Pengusaha Respons soal Harga Plastik Hanya Boleh Naik Maksimal 30%

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Pelaku usaha menilai kebijakan pembatasan kenaikan harga plastik maksimal 30 persen di tengah gejolak global, sulit diterapkan karena tekanan biaya produksi yang terus meningkat.

Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, mengatakan penahanan harga di level tersebut menjadi tantangan besar bagi industri. Menurut dia, kenaikan harga bahan baku yang tidak terkendali membuat ruang gerak pelaku usaha semakin sempit.

“Bagaimana caranya tahan harga tersebut dan saat ini juga menjadi topik utama bagi segenap industri kemasan di Indonesia. Harga plastik melonjak karena bahan baku terganggu akibat konflik di Timur Tengah ini, masih belum dapat diprediksi akan berlangsung berapa lama,” kata Henky kepada kumparan, Senin (20/4).

Henky menambahkan, dalam situasi ini penentuan harga sangat bergantung pada elastisitas suplai dan permintaan. Menurut Henky, jika stok bahan baku masih tersedia, produsen akan mengutamakan pelanggan tetap dengan skema harga yang dikompromikan agar tetap saling menguntungkan.

Namun, pasokan bahan baku dari dalam negeri disebut sudah sangat minim. Kondisi force majeure yang dialami produsen hulu semakin memperparah situasi, sehingga industri hilir kini sangat bergantung pada impor.

Dalam kondisi ini, tentunya pengusaha tidak bisa berharap lagi pada suplai dari Timur Tengah karena sedang berada dalam kondisi force majeure. Akan tetapi masih ada suplai dari Cina yang dianggap masih bisa diharapkan.

“Suplai dari China masih ada yang memungkinkan, mereka masih mempunyai kapasitas yang berlebih dan dampak konflik perang ini dapat mereka atasi dengan kondisi mereka yang sangat stabil saat ini. Harga juga dapat lebih bersaing atau lebih murah,” imbuhnya.

Di sisi lain, Henky menilai tekanan regulasi juga perlu dibuat lebih kondusif, terutama untuk membantu industri hilir seperti kemasan dan sektor pengguna yang mayoritas merupakan UMKM. Dia menyoroti kebijakan safeguard dan bea masuk anti dumping (BMAD) untuk bahan baku plastik yang dinilai justru membebani industri.

Henky mengungkap pengenaan safeguard dan BMAD untuk impor bahan baku plastik diajukan oleh Indonesia Olefin, Aromatic, and Plastic Industry Association (Inaplas) dan belum dicabut. Meskipun kapasitas dalam negeri hanya mencukupi 50 persen kebutuhan nasional.

Henky mengaku IPF bersama dengan sederet asosiasi hilir seperti Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) dan Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI) telah menolak usulan tersebut.

“Dan saat ini mereka juga sudah tidak dapat supply dengan misalnya Chandra Asri menyatakan force majeure tersebut. Maka sudah saatnya mereka harus mencabut petisi ini, bukan makin membebani situasi dan kondisi saat ini bagi eksistensi dari industri hilir selanjutnya,” katanya.

Di tengah tekanan tersebut, Henky melihat peluang dari meningkatnya kesadaran konsumen terhadap keberlanjutan. Ia mendorong pelaku usaha mulai mempertimbangkan alternatif kemasan seperti kertas, plastik daur ulang, hingga bahan alami.

“Rekomendasi bagi penjual atau pemakai kemasan, gunakan kombinasi, misalnya kertas untuk makanan kering, daun pisang untuk makanan basah,” jelasnya.

Selain itu, kolaborasi lintas sektor juga dinilai penting, termasuk dengan sektor pertanian untuk memastikan pasokan bahan seperti daun pisang, bambu, atau ampas tebu. Menurutnya, inovasi dan edukasi kepada konsumen menjadi kunci agar transisi ke kemasan ramah lingkungan tetap dapat diterima pasar.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pemerintah tengah memanggil beberapa pengusaha biji plastik. Pemerintah ingin kenaikan plastik ditekan maksimal 30 persen saja.

"Sedang kita atasi, kita sedang panggil beberapa pengusaha yang untuk bijih plastik. Nanti gimana kira-kira agar ini tidak terlalu kenaikannya kira-kira 30 (persen), tapi di pasar ada yang sampai 60 sampai 70 (persen), ya gitu. Jadi mestinya kan kalau naik 30-an," katanya.

Kenaikan harga plastik juga berpengaruh pada sektor pangan. Harga bahan pokok menurut Zulhas tidak mengalami kenaikan, tetapi naiknya harga plastik terasa bagi masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kurang Gerak di Era Digital: Seberapa Besar Dampaknya bagi Kesehatan Tubuh?
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Perang Iran: 13 Personel Militer AS Tewas dan 415 Terluka dalam Operasi Epic Fury
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Respons Bek Dewa United yang Jadi Korban Serangan Rasial di Media Sosial Setelah Lawan Persib: Semoga Tuhan Memberkatimu
• 6 jam lalubola.com
thumb
Foto: Potret Selat Hormuz Saat Ditutup Lagi
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Pose Foto Megawati Hangestri Usai Bawa JPE ke Final Proliga 2026 Ingatkan Momen Manis dengan Red Sparks, Volimania Gagal Fokus
• 5 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.