REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada hari ini, Rabu (22/4/2026), kloter pertama jamaah haji Indonesia dijadwalkan menginjakkan kaki di Tanah Suci, Arab Saudi. Di balik antusiasme yang membuncah, terselip sebuah tantangan nyata berupa cuaca ekstrem, kerumunan jutaan orang, dan aktivitas fisik yang menuntut ketahanan prima, terutama bagi para jemaah lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki riwayat penyakit kronik.
Ibadah haji adalah ibadah fisik yang luar biasa intens. Pakar kesehatan masyarakat yang menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor di Griffith University Australia, Prof Tjandra Yoga Aditama, membagikan panduan krusial. Dia yang pernah menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dan Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Mekkah pada era 90-an, menekankan pentingnya memerhatikan rekomendasi terbaru dari laman Nusuk Haji Arab Saudi per 21 April 2026.
Baca Juga
Menteri Haji Saudi Cek Kesiapan Tenda Mina
Hal yang Boleh dan Dilarang Bagi Jamaah Selama di Asrama Haji
Haji Bukan Sekadar Perjalanan, Tetapi Pelajaran Kehidupan
"Sembilan rekomendasi ini harus menjadi perhatian serius, baik bagi jamaah itu sendiri maupun petugas kesehatan kita di lapangan," kata Prof Tjandra dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Rabu (22/4/2026).
Berikut ini sembilan rekomendasi kesehatan yang diberikan Prof Tjandra:
.rec-desc {padding: 7px !important;}
1. Konsultasi: kejujuran adalah kunci
Bagi jamaah dengan kondisi khusus seperti kanker lanjut, penyakit paru, jantung, ginjal, hati, hingga kepikunan (senilitas), langkah pertama adalah berbicara jujur pada ahlinya. Prof Tjandra mengingatkan jamaah untuk melakukan konsultasi kesehatan mendalam sebelum terbang.
Petugas membantu jamaah calon haji saat tiba di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (21/4/2026). Sebanyak 393 jamaah haji embarkasi Jakarta-Pondok Gede kelompok terbang (kloter) pertama tiba di Asrama Haji Pondok Gede dan akan diberangkatkan menuju Tanah Suci melalui Bandara Soekarno Hatta pada Rabu (22/4) dini hari. - (Edwin Putranto/Republika)
"Jamaah haji ini harus berkonsultasi pada petugas kesehatan untuk menilai kesiapan fisiknya dan juga kondisi kesehatannya secara keseluruhan," ujarnya. Mengetahui batas kemampuan diri bukan berarti menyerah, melainkan bentuk ikhtiar agar ibadah tetap berjalan lancar.