Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (JK), kembali menanggapi polemik ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berujung laporan polisi. Ceramah itu mengungkit konflik Poso dan Ambon.
Setelah sebelumnya menyinggung barisan Termul, kini JK menyenggol politisi PSI, Ade Armando, yang turut mengkritik ceramahnya di UGM.
Hal itu disampaikan JK saat menggelar pertemuan dengan para tokoh yang terlibat dalam perdamaian konflik Poso dan Ambon di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/4).
"Terima kasih untuk pertemuan, pertemuan ini untuk memberikan situasi lebih baik," ujar JK dalam pertemuan tersebut.
"Saya mengundang bapak-bapak, teman-teman dari Ambon dan Poso untuk memberikan pengertian kepada kita semua, berbagi pengalaman," tambahnya.
Dalam kesempatan itu, JK menjelaskan bahwa ceramahnya di UGM sebenarnya membicarakan tentang proses perdamaian dunia dan nasional. Ia menyebut di Indonesia terdapat 15 konflik besar, di mana salah satu pemicunya adalah persepsi yang salah mengenai ajaran agama saat terjadi konflik.
"Saya bilang ada konflik karena agama. Konflik karena agama itu, kenapa? Karena tiba-tiba orang merasa bahwa kalau dia berjuang, mati atau mematikan, dia akan masuk surga. Itu kasus di Poso dan Maluku bukan keseluruhan, bukan keseluruhan," jelas JK.
Sejumlah tokoh agama yang hadir dari Poso di antaranya Pendeta Rudolf Metusala, Pendeta Rinaldi Damanik, Pdt. Jetroson Rense, Pdt. Dajaramo Tasiabe, Ustaz Sugianto Kaimuddin, Ustaz Muh. Amin, Ustaz Samsul Lawenga, dan Ustaz Mualim Fauzil.
Sementara dari Maluku hadir Pdt. Prof. John Ruhulessin, Prof. Hasbullah Toisutta, dan Ustaz Hadi Basalamah.
JK: Ade Armando, Dengar IniPertemuan tersebut berlangsung tertutup. Usai pertemuan, JK menggelar konferensi pers.
Pada kesempatan itu, ia menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang mempersoalkan pernyataannya dalam ceramahnya di UGM.
“Untuk teman-teman yang suka bikin gaduh, bikin fitnah ini. Ade Armando CS, dengar ini; Bapak-bapak ini yang pernah dulu mengalami keadaan pada waktu itu,” kata JK.
JK menegaskan pernyataannya merujuk pada fakta konflik 25 tahun lalu, bukan membahas doktrin agama.
“Apa yang saya sampaikan itu adalah hal yang terjadi di Poso dan Ambon, yang terjadi pada 25 tahun yang lalu,” ujar JK.
Bukan Penistaan AgamaJK kemudian meminta Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pendeta John Ruhulessin, menjelaskan konteks pernyataannya. Pendeta John menegaskan apa yang disampaikan JK adalah fakta sosiologis konflik, bukan penistaan agama.
“Pertama, apa yang dikemukakan oleh Pak JK di dalam ceramahnya adalah menyangkut Maluku dan Poso. Tidak ada yang menyangkut yang lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konflik saat itu dipicu penyalahgunaan agama sebagai legitimasi kekerasan.
“Kalau pada waktu itu doktrin agama itu diberlakukan, saya yakin tidak akan terjadi konflik di Maluku. Saya yakin tidak akan pernah terjadi. Tetapi justru ketika itu agama dipakai sebagai alat legitimasi kekerasan dan pembunuhan yang terjadi,” kata dia.
“Dan itu yang membuat mengapa orang saling membunuh. Dan saya kira itu fakta, tidak bisa kita ingkari. Saya pun ikut berdoa mengiring, orang pergi membunuh saya ikut berdoa. Saya kira itu fakta. Tidak bisa kita bohongi itu,” tambahnya
Pendeta John juga menegaskan bahwa JK tidak pernah bermaksud menista agama.
“Saya mau menegaskan apa yang dikemukakan oleh Pak JK tidak sama sekali bermaksud menista agama Kristen dalam hal ini,” ujar Pendeta John.
JK: Ade Armando Jangan Ngomong SeenaknyaMasih dalam kesempatan yang sama, JK juga minta Ade Armando tak asal bicara terkait konflik Poso-Ambon. Ia menyebut para tokoh yang terlibat langsung dalam konflik tersebut mengakui bahwa kondisi yang terjadi lebih berat dari yang selama ini ia sampaikan ke publik.
“Bahwa apa yang saya katakan itu benar semua. Mereka mengakui bahwa lebih hebat lagi daripada keadaan, lebih susah lagi. Jadi apa yang saya sampaikan ya keadaan pada waktu itu,” ujarnya
“Pelakunya sendiri Ketua Sinode, Pak Imam, Ustaz yang ada waktu itu ya menyatakan bahwa begini keadaannya, benar. Jangan Ade Armando ngomong seenaknya saja,” tegasnya.
Ia ingin publik memahami fakta yang sebenarnya terjadi saat konflik berlangsung. Lebih lanjut, JK mengatakan langkah ke depan diserahkan kepada para tokoh agama dan masyarakat untuk meluruskan informasi yang dinilai menyesatkan.
Terkait kemungkinan langkah hukum, JK menegaskan tidak akan menempuh jalur hukum dan menyerahkannya kepada masyarakat yang merasa dirugikan.
“Kalau yang merasa dipecah belah akan memajukan (proses hukum), terserah aja. Kan sudah ada teman-teman dari Maluku, NTT, dari Sulawesi karena dia merasa dengan itu mereka dipecah belah,” ujarnya
Ade Armando Bingung Dilaporkan ke Polisi soal Video JKAde Armando kini juga telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait video ceramah JK. Ia dilaporkan bersama Permadi Arya alias Abu Janda karena diduga melakukan aksi provokasi dan penghasutan dengan menyebarkan potongan video ceramah JK.
Laporan itu dilayangkan oleh aliansi advokat Maluku bersama unsur masyarakat Maluku. Laporannya teregister dengan nomor STTLP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 20 April 2026.
Terkait pelaporan ini, Ade mengaku bingung.
“Saya tidak paham mengapa saya dilaporkan," kata Ade saat dihubungi.
Ade juga mempertanyakan tudingan bahwa dirinya melakukan penghasutan melalui pernyataannya di media sosial terkait video JK.
“Itu yang saya tidak paham. Apa yang disebut penghasutan?” lanjutnya.
Ia berpandangan bahwa pernyataannya merupakan bentuk kritik terhadap pernyataan JK yang sempat menjadi polemik.
“Saya kan mengkritik pernyataan Pak JK bahwa dalam Islam, seseorang yang membunuh atau dibunuh orang Kristen akan masuk surga," tandas dia.





