Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI) Asra Virgianita menilai sikap Iran yang tak ingin menghadiri perundingan kedua dengan Amerika Serikat merupakan strategi politik. Menurutnya, hal itu juga bentuk cerminan ketidakpercayaan terhadap proses yang berjalan.
"Sikap Iran ini dapat dibaca dalam dua konteks. Pertama hal tersebut sebagai sebuah bentuk daya tawar atau strategi bargaining Iran diharapkan menjadi tekanan kepada AS untuk menurunkan tuntutannya, dan sekaligus memenuhi tuntutan Iran, terutama untuk saat ini terkait blokade selat Hormuz," kata Asra kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).
"Jadi ancaman ketidakhadiran Iran, bukan hanya menunjukkan penolakan tetapi sebagai sebuah pesan politik yang menegaskan posisi tawar Iran," sambungnya.
Selain itu, dia menilai sikap tersebut mencerminkan ketidakpercayaan Iran terhadap proses negosiasi yang sedang berlangsung. Menurutnya, kebijakan Amerika Serikat, termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran di kawasan Selat Hormuz, memperkuat persepsi tersebut.
"Sikap Iran ini tentu akan berdampak pada rencana negosiasi putaran kedua. Tanpa kehadiran Iran sebagai pihak yang bersengketa, apapun keputusan yang dihasilkan memiliki legitimasi dan daya ikat yang lemah (strategi de-legitimasi)," ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Asra, berisiko membuat masing-masing pihak berjalan dengan kepentingannya sendiri. Sebab itu, dia menilai kecilnya peluang gencatan senjata untuk dinegosiasikan kembali.
"Akibatnya bisa ditebak, masing-masing pihak yang bertikai akan jalan dengan cara pandang masing-masing. Hal ini, artinya gencatan senjata akan sulit direnegosiasi atau kemungkinan eskalasi meningkat, sehingga membuka ruang konflik kembali semakin besar," jelasnya.
"Alhasil situasi kembali memanas, dan kestabilan ekonomi regional dan global kembali dipertaruhkan. Dalam konteks ini, Trump mungkin akan mencoba strategi lain untuk memastikan tidak terjadi saling serang lagi. Bagaimanapun Trump akan berpikir ulang untuk mengkalkulasi untung rugi posisi AS saat ini dan ke depan," imbuh dia.
(amw/lir)





