Bisnis.com, JAKARTA — PT Great Eastern General Insurance (GEGI) mencatat pertumbuhan pendapatan premi sebesar 14% (year on year/YoY) pada kuartal I/2026.
Marketing Director GEGI, Linggawati Tok mengatakan pertumbuhan itu setara dengan Rp316 miliar. Adapun, kontribusi utama berasal dari lini properti, marine cargo, kendaraan bermotor, travel, dan gadget insurance.
Sementara itu, pada 2026 ini GEGI melihat segmen personal, Small Medium Enterprise (SME), dan digital sebagai fokus untuk pertumbuhan bisnis.
“Dengan meningkatkan penjualan produk travel, gadget, property UMKM dan kargo domestik. Produk ini lebih stabil dan sustain dalam menghadapi dinamika dan tantangan yang ada,” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (21/4/2026).
Kendati demikian, GEGI tidak memungkiri pada kuartal I/2026 banyak tantangan ekonomi yang harus dihadapi, baik dari sisi domestik maupun dampak dari situasi global.
Linggawati menuturkan daya beli masyarakat yang menurun membuat asuransi bukan menjadi kebutuhan utama, karena fokus utama masyarakat adalah memenuhi kebutuhan dasar.
Baca Juga
- Great Eastern Soal Kabar Akuisisi oleh OCBC, Tegaskan Penyesuaian Struktur Konglomerasi
- Kata Great Eastern Saat Hasil Investasi Industri Asuransi Jiwa Naik 103,1% pada 2025
“Konsumen menjadi lebih price sensitive. Inflasi dan ketidakpastian ekonomi membuat konsumen memilih lebih hati-hati dan bijak dalam spending,” tegasnya.
Sebab itu, lanjutnya, GEGI akan terus memperkuat jaringan distribusi dan partnership, melanjutkan fokus pada produk retail, SME dan digital yang relevan dengan gaya hidup seperti travel insurance dan gadget insurance.
“GEGI juga melanjutkan upaya meningkatkan literasi keuangan dan edukasi asuransi untuk peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya proteksi asuransi,” ucap Linggawati.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan premi industri asuransi berada pada kisaran 3%—6% YoY pada 2026.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono berujar proyeksi itu berpotensi meningkat seiring penguatan permintaan proteksi masyarakat dan dukungan terhadap program strategis pemerintah.
“Pertumbuhan premi yang masih moderat mencerminkan proses konsolidasi industri melalui penyesuaian model bisnis serta penguatan tata kelola pascareformasi regulasi,” ucapnya dalam lembar jawaban RDK OJK Maret 2026, dikutip pada Selasa (14/4/2026).





