Kartini Masa Kini: Akademisi Perempuan Dorong Kesetaraan Lewat Pendidikan dan Keteladanan

terkini.id
8 jam lalu
Cover Berita

Terkini, Makassar — Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan terus hidup dalam kiprah akademisi masa kini.

Hal ini tercermin dari sosok Dr. Wadzibah Nas., S.E., M.M, yang akrab disapa Dhiba, seorang dosen yang aktif mendidik sekaligus membentuk karakter generasi penerus bangsa.

Dhiba menegaskan, perempuan masa kini merupakan representasi nyata dari cita-cita Kartini. “Kita tidak hanya berpendidikan, tetapi juga menjadi pendidik bagi generasi berikutnya. Ini adalah bentuk nyata perjuangan yang terus berlanjut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, akses pendidikan di era modern harus terbuka luas tanpa memandang gender maupun latar belakang sosial.

Salah satu wujudnya terlihat pada sistem pembelajaran fleksibel yang diterapkan di Universitas Hasanuddin melalui Sekolah Pascasarjana.

Dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau hybrid, mahasiswa kini dapat menempuh studi magister (S2) hingga doktoral (S3) dari berbagai wilayah, bahkan hingga luar negeri.

“Pendidikan saat ini tidak lagi dibatasi ruang dan waktu. Ini menjadi peluang besar untuk menciptakan kesetaraan akses ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Sebagai akademisi, Dhiba menekankan pentingnya konsistensi dalam menuntut ilmu. Ia menyebut riset, publikasi, dan karya ilmiah sebagai “senjata intelektual” dalam membentuk pola pikir masyarakat yang lebih maju dan kritis.

Dalam perannya sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi, Dhiba tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi mentor dan teladan. Ia aktif mendorong mahasiswa untuk berani berpendapat, memimpin diskusi, serta membangun kepercayaan diri.

“Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa, ‘idemu bagus, sampaikan saja.’ Salah dan benar adalah bagian dari proses belajar,” katanya.

Di balik perannya, Dhiba mengakui tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai dosen dan sebagai ibu. Namun, hal tersebut diatasi dengan manajemen waktu yang disiplin, serta komitmen terhadap profesionalisme dan integritas.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun generasi yang inklusif dan berwawasan multikultural.

Menurutnya, kesetaraan menjadi kunci untuk membuktikan bahwa kepemimpinan dan prestasi bukan monopoli satu gender.

Dhiba juga menerapkan pendekatan personal kepada mahasiswa dengan menyediakan ruang dialog, guna memahami persoalan yang mereka hadapi dan membantu mereka mengambil keputusan secara tepat.

“Mahasiswa harus kuat, baik secara mental maupun fisik, untuk menghadapi persaingan di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.

Kepada generasi muda yang ingin berkarier di dunia akademik, Dhiba berpesan agar menjadikan ilmu sebagai kekuatan utama, membangun jejaring, serta menjaga kualitas dan integritas diri.

Dalam refleksi Hari Kartini, ia menutup dengan pesan moral melalui pepatah Arab, “Al-adabu fauqol ‘ilmi” (adab lebih tinggi dari ilmu).

“Ilmu tanpa adab bisa menjerumuskan. Sebaliknya, adab menjadikan ilmu bermanfaat dan membawa keberkahan. Bahkan seseorang lebih dihargai karena adabnya daripada ilmunya,” tegasnya.

Ia juga mengajak generasi muda untuk berani melangkah, bermimpi, dan bersuara, sejalan dengan hadis Nabi Muhammad: “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat)” (HR. Muslim).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPJS Ketenagakerjaan Surabaya Darmo Gandeng ASPERINDO Perluas Perlindungan Mitra Anggota
• 2 jam lalurealita.co
thumb
Perdana, Layanan Mecca Route Hadir di Bandara Sultan Hasanuddin
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hari Pertama UTBK-SNBT Ditemukan Sejumlah Praktik Kecurangan
• 1 jam lalunarasi.tv
thumb
Pigai: Pendapat Saiful Mujani Tentang Makar Tidak Dijamin Konstitusi!
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Apple Punya CEO Baru! Ini Profil John Ternus dan Strateginya di Era AI
• 6 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.