Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ambang konflik terbuka. Teheran secara resmi menolak tawaran negosiasi dari Washington menyusul ancaman berkelanjutan dan aksi blokade laut yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump di wilayah perairan Iran.
Pihak Iran menyatakan telah menyiapkan opsi militer baru sebagai langkah antisipasi jika gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi oleh Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
Trump Ancam Iran Jika Kesepakatan Gagal
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 19 April 2026 sempat mengumumkan bahwa perwakilan Amerika akan terbang ke Islamabad untuk melakukan negosiasi. Namun, di saat yang sama, Trump memberikan pernyataan agresif terkait berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu, 22 April 2026.
Saat ditanya mengenai kemungkinan perpanjangan masa damai tersebut, Trump memberikan jawaban tegas. "Mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, tapi blokade akan tetap berlaku. Jadi, blokade akan tetap ada. Dan sayangnya, kita harus mulai menjatuhkan bom lagi," ujar Trump di hadapan media.
Ia juga menambahkan ancaman untuk menargetkan infrastruktur vital Iran jika Teheran tidak bersedia menerima persyaratan yang diajukan oleh Washington. Pernyataan ini langsung memicu kekhawatiran pasar global menjelang tenggat waktu Selasa malam.
Baca juga:
Iran Kecam AS atas Penyitaan Kapal di Selat Hormuz
Teheran Kecam 'Meja Penyerahan Diri'
Menanggapi ancaman tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengecam keras keputusan blokade laut yang dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata. Melalui platform X, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada intimidasi.
"Trump berupaya menggunakan ancaman untuk mengubah meja perundingan menjadi 'meja penyerahan diri' atau untuk membenarkan kembali peperangan," tulis Ghalibaf.
Pihak Teheran menuntut pencabutan blokade laut sebagai syarat mutlak sebelum memastikan partisipasi mereka dalam pertemuan di Islamabad. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi dan gencatan senjata berakhir tanpa hasil, Teheran memastikan seluruh kekuatan militer mereka telah berada dalam posisi siap tempur untuk menghadapi agresi di laut.




