Di tengah perhatian ketat pemerintah AS terhadap situasi Iran, Presiden AS Donald Trump pada 19 April mengungkapkan bahwa telah terjadi konflik internal di Iran, dan hingga kini belum ada pihak yang menjadi pemenang.
EtIndonesia. Dalam wawancara dengan Fox News pada 19 April, Trump mengatakan bahwa di bawah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, berbagai lapisan kepemimpinan Iran telah “dihancurkan”. Akibatnya, Iran kini berada dalam kondisi tidak stabil dan terjadi perebutan kekuasaan.
Ia menyebut bahwa terjadi pertikaian antara kelompok moderat dan kelompok garis keras di Iran, dan belum ada pihak yang unggul.
Belakangan ini, Iran juga mengalami sejumlah kebijakan yang berubah-ubah, seperti penarikan cepat keputusan untuk membuka kembali Strait of Hormuz, serta fakta bahwa tim perunding tidak memiliki kewenangan keputusan akhir.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada 17 April mengumumkan melalui platform X bahwa Selat Hormuz dibuka kembali. Namun, kurang dari 24 jam kemudian, komando militer gabungan Iran membatalkan pernyataan tersebut dan kembali mengumumkan penutupan selat, bahkan menggunakan kapal cepat untuk mencegat dan menyerang kapal yang melintas, sehingga sejumlah kapal dagang terpaksa berbalik arah.
Menurut laporan The Wall Street Journal, rekaman komunikasi pelaut di Teluk menunjukkan seseorang yang mengaku sebagai anggota angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps memperingatkan melalui radio bahwa Selat Hormuz masih ditutup dan kapal harus mendapat izin untuk melintas.
Orang tersebut juga menyatakan bahwa mereka hanya akan mengikuti perintah pemimpin tertinggi Mojtaba Khamenei, bukan pernyataan yang diposting oleh menteri luar negeri di media sosial.
Sementara itu, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi mengkritik tindakan Araghchi yang mengumumkan kebijakan melalui X, dengan menyebut pernyataannya “sangat tidak tepat dalam penyampaian informasi”.
Seorang anggota parlemen garis keras Iran, Mahmoudi, bahkan menyerukan agar Araghchi diganti.
The Wall Street Journal juga mengutip pakar keamanan Iran, Saeid Golkar, yang menyatakan bahwa kematian “penengah utama” Khamenei telah menyebabkan perpecahan dalam rezim Iran, dan konflik antar faksi kini mulai muncul.
Dalam pernyataannya pada 19 April, Donald Trump secara langsung menuding Garda Revolusi sebagai pihak yang cenderung bersikap keras. Ia mengatakan bahwa jika mereka tidak menerima kesepakatan yang diajukan Amerika Serikat, maka akan menghadapi konsekuensi serius.
Trump juga menyebut bahwa putaran kedua perundingan antara AS dan Iran di Islamabad akan dimulai pada Selasa malam (21 April waktu AS Timur).
Sumber : ntdtv.com





