Alasan Wregas Bhanuteja Selipkan Isu Warga Lawan Korporasi di Film Para Perasuk

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sutradara Wregas Bhanuteja mengangkat isu warga melawan korporasi dalam karya terbarunya, Para Perasuk. Wregas mengungkap, film ini tidak sekadar bicara soal roh, tetapi juga peka soal isu sosial dan lingkungan.

Inspirasi ini rupanya datang dari pengalaman pribadi yang dialami oleh keluarga Wregas sendiri di Yogyakarta. Wregas terinspirasi kisah pamannya, Om Dimas di kawasan Bantul, yang berupaya menjaga mata air di lingkungannya dari incaran korporasi.

"Om ku, di Jogja, itu punya rumah di samping mata air. Namanya Om Dimas, dia tinggal di daerah Bantul. Mata air itu awalnya kotor, ada pelepah daun pisang ada rumput-rumput, akhirnya dia bersihkan mata air itu sehingga aliran air lebih lancar," kata Wregas di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (14/4).

Namun ternyata, mata air yang selama ini dirawat dan dimanfaatkan warga berada di atas tanah milik orang lain, yang kemudian menjadi incaran perusahaan air minum dalam kemasan.

"Mata air itu mau dibeli oleh sebuah perusahaan air minum dalam kemasan. Jadi diakuisisi, dijadikan pabrik dan segala macam. Dan warga sekitar tuh khawatir kalau ini dijadikan nanti takut sawah sekelilingnya kering gitu," tutur Wregas.

Warga sekitar pun bergerak. Wregas melihat bagaimana gerakan akar rumput terbentuk demi mempertahankan kedaulatan air mereka agar tidak jatuh ke tangan korporasi.

"Dan akhirnya warga berusaha bersama Om saya juga mengumpulkan dana supaya si pemilik mata air ini enggak menjual ke si perusahaan tersebut. Jadi patungan mereka, kayak bikin program, bikin kayak acara syukuran di situ sampai akhirnya sekarang ya mungkin udah 70 persen dananya kekumpul," lanjut Wregas.

Kawinkan dengan Mitos

Wregas sadar, fenomena seperti di Bantul kerap terjadi di berbagai pelosok Indonesia. Isu pengalihfungsian lahan produktif jadi area industri itu ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup masyarakat adat dan petani.

Menariknya, Wregas juga mengangkat bahwa masyarakat seringkali menggunakan mitos sebagai senjata terakhir untuk melindungi alam.

Cerita-cerita tentang keberadaan mahluk halus di suatu tempat bukan sekadar takhayul, melainkan strategi tradisional yang cerdas.

"Banyak warga yang kemudian membuat suatu mitos tertentu gitu misalnya kalau di mata air itu 'Oh di mata air itu ada peri' gitu jadi enggak boleh diganggu. 'Oh di hutan itu ada yang menunggu' jadi harus kita jaga. Itu sebetulnya sebagai salah satu usaha untuk menyelamatkan alam gitu," ungkap Wregas.

Melalui Para Perasuk, Wregas ingin menegaskan makna spiritualitas di tengah masyarakat. Baginya, ada hubungan erat antara manusia dengan roh di alam.

"Spiritualitas di sini berkoneksi dengan alam gitu. Kita kadang melihatnya itu sebagai mistis roh halus tapi sebenarnya itu adalah ibu bumi kita sendiri gitu ya. Maksudnya di sini, roh-rohnya kenapa juga roh binatang ya karena ibu alam. Makanya itu yang kita angkat di sini," tutup Wregas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Motif Penikaman Ketua DPC Partai Golkar Maluku Tenggara Terungkap, Dipicu Dendam Lama
• 8 jam laluliputan6.com
thumb
Polisi Gelar Simulasi Pengamanan Demo Hari Buruh di Banten
• 9 jam laludetik.com
thumb
Multitrend Indo (BABY) Patok Harga Tebus Rights Issue Jauh di Atas Pasar
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Hashim Soroti Kasus Intoleransi, Minta Polri dan Kejagung Jaga Ketertiban
• 19 jam lalurctiplus.com
thumb
BRICS: Diam yang Mengandung Strategi dalam Krisis Iran
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.