Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen keju Prochiz PT Mulia Boga Raya Tbk. (KEJU) memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp89,88 miliar atau Rp16 per saham. Nilai tersebut setara dengan 50% laba tahun buku 2025 yang dibukukan perseroan sebesar Rp179,44 miliar.
Dividen tunai tersebut akan dibagikan kepada seluruh pemegang saham pada 13 Mei 2026. Pemegang saham yang berhak atas dividen tersebut adalah pemegang saham yang terdaftar pada 1 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.
Sementara itu, Rp200 juta dari laba bersih perseroan akan ditetapkan sebagai cadangan wajib. Sedangkan sebesar Rp89,35 miliar akan digunakan sebagai cadangan umum yang belum ditetapkan penggunaannya.
Adapun, sepanjang 2025 produsen keju dengan merek dagang Prochiz ini membukukan kenaikan laba bersih 22,1% year on year (YoY) dari laba bersih 2024 sebesar Rp146,88 miliar. Kinerja ini sejalan dengan penjualan bersih KEJU yang tumbuh 19,1% dari Rp1,26 miliar menjadi Rp1,50 miliar pada 2025.
Direktur Utama KEJU Indrasena Patmawidjaja mengatakan perseroan mampu mencatat kinerja positif di tengah gejolak perekonomian global salah satunya didorong oleh program makan bergizi gratis (MBG). Indra menilai program MBG dapat membuka peluang besar bagi produsen seperti KEJU untuk menyuplai protein susu, termasuk keju.
“Saat ini kami masih menjadi keju nomor 1 di Indonesia, untuk itu kami siap menjadi mitra bagi berbagai pihak untuk meningkatkan penetrasi keju pada masyarakat Indonesia agar pertumbuhan kinerja tahun ini senantiasa terus berkelanjutan ke depannya,” kata Indra di acara online public expose, Selasa (21/4/2026).
Strategi KEJU untuk meningkatkan performa pada 2026 ini antara lain adalah dengan memperkuat jalur distribusi general trade (GT) maupun via modern trade (MT), kemudian mempertahankan posisi KEJU sebagai produsen keju dengan pangsa pasar terbesar nasional, serta melalui strategi penguatan channel food service yang menjadikan KEJU sebagai mitra utama bisnis.
Sementara itu, untuk meredam dampak penurunan nilai tukar rupiah, KEJU memperkuat pasar internasional dan berfokus menyasar pasar Asia Tenggara dan menjajaki wilayah baru di luar kawasan ASEAN.
Dari sisi efisiensi, perseroan memahami bahwa konflik Timur Tengah berimbas pada terkendalanya jalur logistik global yang menyebabkan terjadinya kenaikan bahan baku, terutama plastik. Untuk memitigasi hal ini, Indra mengatakan bahwa perseroan saat ini memiliki skala produksi yang cukup tinggi sehingga biaya produksi terhitung masih efisien.
"Perseroan juga akan memulai operasi pabrik baru di Sumedang pada Juli 2026 yang akan mendorong kapasitas produksi perseroan," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





