Model embarkasi haji berbasis hotel di Indonesia mulai diterapkan untuk pertama kalinya di Yogyakarta pada musim haji tahun 2026. Meski masih menunggu selesainya pelaksanaan dan evaluasi nanti, model ini digadang-gadang menggantikan asrama haji yang biaya pembangunan dan perawatannya mahal.
Sebanyak 354 jemaah haji embarkasi Yogyakarta menjadi yang pertama kali menikmati layanan pemberangkatan berbasis hotel tersebut pada Selasa (21/4/2026). Hotel yang digunakan adalah dua hotel berbintang yang tak jauh dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, yakni Novotel YIA dan Ibis YIA.
Novotel (bintang 4) menjadi tempat penerimaan dan pelepasan jemaah serta pusat administrasi dan berbagai layanan prakeberangkatan. Adapun Ibis (bintang 3) menjadi lokasi transit dan beristirahat para jemaah sambil menunggu jadwal penerbangan ke Tanah Suci. Kedua hotel itu berada dalam satu kompleks.
Seluruh rangkaian check-in kursi pesawat, bagasi, prosedur keimigrasian, dan pemeriksaan keamanan pun dilakukan di hotel. Dari hotel, jemaah langsung menuju pesawat tanpa melalui proses di terminal keberangkatan bandara lagi.
Gelombang keberangkatan jemaah embarkasi Yogyakarta masih akan terus mengalir hingga 21 Mei 2026. Total sebanyak 9.216 anggota jemaah yang terbagi dalam 26 kelompok terbang (kloter) dilayani melalui embarkasi tersebut.
Para anggota jemaah pun terkesan dengan embarkasi yang memanfaatkan hotel ini. Jemaah kloter 01 masuk hotel pada Selasa pukul 06.00 WIB dan bertolak ke Bandara YIA pada Selasa malam untuk terbang pada pukul 23.40 WIB.
Pelayanannya bagus. Se-Indonesia, baru Yogyakarta yang punya embarkasi seperti ini.
Farhan (33), anggota jemaah asal Kulon Progo, bersyukur bisa menikmati embarkasi berbasis hotel ini. Setiap kamar di Ibis YIA ditempati tiga orang. “Pelayanannya bagus. Se-Indonesia, baru Yogyakarta yang punya embarkasi seperti ini,” ujarnya.
Hartono (46), jemaah lainnya, menyebut fasilitas hotel berbintang itu sudah lengkap dan nyaman. Makanan yang disajikan pun kualitasnya baik.
Meski begitu, dia mengusulkan agar ke depan tempat shalat bisa disediakan di setiap lantai hotel. Hal ini akan memudahkan jemaah, terutama yang telah berusia lanjut atau memiliki kendala fisik.
Saat ini, tempat shalat hanya ada di lantai 1. “Kamar saya di lantai 7, jadi agak sulit setiap mau shalat harus turun ke lantai 1,” tuturnya.
Embarkasi tanpa melalui asrama haji di Yogyakarta ini pun sempat disinggung Menteri Haji dan Umrah M Irfan Yusuf. Dalam sambutannya usai melantik petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) 2026 di seluruh Indonesia, Jumat (17/4/2026), Irfan menyebut ini menjadi proyek percontohan nasional bagi pelayanan ibadah haji ke depan.
Dia menambahkan, jika berjalan baik, model embarkasi tanpa asrama haji dapat diterapkan untuk musim haji selanjutnya. Hal ini terutama untuk daerah-daerah yang berkeinginan menjadi embarkasi haji, tetapi tidak memiliki asrama haji.
Kemungkinan keberlanjutan model embarkasi berbasis hotel ini pun dipertegas Direktur Jenderal Bina Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Puji Raharjo. Usai melepas pemberangkatan kloter 01 embarkasi Yogyakarta, Selasa malam, Puji mengatakan, model ini merupakan kemajuan dalam pelayanan haji.
