EtIndonesia. Pernyataan keras dari pihak Iran pada akhir pekan lalu kembali membuat situasi di Timur Tengah berada di ambang konflik berbahaya. Pengamat melihat bahwa terjadi perpecahan serius di dalam Teheran, bahkan muncul kondisi kacau seperti “dua pemerintahan dalam satu negara”.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada 18 April secara darurat menggelar rapat di Situation Room, memicu spekulasi bahwa perang bisa kembali pecah.
Perpecahan internal Iran terlihat jelas di Selat Hormuz: meskipun Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan jalur laut terbuka, Garda Revolusi tetap mengendalikan lalu lintas dan terus mengganggu kapal-kapal yang melintas.
Analisis menunjukkan bahwa perubahan situasi saat ini menandakan bahwa kubu pro-damai—termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Presiden Masoud Pezeshkian, dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi—sedang berada di bawah tekanan besar dari kubu garis keras seperti Garda Revolusi.
“Kubu pro-damai sebenarnya ingin bernegosiasi. Entah mereka benar-benar tidak ingin berperang, atau hanya untuk menghindari kehancuran Iran di masa depan sebagai langkah sementara, mereka cenderung bersedia menerima syarat dari Trump. Namun kubu garis keras sama sekali tidak mengizinkan hal itu,” kata pembawa acara “Jingyuan Talk”, Tang Jingyuan.
“Dan saat ini, mereka jelas memegang kendali atas situasi politik Iran. Mereka menjadikan negosiasi sebagai strategi untuk menahan dan menguras Amerika, sekaligus memberi waktu bagi diri mereka untuk bernapas,” tambahnya.
Media “Iran International” melaporkan bahwa seorang penasihat senior dari komandan Garda Revolusi mengancam bahwa jika konflik saat ini berlanjut, dapat meningkat menjadi perang global, serta mengklaim Iran telah siap untuk kembali berperang.
Tang Jingyuan menambahkan: “Kubu garis keras terutama terdiri dari kelompok ekstrem dengan keyakinan religius apokaliptik. Terutama Garda Revolusi dan kelompok ulama. Terhadap kelompok fanatik seperti ini, hampir mustahil mengharapkan mereka duduk dan bernegosiasi secara rasional hingga menyerah.”
Analisis juga menunjukkan bahwa di meja perundingan di Islamabad, delegasi Iran tidak hanya menghadapi tekanan dari Amerika, tetapi juga tekanan politik dari dalam negeri.
Sementara itu, Amerika Serikat sedang mengerahkan kekuatan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden Trump juga mengadakan rapat darurat di Situation Room pada 18 April, membuat situasi Iran kembali memanas.
Perjanjian gencatan senjata antara AS dan Iran akan berakhir pada 22 April, dan dunia kini memantau dengan cermat arah perkembangan situasi.
Laporan oleh reporter NTD, Fu Yu.





