MALANG, KOMPAS - Tingkat kegempaan di Gunung Semeru di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, masih fluktuatif. Oleh karena itu, status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih dipertahankan pada Level 3 atau Siaga.
Sepanjang 16-20 April 2026, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat 318 kali gempa letusan atau erupsi. Selain itu terjadi 1 kali gempa guguran awan panas, 12 kali gempa guguran, dan 71 kali gempa embusan.
Ketua Tim Kerja Gunung Api PVMBG, Badan Geologi, Heruningtyas Desi Purnamasari, Selasa (21/6/2026), memaparkan, aktivitas erupsi Semeru masih terekam. Aktivitas yang paling dominan adalah kegempaan embusan. Embusan ini adalah salah satu aktivitas dari pelepasan energi.
“Jadi memang yang dominan saat ini di embusan dan aktivitas erupsinya. (Dibanding kondisi sebelum 16 April) kegempaan yang terjadi saat ini memang masih fluktuatif. Awal April menurun, pertengahan April meningkat, dan sekarang mulai menurun lagi,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Oleh karena itu, menurut Heruningtyas, saat ini yang paling perlu diantisipasi adalah terjadinya awan panas yang ditimbulkan dari guguran tumpukan material di area kawah. Saat gugur, material itu bisa menjadi aliran awan panas atau aliran piroklastik.
Biasanya, awan panas di Semeru bisa terjadi karena aktivitas guguran, selain karena adanya erupsi. Yang tidak kalah penting dan perlu diwaspadai adalah lahar karena di wilayah Semeru masih sering terjadi hujan lebat.
“Ketika air hujan bercampur dengan material erupsi maka dapat menyebabkan lahar. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dengan adanya lahar dan aliran awan panas,” katanya.
PVMBG sendiri masih menerapkan beberapa rekomendasi, yakni masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara, di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer (km) dari pusat erupsi.
Di luar jarak itu, masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Sebab, area pada jarak itu berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah karena rawan bahaya lontaran batu pijar. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Adapun sepanjang Selasa (21/4/2026) pagi hingga pukul 09.00 WIB, Semeru setidaknya telah tiga kali erupsi dengan kolom abu tertinggi mencapai 1.000 meter dari kawah. Rinciannya, masing-masing pukul 05.41 WIB, 05.51, dan 07.05.
Visual letusan pada erupsi pukul 05.41 tidak teramati, tetapi tercatat dalam seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter (mm) dengan durasi 113 detik. Sepuluh menit kemudian, Semeru kembali erupsi dengan tinggi kolom mencapai 700 meter dari puncak. Kolom abu berwarna putih-kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya.
Sementara pada pukul 07.05, tinggi kolom erupsi Semeru mencapai 1.000 meter ke arah barat. Erupsi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dengan durasi 182 detik.
Sehari sebelumnya, yakni pada Senin (20/4/2026), Semeru erupsi hingga enam kali dengan tinggi kolom abu maksimal 600 meter. beberapa letusan di antaranya tidak teramati secara visual. Pada Minggu (19/4/2026) juga terjadi luncuran awan panas guguran dari puncak Semeru ke arah Besuk Kobokan sejauh 4 km.
Saat dihubungi secara terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Abdulrachman Saleh Malang, Purwo Cahyo Widhiatmoko, mengatakan, sejauh ini erupsi Semeru belum berdampak pada penerbangan di bandara tersebut meski kolom abu kerap mengarah ke barat. “Alhamdulillah operasional penerbangan aman. Penerbangan lancar,” ujarnya.
Sebelumnya, erupsi Semeru sempat beberapa kali mengganggu penerbangan di Abdulrachman Saleh, antara lain pada Januari 2024 dan Agustus 2023 yang membuat beberapa penerbangan dialihkan ke Juanda di Sidoarjo.





