Ratusan Hektare Sawah di Takalar Terancam Gagal Panen Akibat Kekeringan

harianfajar
3 jam lalu
Cover Berita

HARIAN FAJAR, TAKALAR – Ketika pemerintah pusat sibuk menggaungkan program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional, pemandangan berbeda justru tersaji di Kabupaten Takalar.

Sawah mengering, petani menunggu, dan air tak kunjung mengalir. Hal ini terjadi di Desa Moncongkomba, Kecamatan Polongbangkeng Selatan. Paling parah terjadi di Bonto Lebang I hingga Lingkungan Campagaya – Pangkajene serta Dusun Bonto Lebang II.

Krisis air bukan lagi isu, tapi kenyataan yang dirasakan setiap hari. Bahkan sungai kecil yang selama ini menjadi “opsi terakhir” kini ikut juga menyerah karena kekeringan.

“Belumpi ada air. Sungai kecil juga sudah habis. Kalau air diarahkan ke sungai saja, minimal petani masih bisa pompa,” ungkap salah satu warga, dengan nada yang mulai kehilangan harapan, Selasa, 21 April 2026.

Ironinya sederhana tapi menyakitkan, petani sudah menanam padi untuk tahap kedua. Namun, pasokan air juga tak pernah datang.

Di Kecamatan Mangarabombang, cerita serupa juga berulang, sekitar 400 hektare lahan di Desa Lengkese dan 200 hektare di Desa Bontomanai berada dalam kondisi kritis.

Polanya sama tanam dahulu, air belakangan. Atau mungkin, tidak sama sekali. Lalu pertanyaannya, ini program ketahanan pangan, atau ketahanan sabar?

Pemerintah daerah bukannya tanpa respons. Kepala Dinas Pertanian Takalar, Parawansyah, menyebut pihaknya telah menyurat ke BBWS Pompengan Jeneberang untuk pembukaan pintu air.

“Sudah disurati balai, semoga cepat direspons,” ujarnya singkat.

Sebuah jawaban yang terdengar rapi di atas kertas, tapi terasa kosong di tengah sawah yang retak. Sebab bagi petani, musim tanam tidak mengenal istilah “menunggu disposisi”.

Di sisi lain, Pengamat Bendung Pamukkulu, Jamaluddin, SH (Daeng Lallo), mengakui adanya persoalan distribusi yang belum tuntas.

“Kami akan turun langsung mengawal agar tidak ada hambatan,” katanya.

Publik tentu menghargai niat itu. Tapi pengalaman mengajarkan, kata “akan” sering kali datang terlalu sering – dan terlambat.

Di titik ini, persoalan Takalar tak lagi sekadar teknis irigasi. Ia berubah menjadi cermin dari lemahnya sinkronisasi kebijakan, pusat bicara produksi, daerah belum mampu memastikan distribusi air.

Yang lebih menggelitik, di tengah kondisi ini, publik justru lebih sering melihat seremoni, slogan, dan narasi keberhasilan. Sementara di lapangan, petani justru sedang belajar satu hal baru, bertahan tanpa kepastian. (mgs)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: Mantan Kadis LH DKI Tersangka
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Tiba-Tiba Empat Mata dengan Luhut, Ini yang Dibahas
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Plastik yang Menolak Mati
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
UU PPRT Resmi Disahkan di Paripurna, Jadi Kado Indah Hari Kartini
• 9 jam laludisway.id
thumb
RI Sasaran Empuk Hacker Backdoor, Catat Kasus Paling Tinggi di Asia Tenggara
• 3 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.