Kemenkes-BPOM sebut inovasi alkes perlu dipercepat guna eliminasi TB

antaranews.com
9 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan menyebutkan perlunya penguatan regulasi, percepatan inovasi kesehatan, serta pengembangan produk kesehatan dalam negeri, salah satunya Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) untuk deteksi tuberkulosis.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, beban tuberkulosis di Indonesia masih tinggi, dengan sekitar 867 ribu kasus terdiagnosis dalam satu tahun terakhir.

“Kalau kita bisa bikin harga tes IGRA dari 1 juta menjadi hanya sekitar 50 ribu, dampaknya terhadap keuangan negara akan sangat besar,” kata Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus di Jakarta, Selasa.

Dia menilai pentingnya efisiensi dalam pengembangan teknologi kesehatan, khususnya pada aspek diagnostik, termasuk IGRA atau tes darah untuk mendeteksi infeksi tuberkulosis. Dia juga menekankan pentingnya pengawalan lintas sektor terhadap inovasi yang tengah dikembangkan.

“Saya minta tolong nanti kita kawal bersama supaya tes IGRA ini mendapatkan atensi karena ini sangat penting untuk percepatan penanggulangan TBC di Indonesia,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Wamenkes juga menyoroti proses di BPOM yang dinilai semakin cepat dan responsif. Hal senada diutarakan perwakilan industri, termasuk Biofarma, yang menyampaikan bahwa proses yang sebelumnya sempat mengalami kendala kini berjalan lebih lancar.

Baca juga: Wamenkes: Pentingnya deteksi dini TBC terhadap lingkungan sekitar

Selain itu, BPOM juga mendorong pengembangan obat berbasis bahan alam sebagai bagian dari upaya mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional melalui pendekatan riset dan hilirisasi.

Sementara itu, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa potensi bahan alam Indonesia masih sangat besar dan dapat terus dikembangkan.

"Kalau negara punya produk sendiri, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Dengan sumber daya yang kita miliki, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan solusi kesehatan sendiri," ujar Taruna.

Menurutnya, peningkatan nilai tambah menjadi kunci dalam penguatan industri farmasi nasional, seiring besarnya potensi ekonomi bahan alam Indonesia yang diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun.

“Kita ingin naikkan statusnya, bukan sekadar obat bahan alam atau obat herbal terstandar, tetapi menjadi produk farmasi yang bernilai lebih tinggi,” katanya..

Dari sekitar 40.000 spesies tumbuhan di dunia, katanya, sekitar 31.000 di antaranya terdapat di Indonesia dan berpotensi sebagai tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

BPOM berperan dalam memastikan setiap inovasi yang dikembangkan memenuhi aspek keamanan, khasiat, dan mutu sebelum dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.

Baca juga: Menkes sebut upaya eliminasi TBC dimulai dengan deteksi kasus

Baca juga: Kemenkes perkuat komunikasi publik demi tingkatkan vaksinasi campak


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Panggil Dudung ke Istana, Bahas Pertahanan
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Pimpinan Komisi III Kecam Tendangan ‘Kung Fu’ di EPA U20: Pecat dan Pidanakan
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Akses Kripto Makin Mudah, TRIV Hadirkan Voucher di Indomaret
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Fadly Alberto Minta Maaf Setelah Tendangan Kungfu ke Rakha Nurkholis: Perbuatan Bodoh, Mencoreng Nama Baik Timnas Indonesia
• 16 menit lalubola.com
thumb
Wamendagri Wiyagus: Negara Pastikan Hak Disabilitas Tak Diabaikan
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.