Model embarkasi yang tak memerlukan asrama haji ini juga dinilai bisa menekan ongkos haji. Sebagai contoh, dengan keberadaan embarkasi Yogyakarta, jemaah asal DIY dan sekitarnya tak perlu lagi berangkat lewat embarkasi Solo melalui Asrama Haji Donohudan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Puji mengatakan, karena titik penerbangan yang lebih dekat dengan domisili jemaah, biaya haji embarkasi Yogyakarta pun bisa lebih hemat Rp 300.000 per jemaah. “Ke depan, dengan jemaah haji yang lebih banyak, (biaya) akan lebih turun lagi karena dari sini (Bandara YIA) bisa pakai pesawat yang lebih besar,” tuturnya.
Harapannya, ke depan (dengan embarkasi hotel) tidak ada lagi masalah itu.
Dia pun berharap model embarkasi berbasis hotel ini bisa diteruskan ke depannya. “Ini menjadi model baru untuk mengatasi kesulitan membangun asrama haji,” kata Puji.
Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR Singgih Januratmoko. Komisi VIII DPR merupakan mitra kerja Kemenhaj di legislatif.
Menurut Singgih, model embarkasi hotel ini perlu didorong dan diperluas ke daerah lain yang belum memiliki asrama haji. Pasalnya, pembangunan asrama haji memerlukan biaya yang besar. Bukan hanya itu, ada pula biaya operasional dan perawatan yang harus ditanggung negara.
Dia menyebut, ada banyak asrama haji di beberapa daerah yang kondisinya mangkrak sehingga tak bisa dimanfaatkan. “Harapannya, ke depan (dengan embarkasi hotel) tidak ada lagi masalah itu,” ujarnya.
Di satu sisi, anggaran untuk membangun dan merawat asrama haji bisa dialihkan untuk keperluan mendesak lainnya, seperti untuk membangun sekolah atau madrasah. Di sisi lain, konsep embarkasi hotel ini juga akan menghidupkan industri akomodasi di sekitar bandara.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kemenhaj DIY Jauhar Mustofa menerangkan, Yogyakarta sebenarnya memiliki gedung asrama haji di kawasan Ringroad Utara, Kabupaten Sleman. Namun, asrama itu hanya bisa menampung total 260 anggota jemaah.
Padahal, diperlukan akomodasi yang pada satu waktu bersamaan bisa menampung setidaknya satu kloter jemaah atau 360 orang. Selain itu, jarak asrama haji dengan Bandara YIA pun terbilang jauh, yakni sekitar 50 kilometer, sehingga berpotensi menyulitkan proses pemberangkatan jemaah.
Karena itulah, pihaknya menjatuhkan pilihan pada embarkasi berbasis hotel di dekat Bandara YIA. Jauhar mengungkapkan, kajian dan survei sudah dilakukan sejak awal 2024 hingga akhirnya Kemenhaj memilih dua hotel tersebut.
Hotel pun memiliki sarana dan prasarana serta fasilitas yang lebih baik daripada asrama haji. Harapannya, hal ini bisa memberikan kenyamanan bagi jemaah sebelum menempuh perjalanan panjang ke Tanah Suci.
Terkait kelanjutan model embarkasi berbasis hotel ini, Jauhar mengatakan, pihaknya masih akan melakukan evaluasi setelah ibadah haji tahun ini berakhir. Namun, dia menyebut, kemungkinan besar untuk tahun depan model ini masih akan diterapkan.
Hal ini karena belum ada kemungkinan membangun asrama haji baru di sekitar Bandara YIA dalam waktu dekat. Selain membutuhkan anggaran besar, Jauhar menyebut, ada pula persoalan biaya operasional dan perawatan yang harus dipikirkan jika hendak mewujudkan asrama haji.
Dia menjelaskan, dalam setahun, asrama haji hanya efektif digunakan selama tiga bulan sejak jelang keberangkatan hingga kepulangan jemaah. Adapun 9 bulan lainnya asrama dalam keadaan kosong. “Kalau hanya untuk asrama, nanti negara malah rugi dan tidak efektif,” tuturnya.
Sementara itu, penggunaan hotel dinilainya jauh lebih efisien dari sisi anggaran. Ini karena hotel hanya dibayar selama pemakaian saja, yakni ketika proses embarkasi selama sekitar satu bulan.
Negara pun tak perlu mengurusi bangunan serta mengerahkan sumber daya manusia untuk pemeliharaan dan operasional asrama sepanjang tahun.





