Anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir menyoroti kenaikan signifikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Kenaikan itu membuat masyarakat kelas menengah shock dan kaget.
Menurut Jalal, lonjakan harga yang terjadi dalam waktu singkat menunjukkan lemahnya aspek komunikasi publik dari pemerintah, sehingga masyarakat tidak memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi.
Baca juga: Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Tak Terhindarkan, Ekonom: Konsekuensi Logis
“Kelas menengah ke atas cukup shock, cukup kaget, karena pengumumannya sangat mendadak dan kenaikannya luar biasa,” ujar Jalal, Rabu (22/4/2026).
Dia mencontohkan kenaikan harga yang signifikan pada sejumlah jenis BBM non-subsidi dalam waktu singkat yang langsung dirasakan masyarakat di lapangan. “Saya merasakan dari sekitar Rp14.000–Rp15.000 menjadi Rp23.900. Kenaikannya sangat tinggi,” ucapnya.Kendati begitu, Jalal tetap mengapresiasi langkah pemerintah yang masih menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi dan elpiji 3 kg.Hal ini penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Baca Juga:Hari Kedua Lebaran 2026, Kampung Jati Jakarta Timur Masih Terendam BanjirDi sisi lain, dia menilai kenaikan BBM non-subsidi juga dapat dibaca sebagai sinyal kebijakan untuk mendorong percepatan transisi energi, khususnya menuju penggunaan kendaraan listrik. “Kita berharap ini mungkin dorongan agar masyarakat segera migrasi ke mobil listrik,” katanya.
Menurut Jalal, sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar, sehingga peralihan ke kendaraan listrik dapat menjadi langkah strategis dalam mencapai target pengurangan emisi nasional.
“Kalau kendaraan bisa migrasi ke listrik ini akan menjadi langkah besar menuju target net zero emission 2060,” ujarnya.
#nasional



