MSCI Lanjutkan Pembekuan Efek Indonesia pada Mei 2026

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International atau MSCI, menyatakan masih mencermati rangkaian reformasi transparansi pasar modal yang diluncurkan oleh otoritas keuangan Indonesia. Sebagai langkah antisipasi, MSCI memutuskan untuk melanjutkan pembekuan sejumlah penyesuaian atau rebalancing indeks Indonesia pada tinjauan indeks Mei 2026.

Dalam pengumuman resminya, Senin (20/4/2026), malam waktu GMT, MSCI menyoroti langkah proaktif Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). OJK, BEI, dan KSEI sebelumnya mengirimkan proposal reformasi pasar modal kepada MSCI, menanggapi kebijakan lembaga ini pada 28 Januari yang mengguncang pasar saham.

Reformasi tersebut mencakup peningkatan pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen, klasifikasi investor yang lebih rinci, pengenalan kerangka kerja High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan peningkatan batas minimal free float menjadi 15 persen.

"MSCI sedang menilai cakupan, konsistensi, dan efektivitas sumber data serta langkah-langkah baru tersebut dalam konteks penentuan free float dan penilaian kemampuan investasi (investability) yang lebih luas," tulis manajemen MSCI dalam keterbukaan informasi tersebut.

Selama proses evaluasi berlangsung, untuk May 2026 Index Review. MSCI akan mempertahankan pembekuan terhadap kenaikan Foreign Inclusion Factors (FIF) dan jumlah saham (Number of Shares). Selain itu, tidak akan ada penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta tidak ada migrasi saham dari segmen kecil (Small Cap) ke standar.

Namun, MSCI menegaskan akan mengambil tindakan tegas terhadap emiten yang masuk dalam kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau HSC. "MSCI akan menghapus saham yang diidentifikasi oleh otoritas Indonesia sebagai bagian dari kerangka kerja HSC yang baru," kata MSCI.

Baca JugaNasib Bursa RI di Ujung Tanduk Evaluasi MSCI

Awal April, BEI mengumumkan daftar saham yang berstatus HSC karena konsentrasi kepemilikan saham oleh pemilik tertentu di atas 95 persen. Dari daftar itu, ada dua saham penghuni tetap indeks MSCI Indonesia, yaitu PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

MSCI mengatakan, langkah-langkah ini pada akhirnya diambil untuk membatasi risiko perputaran indeks (turnover) dan risiko investasi. Sementara itu, mereka tetap menunggu hasil evaluasi menyeluruh serta akan terus berkomunikasi dengan otoritas terkait di Indonesia.

MSCI menjadwalkan akan memberikan pengumuman lebih lanjut sebagai bagian dari Market Accessibility Review pada Juni mendatang.

Menanggapi pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepuluh menit pertama pembukaan pasar melemah dari 7.594 ke level 7.537. Saham BREN dan DSSA masuk lima besar sebagai saham dengan penurunan poin harga terbesar (top loser), masing-masing -400 poin (6,06 persen) dan -310 poin (9,48 persen).

Merespon kabar dari MSCI, Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (21/4/2026), menyampaikan bahwa BEI terakhir bertemu dengan MSCI pada 16 April untuk membahas proposal yang mereka ajukan ke lembaga tersebut. Hasil pertemuan itu, menurut Jeffrey, disepakati untuk tidak dibeberkan ke publik.

"Kami mengapresiasi bahwa empat proposal yang telah kami deliver di-acknowledge oleh MSCI," kata Jeffrey.

Baca JugaBursa Saham RI Ajukan Empat Proposal ke MSCI

Terkait akan adanya saham emiten yang dikeluarkan dari indeks karena kebijakan HSC, Jeffrey mengatakan mereka akan segera mengumumkan perlakuan khusus untuk emiten terkait.

BEI, kata Jeffrey, akan terus berkomunikasi dengan MSCI untuk mengimplementasikan reformasi kebijakan baru di pasar. "Kami juga akan terus berkomunikasi dengan investor global untuk memperoleh masukan untuk penguatan pasar modal ke depan," katanya.

Dana Asing Tertahan

Menanggapi kebijakan tersebut, praktisi pasar modal dan pemengaruh (influencer) saham, Ben (Om Ben), menilai pengumuman ini membawa sentimen campuran bagi pasar saham domestik.

Dalam jangka pendek, kebijakan ini berpotensi menghambat aliran dana investor asing di pasar saham. Sejauh ini, investor asing masih melakukan banyak penjualan saham dengan penjualan bersih, baik di pasar reguler maupun negosiasi, sebesar Rp 39,47 triliun sejak awal tahun hingga Senin (20/4).

"Dampaknya, aliran dana asing bisa tertahan karena bobot saham di indeks tidak naik dan potensi inflow (arus masuk dana) dari ETF global menjadi terbatas. Investor asing kemungkinan besar akan memilih sikap menunggu (wait and see)," ujar Om Ben dalam catatannya di media sosial Instagram @ombentrader, Selasa (21/4).

Ia juga memperingatkan adanya risiko tekanan jual, terutama bagi saham-saham yang masuk dalam daftar HSC. "Saham dengan kepemilikan terlalu terkonsentrasi berpotensi dikeluarkan dari indeks, yang biasanya berdampak negatif pada harga saham tersebut karena tekanan jual dari pengelola dana global," tambahnya.

Meski demikian, Ben melihat ada harapan di balik ketatnya penilaian MSCI. Menurutnya, jika reformasi yang dilakukan OJK dan BEI berjalan efektif dalam meningkatkan transparansi dan memperjelas struktur free float, maka daya tarik Indonesia bagi investor global akan meningkat signifikan.

"Secara jangka panjang, ini berpotensi positif. Jika reformasi berhasil, kepercayaan pasar akan meningkat dan Indonesia bisa menjadi tujuan investasi yang lebih kredibel di mata dunia," pungkasnya.

Phintraco Sekuritas dalam laporannya pagi ini juga menilai bahwa secara keseluruhan, langkah ini menunjukkan bahwa meskipun reformasi telah dilakukan oleh regulator Indonesia, MSCI masih membutuhkan waktu untuk memastikan implementasi kebijakan tersebut benar-benar efektif sebelum kembali melakukan normalisasi rebalancing indeks.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab: Dinkes Bogor Terus Intensifkan Pemeriksaan Kesehatan Ribuan Jemaah Calon Haji
• 13 jam laluliputan6.com
thumb
RUU PPRT Atur Hak PRT dan Pengawasan, Implementasi Tunggu 1 Tahun
• 8 jam laludisway.id
thumb
Sekwil PKB Aceh Minta Kader Jadi Jembatan Aspirasi untuk Seluruh Lapisan Masyarakat
• 7 jam lalurealita.co
thumb
Menkeu Purbaya: Fokus Ekonomi RI Bergeser ke Pertumbuhan Produktif dan Berkelanjutan
• 3 jam lalumatamata.com
thumb
Foto Tentara Israel Hancurkan Patung Yesus di Lebanon Picu Kemarahan di Seluruh Dunia
• 8 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.