Studi Ungkap Perempuan Lebih Rentan Jadi People Pleaser

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Dalam banyak hubungan, seperti pertemanan, keluarga, hingga hubungan romantis, perempuan sering kali diasosiasikan sebagai sosok yang lebih pengertian, sabar, dan rela mengalah.

Di satu sisi, hal ini terlihat sebagai kekuatan emosional yang membuat hubungan terasa hangat. Tapi di sisi lain, tanpa disadari, kebiasaan ini juga bisa mengarah pada pola people-pleasing, yaitu selalu menempatkan orang lain di atas diri sendiri.

Fenomena ini ternyata bukan sekadar asumsi, Ladies. Studi global yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences pada 2023 menunjukkan bahwa perempuan cenderung memiliki tingkat agreeableness dan empati yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Karakter ini membuat perempuan lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, sekaligus lebih terdorong untuk menjaga hubungan tetap harmonis.

Dalam keseharian, people-pleasing bisa muncul dalam bentuk yang terlihat sederhana. Misalnya, sulit mengatakan “tidak”, memilih diam saat tidak setuju, atau merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Hal-hal ini sering dianggap sebagai bentuk kepedulian, padahal jika terjadi terus-menerus, bisa membuat seseorang kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.

Menurut Natalie Lue, pakar hubungan asal Inggris, people-pleasing terjadi ketika seseorang menekan kebutuhan dan perasaannya sendiri demi mendapatkan penerimaan atau menghindari konflik.

“Kita menekan kebutuhan dan perasaan diri sendiri untuk menempatkan orang lain di atas kita, agar mendapat penerimaan atau menghindari konflik,” jelasnya. Pola ini sering kali terbentuk secara perlahan, bahkan tanpa disadari.

Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berdampak pada kesehatan mental. Rasa lelah, tertekan, hingga kehilangan batasan diri menjadi hal yang cukup umum dialami oleh people pleaser.

Mereka cenderung terus memberi, bahkan ketika tidak mendapatkan timbal balik yang setara. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan hubungan yang dijalani.

Namun, penting untuk dipahami bahwa menjadi pribadi yang peduli bukanlah sesuatu yang salah. Empati yang tinggi, kemampuan membaca situasi sosial, serta keinginan untuk menjaga hubungan tetap baik adalah kualitas yang berharga. Banyak hubungan yang justru terasa lebih hangat karena adanya sifat-sifat ini.

Jadi, people-pleasing tidak selalu harus dihilangkan, tapi perlu dikelola dengan lebih sehat. Belajar mengenali kebutuhan diri sendiri, berani menetapkan batasan, dan memahami bahwa tidak semua hal adalah tanggung jawab kita bisa menjadi langkah awal. Dengan begitu, kamu tetap bisa menjadi pribadi yang hangat tanpa harus kehilangan diri sendiri.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rencana MPR Pindah ke IKN, Siti Fauziah: Tergantung Arahan Presiden
• 20 jam laludetik.com
thumb
Gadget dalam Dunia Pendidikan: Membantu atau Mengganggu?
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Lotte Chemical Titan Pasok Naphtha ke Afiliasi Indonesia di Tengah Risiko Iran
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Hoaks Iuran BPJS 26 Kali Setahun untuk Guru ASN, Ini Penjelasan Resmi BPJS Kesehatan
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) Masih Menjadi Momok Kampus
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.