun kita tidak langsung buat di sini, setelah mencapai skala tertentu kemudian kita melakukan lokalisasi yang lebih dalam," jelasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Teknologi Satelit Jadi Jawaban Blank Spot Indonesia Timur
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Uya Kuya Geram Dituding Miliki 750 Dapur MBG, Trauma Rumahnya Pernah Dijarah Anggota DPR Ini Lapor Polisi
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Pramono Respons Kritik MUI soal Kubur Ikan Sapu-sapu Dalam Keadaan Hidup
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Menhub: Terminal 2F Soetta Siap Layani Haji 2026, Kloter Perdana Berangkat 22 April
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Menaker Dorong Fresh Graduate Ikut Pelatihan Vokasi 2026, Targetkan 70.000 Peserta
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.