Oleh: KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia sedang bergerak menuju fase yang kian penuh ketidakpastian. Di tengah hiruk-pikuk isu domestik dan euforia angka-angka pertumbuhan, umat sesungguhnya tengah berhadapan dengan ancaman yang lebih mendasar: rapuhnya fondasi ekonomi global yang selama ini dijadikan sandaran.
Gejolak di Selat Hormuz dan Selat Malaka tidak dapat dipandang sekadar sebagai ketegangan kawasan atau gangguan teknis pelayaran. Ia adalah isyarat bahwa urat nadi perdagangan dunia dapat terguncang sewaktu-waktu, dan ketika itu terjadi, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah rakyat.
Baca Juga
Tak Tahan Lagi, Industri Eropa Terancam Mati Jika Tak Segera Deraskan Impor Minyak Rusia
Hungaria Murka: Ukraina Didesak Alirkan Minyak Rusia, Zelensky Dituding Mainkan Politik Energi Eropa
Analis Rusia: Perang Iran adalah Kekalahan Terbesar AS Sepanjang Sejarah
Dalam lanskap seperti ini, persoalannya bukan lagi semata pada naik atau turunnya harga energi, melainkan pada pertanyaan yang jauh lebih hakiki: sejauh mana sebuah negeri sanggup melindungi pangan, harta, dan kehidupan masyarakatnya ketika sistem global kehilangan kestabilan? Pada titik itulah, isu ketahanan logistik, cadangan pangan, dan kepemilikan aset riil kembali memperoleh makna strategis.
Tekanan yang terjadi di dua jalur maritim terpenting dunia menunjukkan betapa mudahnya ekonomi internasional terguncang oleh konflik, rivalitas kawasan, dan ketergantungan yang berlebihan pada rantai pasok global. Ketika distribusi energi tersendat, ongkos pengiriman melonjak, dan arus perdagangan kehilangan kelancaran, dampaknya tidak berhenti di ruang perdagangan internasional.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menjalar ke harga kebutuhan pokok, biaya produksi, daya beli rakyat, bahkan stabilitas sosial. Dalam situasi seperti ini, emas dan perak kembali dibicarakan sebagai aset pelindung nilai, sementara ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi tampil sebagai agenda yang tidak lagi bisa ditunda.
Hormuz dan ancaman terhadap stabilitas energi
Selat Hormuz adalah salah satu simpul paling penting dalam arsitektur energi global. Setiap gangguan di kawasan ini akan langsung dibaca pasar sebagai ancaman terhadap pasokan, biaya logistik, dan kestabilan harga.
Ketika jalur ini memasuki fase berisiko tinggi, yang bergerak bukan hanya kapal tanker, melainkan juga kecemasan pasar, kenaikan premi, dan bayang-bayang inflasi yang menekan negara-negara importir.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.