Batal Diskorsing, Pelajar di Purwakarta yang Ejek Gurunya Didampingi Psikolog Tiga Bulan

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Skorsing 19 hari sembilan pelajar SMA Negeri 1 Purwakarta, Jawa Barat, yang mengolok-olok gurunya di ruang kelas urung dilakukan. Sebagai gantinya, para pelajar itu disanksi pembinaan selama tiga bulan.

Peristiwa ini terjadi pada Kamis (16/4/2026) di kelas XI IPS. Kegiatan belajar-mengajar tentang pengolahan makanan baru usai ketika sembilan pelajar mengejek guru bernama Syamsiah. Siswa mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah.

Aksi itu direkam dalam sebuah video berdurasi 31 detik. Videonya lantas viral pada Sabtu (18/4/2026) dan menuai hujan kritik.

Atas kejadian itu, SMA Negeri 1 Purwakarta menjatuhkan skorsing selama 19 hari kepada siswa. Namun, sanksi itu batal dilakukan.

Kepala Dinas Pendidikan Jabar Purwanto, Senin (20/4/2026), mengatakan telah bertemu dengan kepala SMAN 1 Purwakarta. Setelah dievaluasi bersama, sanksi skorsing tak dilaksanakan. Alasannya, sanksi tidak boleh menghilangkan hak anak mendapatkan pendidikan.

Menurut dia, skorsing tidak akan menyelesaikan masalah. Sanksi harus bersifat mendidik dan menyadarkan mereka agar tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Sebagai gantinya, sembilan pelajar itu akan mendapatkan kelas khusus dengan periode waktu tertentu. Kegiatan aksi sosial juga akan terlaksana di kelas tersebut.

Dalam kegiatan ini akan dievaluasi setiap minggu bersama orangtua dan para pelajar. Sembilan pelajar ini akan didampingi guru wali kelas, guru bimbingan konseling, dan psikolog.

”Setelah dievaluasi, maka lebih baik anak-anak tetap masuk sekolah. Mereka akan mendapatkan bimbingan khusus dengan masuk sekolah lebih pagi dan mengikuti aksi sosial,” ujarnya.

Syamsiah selaku guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMAN 1 Purwakarta mengaku telah memaafkan sembilan pelajar tersebut. Ia pun menyatakan tidak akan membawa peristiwa ini ke ranah hukum.

”Saya sudah memaafkan para pelajar ini. Mereka juga sudah menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujarnya dikutip dari Kompas.com.

Aktivis pendidikan sekaligus Ketua Presidium Persatuan Purnabhakti Pendidik Indonesia Iwan Hermawan menilai kejadian di Purwakarta sebagai wajah proses belajar yang dominan bertumpu pada hasil daripada pendidikan mental.

Iwan, yang juga Ketua Lembaga Perlindungan Guru Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia, berpendapat, kelemahan proses pendidikan kini lebih fokus pada peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotorik.

”Pelajar lebih fokus untuk mengejar hasil demi menembus perguruan tinggi incarannya. Mereka minim mendapatkan pendidikan afeksi dan mudah terpengaruh karena menghabiskan waktunya dengan media sosial,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemburu Tembak Monyet Liar yang Teror Warga di Cianjur
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Fakta Baru Penikaman Nus Kei hingga Tewas: Motif Balas Dendam
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
KA Sangkuriang Buka Rute Baru Bandung-Banyuwangi, Segini Tarifnya
• 27 menit lalukompas.tv
thumb
Nus Kei Tewas Ditikam, Golkar Minta Situasi Maluku Tenggara Tetap Kondusif
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Nissan Bakal Fokus Kepada AI & Elektrifikasi
• 2 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.