Kemendag Buka Suara soal Transaksi Belanja Online Indonesia Hanya Naik 2,2%

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) e-commerce atau belanja online di Indonesia diperkirakan US$ 57,7 miliar atau Rp 989,6 triliun (kurs Rp 17.150 per US$) pada 2025 atau hanya tumbuh 2,2% secara tahunan alias year on year (yoy). Kementerian Perdagangan atau Kemendag buka suara terkait hal ini.

Pertumbuhan nilai transaksi belanja online di Indonesia jauh di bawah rata-rata ASEAN. Thailand dan Malaysia memimpin pertumbuhan yakni masing-masing 51,8% dan 47,6%, merujuk pada laporan Momentum Works.

Kepala Biro Humas Kemendag Ni Made Kusuma Dewi menilai perlambatan pertumbuhan GMV e-commerce Indonesia yang tertuang dalam laporan Momentum Works itu bukan berarti mencerminkan penurunan transaksi UMKM.

Ia merujuk pada laporan Cube bertajuk Indonesia Retail Market Report and Forecast 2026 - 2034, perilaku konsumen juga semakin mengarah pada pola omnichannel. Ia menjelaskan, sekitar 38% konsumen mengombinasikan pengalaman belanja online dan offline.

“Hal ini menuntut para pelaku usaha untuk melakukan integrasi sistem serta meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan secara menyeluruh,” ujar Dewi kepada Katadata.co.id, Selasa (21/4).

Ia mengatakan, e-commerce tetap menjadi kontribusi terbesar ekonomi digital Indonesia, yang diperkirakan US$ 99 miliar atau Rp 1.700,4 triliun, merujuk laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company.

“Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia masih menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara,” kata dia.

Ia memastikan, saat ini sektor perdagangan di Indonesia tengah mengalami transformasi yang signifikan. Sebagai respons terhadap dinamika ini, Dewi mengatakan para pelaku usaha dituntut melakukan penyesuaian dan inovasi guna memenuhi ekspektasi konsumen yang kian berkembang.

Pada prinsipnya, ia memastikan pemerintah terus mendorong agar platform digital dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pelaku UMKM. “Ini termasuk dalam hal akses pasar, peningkatan kapasitas, dan keberlanjutan usaha,” ujar Dewi.

Momentum Works yang berbasis di Singapura sebelumnya menilai bahwa pertumbuhan GMV e-commerce di Indonesia hanya tumbuh 2,2% karena Bukalapak yang beralih fokus dan rasionalisasi GMV Tokopedia.

“Nilai transaksi Shopee dan TikTok Shop di Indonesia secara gabungan turun 36%,” demikian dikutip.

Di Indonesia, Shopee masih memimpin dengan pangsa pasar 54%. Disusul Tokopedia dan TikTok Shop 38%.

Secara keseluruhan, GMV platform e-commerce Asia Tenggara tumbuh 22,8% menjadi US$ 157,6 miliar. Hal ini seiring platform-platform utama kembali tumbuh, sambil terus meningkatkan infrastruktur, pemenuhan pesanan, dan pengalaman pelanggan.

“Namun, di luar pertumbuhan yang terlihat di permukaan, industri ini memasuki fase baru yakni persaingan bukan lagi tentang ekspansi, tetapi semakin tentang kontrol atas peningkatan permintaan, pemenuhan pesanan, dan margin keuntungan,” demikian dikutip.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hormuz Memanas, Siap-Siap Perang Besar
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sengketa Lahan Goa Gong, Ahli Waris Minta Kompensasi Rp20 Miliar
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Marselino Ferdinan Kembali Latihan Bersama AS Trencin, Seberapa Besar Kans John Herdman Memilihnya ke Timnas Indonesia?
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
KAI Buka Rute Kereta Api Bandung- Banyuwangi Tanpa Transit Mulai 1 Mei
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
UU PPRT Disahkan, Banyu Biru: Negara Akhirnya Hadir Lindungi Pekerja Rumah Tangga
• 1 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.