jpnn.com - Peneliti senior Citra Institute Efriza memberikan analisis mendalam terkait pernyataan Jusuf Kalla (JK) yang menegaskan dirinya memiliki jasa besar dalam perjalanan karier politik Joko Widodo (Jokowi).
Menurut Efriza, pernyataan blak-blakan mantan Wakil Presiden dua periode itu bukan tanpa alasan. Ia menilai hal tersebut merupakan bentuk akumulasi emosi dan rasa kecewa JK yang merasa dipojokkan.
BACA JUGA: Elite PSI Peringatkan JK: Jokowi Jadi Presiden Bukan Satu Orang Faktor Penentu
"Pernyataan JK itu adalah sikap kumulatif emosi dirinya yang kecewa. Jika dicermati, JK marah karena merasa dilecehkan oleh kelompok 'Termul' (Ternak Mulyono) maupun oleh Gibran sebagai wakil presiden," kata Efriza kepada JPNN.com, Senin (20/4).
Efriza membeberkan beberapa poin yang diduga menjadi pemicu kegeraman JK. Pertama, terkait pernyataan Gibran Rakabuming Raka yang memohon maaf kepada JK karena usulan menaikkan harga BBM tidak sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA: Pengurus DPN PERADI 2026-2031 Dilantik, Ini Daftar Namanya
"Meski bahasanya hormat, pernyataan Gibran tentu kurang bijaksana. Seharusnya dilakukan dengan diskusi langsung sebagai bentuk penghormatan kepada mantan wapres, bukan dilempar begitu saja ke publik," lanjutnya.
Kedua, adanya narasi yang menyudutkan JK dengan tuduhan mendanai gerakan 'serang' Jokowi lewat isu ijazah palsu. Ketiga, tudingan bahwa JK melakukan penistaan agama dalam ceramahnya di UGM.
BACA JUGA: Skandal Video Asusila Viral di Pamekasan Terungkap, Pelaku Masih Pelajar
Efriza menilai, serangan-serangan tersebut muncul lantaran sikap kritis JK yang kerap membela kepentingan rakyat. "Akumulasi ini menyerang pribadi JK, disinyalir dilakukan oleh orang-orang atau kelompok dari 'Termul' tersebut," tegasnya.
Lebih lanjut, Efriza menyebut JK ingin mengingatkan publik, terutama Jokowi dan loyalisnya, bahwa keberhasilan Jokowi tidak lepas dari dukungan jaringan elite yang difasilitasi oleh JK.
Ia mengingatkan kembali memori Mei 2014, saat Jokowi secara terbuka menyebut JK sebagai sosok yang memboyongnya dari Solo ke Jakarta.
"Tanpa nasihat JK, peluang Jokowi diajukan Megawati sebagai capres sangat kecil. Ibu Megawati itu sangat dekat dengan JK. Jangan lupa, pengambil keputusan tunggal di PDIP adalah Megawati, itulah mengapa akhirnya Jokowi disandingkan dengan JK saat itu," papar Efriza.
Namun, di sisi lain, Efriza juga melihat klaim JK ini bisa menimbulkan sentimen negatif bagi kelompok lawan. Pernyataan tersebut bisa dianggap terlalu menonjolkan jasa pribadi atau "endorsement" elite semata.
"Bagi kelompok 'Termul', pernyataan JK seolah mengabaikan faktor lain yang jauh lebih besar, seperti momentum politik, dukungan rakyat, dan citra merakyat Jokowi sendiri. Jadi, ini memang akumulasi kekecewaan, meski berisiko dianggap membangun patronase jasa elite di mata pemilih," pungkasnya.(mcr8/jpnn)
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Kenny Kurnia Putra




