Harga minyak dunia turun tipis usai muncul sinyal Iran akan menghadiri perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad. Pertemuan ini akan dilaksanakan sebelum masa gencatan senjata antara kedua pihak berakhir pada Rabu sore waktu Washington.
Harga minyak Brent turun 0,8% menjadi US$ 94,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 1,2% menjadi US$ 86,37 per barel.
Menurut sumber Bloomberg, Iran mengirimkan timnya ke Ibu Kota Pakistan. Pemerintah Teheran sebelumnya sempat menyatakan keraguan mereka untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai lanjutan dengan AS.
Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan berangkat pada Senin untuk melanjutkan perundingan. Presiden AS Donald Trump menyebut sangat kecil kemungkinan ia akan memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir pada rabu malam waktu Washington.
Harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir bergejolak di tengah dinamisnya perubahan persepsi terkait status negosiasi dan nasib kapal melalui Selat Hormuz. Jalur perairan vital ini biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Perang di Hormuz berpotensi memperdalam krisis energi global dan menjadi salah satu dari sejumlah isu yang belum terselesaikan antara Iran dan AS, termasuk kemampuan nuklir Republik Islam tersebut serta invasi Israel ke Lebanon.
“Apakah bergerak menuju de-eskalasi atau justru berlarut menjadi gangguan yang lebih panjang, terutama pada pasokan energi? Pasar akan sangat sensitif terhadap setiap perkembangan berita dalam 24 jam ke depan,” kata analis strategi riset di Pepperstone Group Dilin Wu, dikutip dari Bloomberg, Selasa (21/4).
Harga minyak memperpanjang kenaikan pada perdagangan kemarin, setelah AS menyatakan akan terus memblokir selat tersebut bagi kapal yang terkait dengan Iran hingga kesepakatan tercapai.
Sementara itu, arus pelayaran di Hormuz masih terhenti. Krisis kembali memanas pada akhir pekan setelah Angkatan Laut AS menyita kapal Iran, sementara pasukan Republik Islam menembaki kapal dan kembali memberlakukan kontrol di selat tersebut.
Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri terkait percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden China Xi Jinping menyerukan gencatan senjata segera dan pemulihan lalu lintas normal di jalur perairan tersebut
Citigroup Inc. menyebut harga minyak berpotensi naik hingga US$ 110 per barel jika gangguan di jalur tersebut berlanjut selama satu bulan lagi. “Pasar energi global juga diperkirakan akan bergejolak selama dua tahun akibat perang,” ujar Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol.




