JAKARTA, KOMPAS.TV - Istilah megathrust kembali ramai diperbincangkan setelah pakar kebencanaan memperingatkan Yogyakarta memasuki fase 30 tahun terakhir dari siklus gempa besar yang belum melepaskan energinya.
Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan siklus megathrust, dan mengapa para ilmuwan menyebutnya sebagai ancaman nyata?
Megathrust adalah zona pertemuan dua lempeng tektonik, di mana satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lainnya.
Proses tumbukan itu menimbulkan penumpukan energi yang suatu saat dilepaskan dalam bentuk gempa besar, bahkan tsunami.
BMKG dalam rilisnya pada Juni 2025 menegaskan, pernyataan ilmiah soal megathrust digunakan sebagai bentuk kewaspadaan berbasis data sejarah dan geologi, bukan untuk menimbulkan kepanikan.
Baca Juga: Siklus Megathrust Masuk Fase Akhir, Yogyakarta Diminta Bersiap Hadapi Gempa M 8,7
Satu hal yang perlu dipahami adalah gempa tidak bisa diprediksi. Hingga kini tidak ada teknologi yang mampu menentukan waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara pasti.
Kalimat "tinggal menunggu waktu" yang kerap beredar bukan ramalan, melainkan penjelasan ilmiah bahwa suatu zona menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi.
"Yang dimaksud adalah zona tersebut menyimpan potensi besar karena sudah lama tidak melepaskan energi. Bukan berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat," demikian pernyataan BMKG.
Kondisi itu dikenal sebagai seismic gap. Segmen Megathrust Selat Sunda, misalnya, tercatat terakhir melepaskan gempa besar pada 1757.
Penulis : Danang Suryo Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- megathrust
- BMKG
- gempa Yogyakarta
- siklus gempa
- seismic gap
- Dwikorita Karnawati





