Bangkit dari KDRT, Kisah Ida Taklukkan Sungai Penuh Sampah demi Cita-cita Anak

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Derasnya aliran sungai tak pernah menyurutkan langkah Iin Kurniasih (43) bekerja demi merajut mimpi sang anak yang memiliki kondisi gangguan perkembangan otak.

Di tengah aliran air yang penuh sampah dan berwarna hitam, perempuan berseragam oranye hijau ini rela menenggelamkan setengah badannya ke dalam air demi membersihkan sampah di permukaan.

Berbekal alat serok hasil rakitan dari batang kayu dan penutup kipas angin, Iin berpijak pada rangkaian kubus apung, menarik tumpukan sampah plastik dan dedaunan yang tersangkut di sekatan sungai.

Baca juga: Dari Air Mata ke Prestasi: Perjuangan Ibu di Bekasi Besarkan Anak Down Syndrome

Semua peluh dan lelah yang ia telan setiap hari bermuara pada satu tujuan.

Mewujudkan mimpi besar anak keduanya, Reza Setiawan (15), yang bercita-cita menjadi seorang masinis kereta api.

Iin adalah petugas perempuan pertama di Unit Pengelola Sampah (UPS) Badan Air Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat dan mewarisi semangat Kartini di hidupnya.

"Kita kan namanya kerja ya, enggak perlu lihat perempuan atau bukan, disamakan dengan laki-laki. Namanya kerja di air, kita harus berani dong di air, nyari sampah. Jangan takut sama air, jangan takut kotor juga, demi menghidupi anak," ujar Iin saat ditemui Kompas.com di aliran Kali PHB Taman Aries, Kembangan, Jakarta Barat, Selasa (21/4/2026).

Mimpi besar di tengah keterbatasan

Perjuangan Iin yang setiap harinya berendam di air sungai menjadi asa bagi kelangsungan pendidikan Reza yang kini duduk di bangku kelas enam Sekolah Luar Biasa (SLB) di Cengkareng, Jakarta Barat.

Reza mengalami gangguan perkembangan otak dan keterlambatan intelektual yang membuat perkembangannya sebagai seorang anak cukup terhambat.

Kondisi itu terjadi karena sang anak pernah mengalami benturan di bagian kepala saat masih kecil dan juga kondisi kehamilan yang tidak sehat imbas kelamnya masa lalu rumah tangga Iin.

Himpitan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialaminya membuat Iin tak pernah memeriksakan kandungan ke dokter.

Ia hanya mampu mengonsumsi obat warung, hingga melahirkan di luar rumah sakit.

"Entah apa karena waktu saya hamil dia itu sering dipukul atau seperti apa, saya enggak tahu ya. Tapi dia memang beda dari yang lain, saya enggak sanggup periksa ke dokter dulu, bahkan lahiran aja saya enggak di rumah sakit, cuma dibantuin sama dukun beranak waktu itu," ucap Iin sambil menahan air mata.

Baca juga: KAI Tambah Fasilitas Ramah Perempuan, dari Kursi Khusus hingga 120 Ruang Laktasi

Meski memiliki keterbatasan, Reza adalah pelita kebanggaan Iin.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Remaja yang akan segera genap berusia 16 tahun itu kini mulai mahir membaca, menulis, bahkan kerap memenangkan lomba yang diikutinya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respons Pemprov Banten Usai PT ABM Digeledah Kejati Terkait Kasus Korupsi
• 4 jam laludetik.com
thumb
Percepat Transisi Energi Nasional, Proyek Bioetanol Lampung Memasuki Tahap Baru
• 53 menit lalukumparan.com
thumb
Perang Iran: 13 Personel Militer AS Tewas dan 415 Terluka dalam Operasi Epic Fury
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kebakaran Gedung Kemendagri Pasar Minggu Hanguskan Sebagian Rumah Warga
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PKS Keluarkan Surat Ganti Khoirudin dari Jabatan Ketua DPRD DKI
• 7 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.